Berita Sikka
Lukas Percaya Tradisi Leluhur Tak Boleh Pakai Seng Bekas Bencana
Rumah rusak diterjang angin dan hujan lebat,Sabtu 30 Oktober 2021, Lukas Luju dan istri terpaksa menempati pondok penyulingan moke.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Korban-bencana.jpg)
Laporan Reporter TRIBUN FLORES.COM, Aris Ninu
TRIBUN FLORES.COM,MAUMERE-Hujan lebat disertai angin kencang, Sabtu 30 Oktober 2021petang merusakkan 29 unit rumah (bukan 25 unit rumah) di Dusun Blatat, Desa Tana Duen, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.
Ketika hujan dan angin muncul pada petang hari itu, Lukas Luju, dan istri berada di rumah. Musibah itu datang begitu cepat, tak terbayangkan olah ayah dua anak yang telah menjalani kehidupannya sendiri, berkeluarga.
Sebuah rumah sederhana yang lama ditempati Lukas, atapnya diterbangkan angin. Perabot rumah tangga, pakaian dan bahan makanan habis terkena bencana.
Kehilangan tempat tinggal, Lukas dan istri menempati pondok, tempatnya sehari-hari menyuling moke. Berharap ada bantuan pemerintah meringankan bebannya membangun kembali rumah.
Baca juga: KPUD Sikka Usulkan Rencana Kebutuhan Biaya Pilkada Rp 35,5 Miliar
“Saya dan istri terpaksa mengungsi dan tidur di gubuk, tempat kami menyimpan moke. Rumah saya rusak parah. Seng dan atap diterbangkan angin,” kata Lukas, Minggu 31 November 2021.
Lukas mengaku enggan menggunakan kembali seng yang diterpa angin membangun lagi rumahnya. Ia menuruti kepercayaan leluhur yang telah turun temurun.
“Barang yang sudah terkena bencana, saya tidak bisa pakai lagi karena sangat tidak baik sesuai kepercayaan dalam keluarga kami,”ujar Lukas.