Breaking News:

Berita Manggarai Barat

Labuan Bajo Punya Riwayat Tsunami Tahun 1836 dan 1855

Labuan Bajo dipilih menjadi lokasi sekolah lapang gempa bumi karena memiliki riwayat tsunami yang terjadi tahun 1836 dan tahun 1855.

Editor: Egy Moa
TRIBUN FLORES.COM/GECIO VIANA
Pembukaan Sekolah Lapang Gempa Bumi di Kantor Bupati Mabar, Rabu 10 November 2021. 

Laporan Reporter TRIBUN FLORES.COM, Gecio Viana

TRIBUN FLORES.COM,LABUAN BAJO-Koordinator Bidang Mitigasi, Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat memiliki sejarah tsunami.

Pada tahun 1836 dan 1855, Labuan Bajo dilanda tsunami, sehingga wilayah Labuan Bajo membutuhkan pengawalan untuk memitigasi bencana demi memberikan kenyamanan kepada masyarakat dan mendukung Pariwisata di Labuan Bajo.

"Dari aspek sejarah, di Labuan Bajo ini sudah pernah dua kali terjadi stunami, sehingga di Labuan Bajo ini sangat penting adanya pengawalan mitigasi bencana", ungkap Daryono, dalam pembukaan sekolah lapang
gempa bumi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Labuan Bajo, Rabu 10 November 2021.

Pelaksanaan sekolah lapang, kata Daryono, untuk meningkatkan pemahaman informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami kepada masyarakat.

Baca juga: Waspada La Nina, BMKG Ingatkan Potensi Longsor Di Manggarai Barat

Kelurahan Labuan Bajo dipilih sebagai lokasi sekolah lapang gempa bumi mengingat pariwisata Labuan Bajo yang menjadi prioritas. Selain letak kota yang berada di kawasan tektonik, sehingga sangat rawan gempa dan berpotensi tsunami.

Staf Ahli Bupati Mabar, Gayetanus Danggur berterima kasih atas penyelenggaraan kegiatan di Kelurahan Labuan Bajo melibatkan semua pihak yang akan mengambil bagian bila terjadi bencana yang tidak terduga di daerah tersebut.

Diakuinya, wilayah Flores bukan hanya rawan terhadap banjir, longsor dan angin puting beliung serta bencana lainnya. Namun sangat rentan terhadap gempa bumi. Hal tersebut dibuktikan dengan catatan terakhir bahwa di Pulau Flores pernah terjadi bencana pada 1992.

"Kegiatan ini nantinya untuk membentuk masyarakat siaga, yang nantinya dapat diakui secara internasional. Saya harap dengan adanya kegiatan ini Seluruh komunitas untuk paham. Sehingga, secara bersama kita dapat meminimalisir korban jiwa dan materi sebagai dampak dari bencana," katanya.

Berita Manggarai Barat lainnya

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved