Berita Sikka

Misionaris Lembata di Paraguay; Undangan Makan Siang Keluarga Cardoso Bikin Betah Pater Kornelis

Misionaris SVD,Pater Kornelis Boli Udjan,SVD telah 20 tahun menjalani tugas di negara Paraguay.Suka dan duka dijalani membuatnya setia dalam panggilan

Editor: Egy Moa
TRIBUN FLORES.COM/EGY MO'A
Misionaris SVD di Paraguay,Pater Kornelis Boli Udjan,SVD berada di depan Kapela Agung Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Kamis 20 Januari 2022. 

Perbedaan iklim, makanan sudah pasti, kata Frater Kornelis. Namun ketika kehadiran kita diterima baik, maka semua halangan bisa diatasi.  Karena kita merasa diterima. Kalau tidak, kita merasa ada blok, kita bisa stress. Tidak ‘at home’ di sana. Ketika di sana kita membandingkan di Indonesia begini, di sana begini. Itu tanda buruk. Tapi, masa awal masih frater bikin saya ‘at home.’

Bila dengan umat,dia  diterima. Justru kurang menyenangkan berada di pastoran. Pastor paroki di tempat tugasnya seorang imam asal Philipina. Memiliki hoby memancing. Setelah misa dia pergi mancing dan baru kembali pada hari Jumat.

“Saya pikir, saya seperti penjaga rumah saja. Saya sempat stres juga, tapi di lain pihak saya diterima juga oleh keluaraga. Saya pikir juga, kalau saya jauh-jauh dari Indonesia hanya jaga rumah, buat apa ini,”kenang Pater Kornelis penuh canda.

Berada dalam kondisi kurang nyaman, ia membagikan keluhannya kepada sekretaris misi dan provincial. Akhirnya dibuat semacam kontrak kerja, bagi tugas. Meski pilihan ini tidak menyelesakan masalah.

“Saya butuh orang lain, paling kurang pastor parokinya. Terlintas mau keluar, namun itu bukan solusinya,”katanya.

Suatu sore dengan mengayuh sepeda, Pater Kornelis berangkat main voli dengan anak-anak muda di Itapua. Dalam perjalanan, terlintas di benak, keluar bukan soluasinya.

“Saya mau menjadi imam. Dan, saya mau tunjukkan, saya menjadi imam yang baik.Itulah soluasinya. Jadi setelah saya jadi imam,saya berpikir tempat ini (Itapua) bersejarah, di mana saya memutuskan menjadi imam.

“Jadi kritik yang paling baik, bukan keluar. Protes. Saya mau tunjukkan, saya mau jadi imam, jadi jadi imam yang baik.

Setelah dithabiskan menjadi imam dan kembali ke tanah misi di Paraguay, sekali waktu  datang seorang ibu  yang sangat sederhana kepadanya.

Ibu berkata kepada Pater Kornelis, “kami selama  satu minggu, kami dengar berita buruk semua di media massa.Paling kurang sehari dalam sepekan ini, kami mendengar kabar gembira lewat kotbah pater,” terkenang Pater Kornelis.

Bermula permintaan perempuan sederhana itu, setiap menjelang hari Minggu, Pater Kornelis selalu menyediakan waktu menyiapkan kotbah yang baik.

“Di situlah saya lihat, orang sederhana biasa mengajarkan kepada kita. Kita mengenal mereka  apa yang mereka butuhkan. Jadi apa yang kita omong, bukan kita studi atau teori di sini. Kita harus  menjawabi kebutuhan rohani mereka di sana,” ujarnya.

Janganlah kita memakai bahasa kita. Pakailah bahasa mereka. Itulah  yang mereka butuhkan. Dari mereka, Pater Kornelis diterima di sana.

Itulah pengalaman yang paling mengesankan, yang menguatkan Pater Kornelis kokoh menjadi imam. Setelah menyelesaikan OTP di Itapua, ia kembali ke STF Ledalero menyelesaikan studi thelogia sampai dithabiskan  di kampung halaman di Kalikasas, 28 Juli 1999.

“Saya kembali lagi Paraguay. Penerima mereka dan budaya mereka membikin saya betah.” (bersambung)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved