Berita Sikka

'Nyepi' Lima Hari di Palue, Ritual Warga Melepas Amukan Tikus ke Laut

Amukan hama tikus menyerang tanaman pertanian hingga pakaian disimpan di rumah-rumah warga di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka mengkuatirkan.

Penulis: Egy Moa | Editor: Egy Moa
ISTIMEWA
Warga Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Pulau Flores menggelar ritual adat mengusir tikus, Jumat 11 Februari 2022. 

TRIBUN FLORES.COM, MAUMERE - Amukan serangan hama tikus terhadap tanaman pertanian hingga pakaian yang disimpan di rumah-rumah warga di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Pulau Flores telah mengkuatirkan para petani.

Warga setempat mempercayai serangan hama tikus merupakan murka alam kepada manusia. Penyelesaianya harus kembali kepada alam dan budaya, berdamai kembali dengan alam yang telah menyediakan makan dan minum.

Menghalau serangan hama tikus, warga Desa Kesokoja, Maluriwu dan Reruwairere di Palue menggelar ritual 'Tu Dheu'. Ritual warisan leluhur yang masih dipertahankan sampai saat ini, karena serangan hama tikus tidak bisa dibalas dengan cara-cara kasar dan keras.

Ketua Lembaga Adat Desa Reruwairere, Petrus Fidelis Cawa, mengatakan merajalelanya serangan tikus ini merupakan tanda-tanda alam.

Baca juga: Pemda Sikka Alokasikan 10 Proyek dari Pinjaman Daerah untuk Kecamatan Palue

"Jalan satu-satunya harus menggelar ritual adat, agar tikus tidak menyerang tanaman warga setempat," kata Petrus, Minggu 13 Februari 2022.

Ia mengatakan serangan hama tidak bisa dibalas dengan pembasmian dan penyemprotan. Mereka percaya dengana ritual adat, secara perlahan tikus itu akan hilang dengan sendirinya.

"Ritual ini ingin menyampaikan pesan kepada tikus agar jangan merusakkan tanaman masyarakat maupun gangguan tikus lainnya," ungkap dia.

Ritual berlangsung lima hari, 11-15 Februari 2022 mewajibkan keterlibatan seluruh warga demi kelangsungan hidup manusia. Tua-tua adat, mosalaki, anak muda dan semua elemen harus terlibat. Warga dari tiga desa itu wajib membawa tikus yang diisi dalam bambu yang dalam bahasa daerah disebut 'Rata'.

Baca juga: Gunakan Sepeda Motor, Bupati Sikka Fransiskus Diogo Tinjau Pembangunan Jembatan Oje Ubi di Palue

"Di dalam bambu berukuran 30 cm diisi tikus diletakan di sampan. Kemudian sampan dilepas di laut bersama tikus-tikus," jelas Petrus.

Selama berlangsung prosesi ritual, warga membunyikan gendang dan warga lainnya menari. Mereka mengenakan pakaian adat sarung hitam dipadu baju merah, kepala diikat kain merah sambil memegang tombak dan menari.

Selama hari kedepannya mulai dari tanggal 15 sampai 20 Februari 2022, warga di tiga desa itu dilarang beraktivitas kerja, melaksanakan keramaian atau bunyi-bunyian.

"Ritual ini mirip dengan suasana nyepi masyarakat Bali. Selama lima hari masyarakat tidak boleh aktivitas. Bunyi-bunyi apapun dilarang. Jadi lima hari itu benar-benar sepi dalam aktivitas," kisah Petrus.

Baca juga: Siswi di Maumere Sikka Jadi Korban Perbuatan Tak Senonoh

Ritual warisan leluhur, kata Petrus, selama ini dilakukan lima tahun sekali, meski kadang bergeser waktunya. Sedangkan tahun ini digelar Februari 2022.

Petrus bahagia bisa menggelar kembali ritual tolak bala warisan para leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan.Bagi Petrus, manusia yang hidup tidak bisa memisahkan diri dengan alam dan budayanya.

Berita Sikka lainnya

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved