Berita Manggarai Timur

Kisah Petani di Flores, Habis Tanam Padi Air Tidak Ada

Anggota DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Jemain Utsman, kepada TRIBUNFLORES.COM, juga membenarkan penyampaian warga itu.

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM/HO-WARGA
KERING - Kondisi padi yang terancam gagal panen di Desa Nampar Sepang, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur , Sabtu 19 Februari 2022. Kini sawah mereka sudah mengering akibat ketiadaan air, Sabtu 19 Februari 2022. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUNFLORES.COM, BORONG - Sekitar 300 lebih hektar sawah milik petani di Desa Nampar Sepang, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur terancam gagal panen.

Ruslan salah seorang petani setempat kepada TRIBUNFLORES.COM, Sabtu 19 Frebuari 2022, mengatakan sekitar 300 lebih hektar padi sawah milik petani di Desa Nampar Sepang sudah gagal panen, sebab tidak ada air yang mengairi persawahan padi itu.

Dikatakan Ruslan, sudah sekitar dua Minggu lebih tidak ada hujan di wilayah itu, debit air dari bendung D.I.Wae Nambas juga turun drastis sehingga air menuju saluran irigasi yang mengairi persawahan itu sudah kering.

"Tanahnya sudah pecah-pecah, air di saluran irigasi sudah kering. Memang persawahan ini juga adalah persawahan tadah hujan, tapi sudah 1 Minggu lebih ini sudah tidak ada hujan lagi,"ungkap Ruslan.

Baca juga: RSUD Borong Belum Miliki Ruang Isolasi Khusus bagi Pasien Covid-19, Ini Kata Dokter Yori

 

Ruslan juga mengakui mengalami kerugian sekitar Rp 15 juta akibat gagal panen padi sawah itu. Nilai kerugian sebesar itu dihitung dari pengadaan bibit, sewa kerja dan pengadaan pupuk.

Anggota DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Jemain Utsman, kepada TRIBUNFLORES.COM, juga membenarkan penyampaian warga itu.

Kata dia, berdasarkan laporan warga sekitar 300 lebih hektar padi sawah kering akibat tidak ada hujan sudah hampir 2 Minggu.

Kondisi sawah yang mengering di Desa Nampar Sepang
KERING - Kondisi sawah yang mengering di Desa Nampar Sepang, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

"Tanahnya pecah-pecah atau terbelah karena hujan sudah hampir2 Minggu tidak turun, air di saluran irigasi juga sudah kering. Memang area persawahan yang kering ini di D.I Wae Nambas adalah sawah tadahan jadi satu tahun sekali, jadi kalau tidak ada hujan spontanitas dari hulu sampai hilir kering,"jelas politisi PKS dari Desa Nampar Sepang ini.

Baca juga: BREAKING NEWS: Polisi Amankan Terduga Pelaku dan Penada HP Curian di Manggarai

Utsman, juga menjelaskan, untuk luas area persawahan di Nampar Sepang sekitar 1.000 hektar selain dari bendung D.I Wae Nambas, juga D.I Wae Tiwu Roang. Namun karena debit air berkurang akibat ketiadaan hujan, maka sebagai besar belum digarap, sedangkan sekitar 350 hektar sudah digarap petani, namun gagal.

Lanjut Utsman, pada tiga tahun lalu tim survei dari Kementerian PUPR Jakarta melalui Provinsi NTT, meminta dana dari APBN untuk penambahan debit air, sehingga semua lahan persawahan yang masih tidur itu bisa digarap semua karena sudah sistem irigasi penuh. Saat ini persawahan itu masih menggunakan tadah hujan dibantu dengan air dari saluran irigasi, namun debit air cukup kecil mengharapkan air meluap dari sungai. (*)

Berita Manggarai Timur Lainnya

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved