Berita Manggarai Timur

Mengenal Tradisi Tapa Kolo di Manggarai Timur

Adapun tapa kolo ini, hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Manggarai Timur pada khususnya. (*)

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM/ROBERT ROPO
KOLO-Tampak masyararakat sedang masak kolo yang diisi dalam bambu lalu dibakar, Minggu 6 Maret 2022. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUNFLORES.COM, BORONG - Setiap daerah tentu memiliki budaya atau tradisi masing-masing termasuk jenis makanan khas.

Di Manggarai Raya pada umumnya dan khususnya di Kabupaten Manggarai Timur, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki berbagai jenis makanan khas, salah satunya adalah kolo.

Kolo adalah nasi yang dimasak bukan menggunakan periuk atau rice cooker, namun dimasak menggunakan bambu.

Setiap ruas bambu dipotong lalu diisi dengan beras dicampur dengan air dan juga bisa ditambahkan bumbu dapur untuk menambah rasa seperti santan kelapa, kunyit untuk bahan pewarna dan bumbu lainnya.

Baca juga: Dinkes Manggarai Timur Klaim Kasus Stunting Alami Penurunan Periode Februari 2022

 

Untuk menjaga masakan bersih, biasanya sebelum isi beras, pada lubang bambu dialas pada setiap sisi menggunakan daun enau maupun daun kelapa. Kemudian pada tutupanya ditutup juga dengan menggunakan daun kelapa.

Cara masaknya dengan membakar di tungku api, sehingga oleh masyarakat setempat menyebutnya tapa kolo. Tapa artinya bakar, sehingga nasi bambu yang dimasak dengan cara dibakar. Untuk lebih nikmat rasanya saat menyantap kolo, bisa dengan sup santan daging ayam atau sup daging babi.

Salah seorang warga Manggarai Timur, Ges Olang, kepada TRIBUNFLORES.COM, Minggu 6 Maret 2022, menjelaskan Kolo merupakan makanan khas warga Manggarai Timur yang diwariskan leluhur di berbagai kampung dan desa.

Tapa kolo biasanya dilakukan dalam berbagai upacara adat masyarakat. Salah satunya saat penanaman padi sawah atau ladang.

Baca juga: Dr. Otto Gusti Madung Beri Apresiasi SEMA STFK Ledalero

Upacara tapa kolo ini biasanya juga dilakukan dengan penyembelian seekor ayam jantan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meminta nenek moyang dan juga penghuni sawah/ladang agar tanaman yang ditanam pada lahan sawah atau ladang itu dijauhkan dari segela bencana hama maupun penyakit.

Sehingga dengan harapan agar tanaman itu dapat tumbuh dengan subur. Dan tanaman itu dapat memberikan hasil yang melimpah.

Adapun tapa kolo ini, hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Manggarai Timur pada khususnya. (*)

Berita Manggarai Timur Lainnya

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved