Berita Maumere

Warga di Sikka Susah Akses Air Bersih, Ini Penjelasan Kepala PDAM Nita

Ia juga menawarkan solusi praktis kepada warga di sekitar dusun tersebut agar menjalin komunikasi yang baik.

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM / NOFRI FUKA
BERI KETERANGAN- Kepala PDAM Nita, Petrus Sasa saat memberikan keterangan kepada TRIBUNFLORES.COM, Jumat 11 Maret 2022. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Nofri Fuka

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Kepala PDAM Nita, Petrus Sesa, memberikan klarifikasi terkait persoalan warga Dusun Poma, Desa Takaplager, Kecamatan Nita yang mengeluh sulit akses bersih.

Pria yang akrab di sapa Petu ini mengungkapkan persoalan yang terjadi di Dusun Poma tersebut sudah terjadi beberapa tahun lalu dan belum menemui titik terang sebab ada satu dan dua alasan yang mendasari itu semua.

Menurut Petu, pihaknya selalu siap untuk melayani masyarakat terkhusus dalam mendistribusikan air kepada masyarakat yang membutuhkan.

Namun, yang menjadi persoalan adalah belum ada komunikasi yang baik antara masyarakat di Dusun tersebut dalam mengajukan permohonan untuk pengadaan PDAM di tempat mereka.

Baca juga: Warga di Sikka Susah Akses Air Bersih dari PDAM Nita

 

"Kita selalu siap melayani masyarakat, dalam mengadakan, maupun memperbaiki pipa yang rusak namun, diantara mereka belum ada komunikasi yang baik sehingga kita belum mengambil keputusan sebab untuk mengantisipasi terjadinya kericuhan diantara mereka, kalau soal siap, kita siap selalu," ungkap Petu saat ditemui TRIBUNFLORES.COM, Jumat 11 Maret 2022.

Ia juga mengaku, warga yang mengeluh atas nama Donatus Nong pernah menemuinya dan juga ketua dari kelompok 50 pernah menemuinya namun semuanya kembali kepada mereka.

Karena, menurut Petu, kelompok tersebut sudah ada berita acaranya terkait dengan pengadaan air bersih oleh PDAM Nita ini di Dusun itu yang ditandatangani oleh ketua kelompok dan pihak PDAM di Kabupaten Sikka.

Sedangkan ia tidak memiliki sangkut paut dengan berita acara tersebut sehingga untuk memulai proses agak rumit karena diantara warga belum sependapat soal merelakan pipa disekitar rumahnya dipakai untuk mengalirkan air ke warga yang mengeluh tersebut.

Adapun terkait dengan tagihan iuran Rp. 2000 tiap bulan yang dikumpulkan oleh warga (sempat disebut oleh Donatus Nong dalam wawancaranya dengan TribunFlores.com ssbelumnya) yang tergabung dalam kelompok 50 itu, pihaknya mengatakan tidak tahu menahu soal itu, itu merupakan keputusan dalam kelompok tersebut dan tak ada hubungannya dengan PDAM Nita.

Ia juga menawarkan solusi praktis kepada warga di sekitar dusun tersebut agar menjalin komunikasi yang baik.

Baca juga: Sempat Jadi Buronan, Polisi Bekuk Terduga Pelaku Penganiayaan Wartawan di Flores Timur

"Solusinya adalah warga di Dusun tersebut harus berdialog diantara mereka, sebab jika tidak, tindakan apapun dari PDAM Nita, tanpa persetujuan yang jelas dari masyarakat terkhusus dari kelompok itu akan menuai perpecahan bahkan kericuhan, sehingga saya tidak mau hal ini terjadi di masyarakat,"ujarnya.

Petu juga mengharapkan kerja sama yang baik antara pemerintah dengan masyarakat, terkhusus dalam membangun komunikasi yang baik dan saling mengerti satu sama lain demi kebaikan dan kesejahteraan bersama.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved