Berita Nagekeo

Tradisi Etu Nagekeo Didorong Masuk Event Nasional, Edy: Jadikan Healing Event

Tinju Etu sendiri biasanya dilakukan kaum laki-laki masyarakat adat di Kabupaten Nagekeo dan Ngada, Flores, NTT.

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM/HO-EDY
Pose bersama usai kegiatan bimbingan dari Kemenparekraf RI di Kupang, April 2022. 

Tak ada batasan waktu, dan tetap ada wasit meski ada beberapa hal yang berbeda seperti tinju pada umumnya, Tinju Etu tetap menggunakan wasit, bahkan lebih dari satu.

Ada tiga wasit yang disebut seka dalam pertarungan.

Para wasit itu dibantu 2 sike atau orang yang bertugas untuk mengendalikan petinju dengan cara memegang ujung bagian belakang sarung yang mereka kenakan.

Selain itu, wisatawan juga bisa melihat adanya petugas lain yaitu pai etu.

Fungsinya adalah untuk mencari para petarung yang siap bertanding di partai berikutnya.

Ada pula mandor adat yang bertugas mengawasi penonton agar tak masuk ke arena pertarungan.

Baca juga: Aset Tanah Kerangan Rp 1 Triliun Kembali ke Pemda Manggarai Barat

Tinju Etu juga bisa dilakukan oleh anak-anak atau biasa disebut etu coo.

Etu coo biasa dimainkan pada hari pertama sedangkan etu meze atau dewasa dilakukan pada hari berikutnya.

Pertarungan ini juga tidak dikenakan batas waktu.

Akhir pertandingan, petinju berpelukan Ada yang menarik dalam atraksi Tinju Etu ini.

Para petarung di akhir pertandingan saling berpelukan dan melambaikan tangan kepada penonton.

Hal itu yang melambangkan sikap atau simbol perdamaian, persaudaraan, dan persatuan.

Selain itu, juga karena motif atau latar belakang penyelenggaraan tinju adat ini adalah murni bagian adat untuk mempersatukan masyarakat.

Selain bisa menonton tinju adat, para wisatawan juga bisa menyaksikan bagaimana para perempuan mengambil peran sebagai penyemangat petarung melalui lagu daerah yang mereka nyanyikan.

Wisatawan juga bisa menikmati pertunjukan seni musik dan tari dari beragam sanggar seni tradisional Nagekeo pada malam sebelumnya.

Wisatawan bisa juga mendengarkan lantunan musik toda gu, yang merupakan musik khas daerah Nagekeo berupa alat terbuat dari bambu dan dimainkan secara bersamaan.

Apakah anda tertarik? Silakan datang langsung ke Nagekeo. (Kgg).

Berita Nagekeo lainnya

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved