Berita Nagekeo

Tradisi Etu Nagekeo Didorong Masuk Event Nasional, Edy: Jadikan Healing Event

Tinju Etu sendiri biasanya dilakukan kaum laki-laki masyarakat adat di Kabupaten Nagekeo dan Ngada, Flores, NTT.

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM/HO-EDY
Pose bersama usai kegiatan bimbingan dari Kemenparekraf RI di Kupang, April 2022. 

TRIBUNFLORES.COM, NAGEKEO - Tradisi Etu atau tinju adat khas Nagekeo didorong agar masuk dalam even nasional.

Kepala Bidang Pemasaran dan Promosi Dinas Pariwisata Nagekeo, Edy Due Woi, menjelasakan dirinya beberapa minggu yang lalu telah mengikuti bimbingan dari Kemenparekraf terkait event.

"Saya baru selesai dibimbing tim Kemenparekraf terkait event. Yang Saya Bawa itu Etu. Dapat masukkan yang luar biasa dari mereka sehingga Etu bisa masuk dalam event nasional. Salah satunya literasi. Narasi tentang etu. Yang pas dan punya nilai jual,"ujar Edy kepada TRIBUNFLORES.COM Selasa 12 April 2022.

Baca juga: Resmikan SLB Karya Ilahi, Presiden Direktur Henkel Ikut Bermain Musik Tradisional Khas Sikka

 

Kata Edy, tradisi Etu ini sangat unik dan menarik. Dimana dua pertarungan yang sangat emosional tapi tidak menyimpan rasa dendam dan berakhir damai. Serta memiliki syarat makna yang luar biasa.

"Setelah diskusi di Kupang minggu lalu, Etu akan sangat pas kalau di jadikan healing event. Karena hampir seluruh rangkaian Etu tengang pemurnian atau purifikasi. Nah Etu sendiri sebenarnya pola ritual yang kelihatan keras tapi sebenarnya sarat makna. Bagaimana Kita sering konflik karena diadu oleh orang lain. Lalu bagaimana peran Sike sebagai penasihat pribadi. Menjaga emosi Kita. Menahan emosi Kita. Lalu Kita dibatasi untuk bertarung pakai waktu, jangan emosi berkepanjangan. Diselesaikan dengan berdamai,"ujarnya.

Ia juga mengatakan beberapa hal penting lain yang pola judul event nanti seperti teknis penulisan berita atau ilmu Jurnalis. Ambil judul singkat yang terbaca antagonist akan sangat menarik minat pembaca. Dibandingkan judul yang positif. Sehingga lebih menarik lagi.

"Bagaimana orang-orang yang punya masalah bisa ikut rangkaian ritual ini untuk healing proses. Tidak perlu ikut tinju tapi bisa ambil bagian di semua rangkaian ritual yang sarat makna tersebut,"ujarnya.

Baca juga: Dihadapan Gubernur NTT, Petani di Mbay Minta Mesin Penggiling Padi

Ia menyebutkan tim Kemenparekraf sudah lama mendengar tentang Etu. Tapi mereka belum menemukan hal yang menarik tentang Etu. Menjual kekerasan adalah hal yang mereka hindari.

"Tapi setelah saya gambarkan detail ritual mereka sangat-sangat senang. Karena jadi ketemu nih literasi yang pas agar hal yang unik dan hanya ada di Nagekeo ini bisa menarik minat wisatawan jaman now yang baperan dan sering insecure. Atau anxiety begitu,"ujarnya.

Ia mengaku Kita masih lemah bagaimana menciptakan tema yang menarik dari ritual-ritual yang Ada. Padahal ritualnya sendiri selalu berjuang perdamaian atau syukur atau juga kemakmuran masyarakat.

Apa Itu Tradisi Etu?

Kabupaten Nagekeo merupakan satu diantara Kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di Nagekeo ada sebuah atraksi budaya yang bisa menjadi daya tarik pariwisata yaitu Tinju Etu.

Tinju Etu sendiri biasanya dilakukan kaum laki-laki masyarakat adat di Kabupaten Nagekeo dan Ngada, Flores, NTT.

Tinju Etu merupakan sebuah atraksi budaya sebagai salah satu rangkaian acara adat untuk memeringati hari menanam hingga panen kebun.

Baca juga: IRT Tewas Usai Dianiaya Gunakan Sajam, Ini Penjelasan Polisi

Biasanya, tinju Etu dilakukan setiap tahunnya pada kampung-kampung tertentu.

Selain itu, Tinju Etu juga merupakan bagian integral dalam rangkaian adat Nagekeo dan Ngada yang sudah berlangsung berabad-abad.

Tinju Etu juga merupakan bagian dari ritual adat lainnya yang wajib dilaksanakan di tempat tertentu, yaitu Kisa Nata atau alun-alun dan rumah adat atau sa'o waja.

Kedua tempat itu merupakan pusat dari aktivitas adat dan kebudayaan masyarakat Nagekeo dan Ngada.

Wisatawan bisa mengikuti rangkaian atraksi budaya itu, bahkan sejak sehari sebelumnya.

Ada serangkaian acara menarik yang diselenggarakan, seperti pertunjukkan seni musik dan tari dero.

Pada hari bertarung tiba, wisatawan akan melihat para petarung terbaik mewakili masing-masing desa.

Bukan sekadar bertinju, Etu hanya menggunakan satu tangan yang dibalut sarung tinju dari sabut kelapa Jika kamu berpikir Tinju Etu sama seperti tinju pada umumnya, kamu akan dikejutkan ketika melihat pemandangan yang berbeda.

Baca juga: Mahasiswa Tujuh Perguruan Tinggi Goyang Kota Kupang Hari Ini

Tinju Etu memang tak seperti tinju pada umumnya.

Para petarungnya hanya boleh menggunakan satu tangan yang dibalut sarung tinju terbuat dari sabut kelapa atau dalam bahasa setempat disebut Keppo atau Wholet.

Sarung tangan itu dililitkan ke tangan petarung.

Tangan satunya tak dilindungi sarung tinju dan hanya boleh digunakan untuk menangkis serangan.

Tak ada batasan waktu, dan tetap ada wasit meski ada beberapa hal yang berbeda seperti tinju pada umumnya, Tinju Etu tetap menggunakan wasit, bahkan lebih dari satu.

Ada tiga wasit yang disebut seka dalam pertarungan.

Para wasit itu dibantu 2 sike atau orang yang bertugas untuk mengendalikan petinju dengan cara memegang ujung bagian belakang sarung yang mereka kenakan.

Selain itu, wisatawan juga bisa melihat adanya petugas lain yaitu pai etu.

Fungsinya adalah untuk mencari para petarung yang siap bertanding di partai berikutnya.

Ada pula mandor adat yang bertugas mengawasi penonton agar tak masuk ke arena pertarungan.

Baca juga: Aset Tanah Kerangan Rp 1 Triliun Kembali ke Pemda Manggarai Barat

Tinju Etu juga bisa dilakukan oleh anak-anak atau biasa disebut etu coo.

Etu coo biasa dimainkan pada hari pertama sedangkan etu meze atau dewasa dilakukan pada hari berikutnya.

Pertarungan ini juga tidak dikenakan batas waktu.

Akhir pertandingan, petinju berpelukan Ada yang menarik dalam atraksi Tinju Etu ini.

Para petarung di akhir pertandingan saling berpelukan dan melambaikan tangan kepada penonton.

Hal itu yang melambangkan sikap atau simbol perdamaian, persaudaraan, dan persatuan.

Selain itu, juga karena motif atau latar belakang penyelenggaraan tinju adat ini adalah murni bagian adat untuk mempersatukan masyarakat.

Selain bisa menonton tinju adat, para wisatawan juga bisa menyaksikan bagaimana para perempuan mengambil peran sebagai penyemangat petarung melalui lagu daerah yang mereka nyanyikan.

Wisatawan juga bisa menikmati pertunjukan seni musik dan tari dari beragam sanggar seni tradisional Nagekeo pada malam sebelumnya.

Wisatawan bisa juga mendengarkan lantunan musik toda gu, yang merupakan musik khas daerah Nagekeo berupa alat terbuat dari bambu dan dimainkan secara bersamaan.

Apakah anda tertarik? Silakan datang langsung ke Nagekeo. (Kgg).

Berita Nagekeo lainnya

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved