Berita Manggarai Barat

Pokmaswas Bangko Bersatu dan IPPK Lepasliarkan 315 Ekor Tukik ke TNP Laut Sawu

Kelompok Masyarakat Pengawas Bangko Bersatu dan Ikatan Pemuda Peduli Konservasi melepasliarkan 315 ekor tukik ke TNP Laut Sawu.

Editor: Egy Moa
HO-FADIL MUBARAQ. 
Pelepasan ratusan tukik di Pantai Kampung Bangko, Desa Nanga Bere, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat,Minggu 10 Juli 2022. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana

TRIBUNFLORES.COM,LABUAN BAJO-Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Bangko Bersatu dan Ikatan Pemuda Peduli Konservasi (IPPK) melepasliarkan  315 ekor tukik (bayi penyu) kawasan konservasi Perairan Nasional (TNP Laut Sawu).

Kegiatan tersebut dilakukan di Pantai Kampung Bangko, Desa Nanga Bere, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat pada Minggu 10 Juli 2022.

Sebelum kegiatan pelepasan tukik dimulai, Tim IPPK memberi penjelasan dasar tentang seputar kegiatan pelestarian penyu dan tentang kehidupan penyu kepada lebih dari 70 warga yang hadir. 

Pantai Kampung Bangko sejak dulu dikenal sebagai salah satu daerah yang sering disinggahi penyu untuk bertelur. Mulanya masyarakat memburu telur dan daging penyu untuk dikonsumsi atau diperjualbelikan secara bebas.

Baca juga: Ambil HP Saat Pemilik Lelap,Hendrik Dibekuk Polres Manggarai Barat

Hal tersebut dilakukan karena mayarakat belum mengetahui status biota laut tersebut yang di lindungi karena diambang kepunahan. 

Ketua Kelompok Penggiat Konservasi Pokmaswas Bangko Bersatu, Abdul Karim mengatakan, sebanyak 315 ekor tukik yang dilepasliarkan merupakan hasil penetasan dari kegiatan monitoring sepanjang pantai beberapa waktu lalu. 

"Tukik yang dilepasliarkan hari merupakan hasil penetasan dari tiga sarang penyu. Sejauh ini sejak 2017, kami berhasil melepasliarkan 1.134 tukik ke laut Kampung Bangko yang merupakan kawasan TNP Laut Sawu). 

Abdul menjelaskan, sejak terbentuk kelompok ini, kegiatan eksploitasi penyu mulai hilang, kini masyarakat beralih menjadi pelestari penyu.

Baca juga: Bupati Manggarai Barat Buka Suara Kenaikan Tarif Masuk TNK untuk Jaga Ekosistim

Menurutnya, beberapa masyarakat mulai aktif terlibat dalam proses pelestarian penyu, hal itu terlihat dari aktifnya mereka terlibat dalam kegiatan mulai dari monitoring hingga pelepasan tukik. 

'Untuk diketahui penyu merupakan salah satu binatang purba yang masih bertahan hingga kini. Penyu dianggap sebagai fosil hidup yang telah berevolusi, sampai saat ini hanya 7 jenis penyu yang bertahan hidup dari 30 jenis penyu yang ada di zaman purba. Sebanyak 6 jenis diantaranya dapat dijumpai di perairan Indonesia yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricate), penyu abu-abu (Lephidochelys olivacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu belimbing (Dermochely coriacea) dan penyu tempayan (Caretta caretta)," jelasnya. 

Abdul menjelaskan, jenis penyu yang sering ditemukan mendarat untuk bertelur dipantai Kampung Bangko yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Pipih (Natator depressus), penyu sisik (Eretmochelys imbricate), dan Penyu abu-abu (Lephidochelys olivacea). 

"Beberapa penyu yang ada di Indonesia diambang kepunahan. Hal tersebut dikarenakan akibat maraknya perburuan liar, pencurian telur, predator dan kerusakan habitat. Kondisi tersebut akan mengancam populasi berbagai jenis penyu. Perburuan telur penyu dan penangkapan secara ilegal menjadi ancaman serius bagi satwa dilindungi itu," katanya.

Baca juga: Pelatih Taekwondo Manggarai Barat Raih Predikat Pelatih Terbaik Open Championship Kaltim

Pelestarian penyu, lanjut Abdul, sangat penting sehingga berbagai upaya dilakukan seperti pelestarian yang dilakukan kelompok masyarakat Desa Nanga Bere untuk mencegah satwa langka itu dari ancaman kepunahan. 

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved