Warga NTT Korban KKB

Jenazah Korban KKB Asal Ngada Disemayamkan di Luar Rumah

Hubertus Goty (42) dan Yulius Watu (27), Dua korban aksi brutal Kelompok Kriminal (KKB) Papua, asal Kabupaten Ngada,Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

TRIBUN PAPUA.COM
DIEVAKUASI - NS, karyawan PT Palapa Timur Telematika (PTT) yang selamat dari penembakan KKB akhirnya berhasil dievakusi ke Timika. 

TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA - Jenazah Hubertus Goty (42) dan Yulius Watu (27), korban aksi brutal Kelompok Kriminal (KKB) Papua, asal Kabupaten Ngada,Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dipastikan tidak disemayamkan di dalam rumah duka di Kecamatan Golewa, Ngada.

Hubertus dan Yulius berasal dari Desa Dadawea sementara Yulius dari Desa Ulubelu. Mereka masih memiliki hubungan kekeluargaan, yakni berstatus sepupu.

Menurut Leonardus Bhara, Tetua Adat setempat, Kematian Yulius maupun Hubertus dalam tradisi adat Bajawa, tergolong kematian tidak wajar, mati dalam keadaan berdarah atau dalam bahasa Bajawa disebut mata golo.

"Menurut adat budaya kami di sini, karena mati ditembak berarti dia mati tidak wajar, jadi mayatnya tidak boleh dibawa ke dalam rumah tetapi disemayamkan di luar," jelas Leonardus saat diwawancarai TRIBUNFLORES.COM, di rumah duka di Desa Dadawea, Minggu 18 Juli 2022

Baca juga: Hubertus Tewas di Tangan KKB, Natal Bersama Keluarga di Ngada Urung Terwujud

 

Leonardus menerangkan, beberapa contoh kematian yang dikategorikan mata golo, seperti kecelakaan lalu lintas, jatuh, dibunuh dan bunuh diri. Kematian seperti ini diyakini didalangi oleh roh jahat.

Dia menguraikan, ada rangkaian seremoni adat yang mesti dijalankan untuk memakamkan orang yang meninggal secara tidak wajar atau mata golo.

Inti dari upacara adat yakni demi keselamatan sanak keluarga atau orang -orang setempat yang masih hidup agar mereka tidak mengalami mata golo atau terlepas dari kutukan dan pengaruh roh jahat.

Rangkaian upacara tersebut, kata Leonardus, diawali dengan upacara keku, yakni saat jenazah tiba di rumah duka. Dalam upacara ini, tetua adat akan menyebut nama dan menyapa jenazah dalam bahasa atau kalimat -kalimat adat.

Selanjutnya, dilangsungkan ibadat lalu jenazah diarahkan ke kubur.

Leonardus menerangkan kubur bagi orang yang mata golo tidak boleh ada bersama dengan orang -orang yang meninggal secara wajar. "Dia harus ditempatkan tersendiri," ujar Leonardus.

Baca juga: Ibunda Sempat Ingatkan Yohanes Korban KKB Asal NTT Menjauh dari Nduga


Setelah jenazah dikuburkan, dilanjutkan dengan seremoni Pa'i Tobo, dimana para tetua adat dan yang ikut dalam ritual tidak tidur selama tiga malam.

"Jadi selama tiga malam kita mencaritau mereka ditembak alasannya apa, dosanya dia apa sampai mati dengan cara seperti itu. Dan itu pasti kita ketemu penyebabnya. jadi kita mete (tidak tidur) untuk menemukan pokok permasalahannya apa," jelasnya.

Tahap terakhir dari upacara adat ini adalah membuang sial atau tolak bala. Hal ini bertujuan agar sanak keluarga yang masih hidup tidak terhindar dari segala pengaruh dan kutukan roh jahat.

Sementara itu terkait dengan pemulangan jenazah, Leonardus menerangkan, jenazah akan tiba hari ini di Kabupaten Ngada. "Untuk rangkaian acara adatnya keluarga, orang di kampung tentu sudah siap," ujarnya.

Berita NTT Lainnya

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved