Berita Kota Kupang

Pembunuh Ibu dan Anak Bela Diri di PN Kupang, Tuntutan Hukuman Mati di Luar Fakta Sidang

Pleidoi tim penasehat hukum terdakwa pembunuh ibu dan anak,Randy Badjideh meminta majelis Hakim PN Kelas IA Kupang menjatuhkan hukuman ringan.

Editor: Egy Moa
TRIBUN FLORES.COM/OBY LEWANMERU
Kuasa hukum keluarga, Adhitya Nasution mendampingi Saul Manafe usai sidang di PN Kupang Kelas 1 A, Senin 1 Agustus 2022. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Oby Lewanmeru

TRIBUNFLORES.COM,KUPANG-Tim penasihat hukum terdakwa kasus pembunuhan ibu dan anak, Randy Badjideh meminta majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkaranya memberikan putusan yang ringan. Randi Badjideh didakwa membunuh Astri Manafe dan  anaknya Lael Maccabee.

Permintaan itu disampaikan dalam pledoi pribadi sidang lanjutan kasus pembunuhan Astri dan Lael di Pengadilan Negeri (PN) Kupang Kelas 1 A, Senin 1 Agustus 2022.

Sidang lanjutan ini dipimpin Wari Juniati,S.H,M.H didampingi empat hakim anggota. JPU, Hery Franklin,S.H, M.H dan Herman Reko Deta, S.H. Terdakwa Randy Badjideh didampingi Yance Th. Mesah,S.H dan Benny Taopan,S.P,.S.H,. M.H dan Narita Krisna Murti.

Pembelaan dibaca secara bergantian oleh tim penasihat hukum terdakwa. Narita Krisna Murti,S.H, memulai pertama  membacakan nota pembelaan itu. Tim penasihat hukum juga menyampaikan permohonan maaf kepada semua keluarga korban, masyarakat NTT dan khususnya di Kota Kupang.

Baca juga: Ayah Astri Manafe Tak Yakin Lael Mati di Tangan Astri

Menurut penasihat hukum, terdakwa telah melakukan tindakan tidak pantas dan sebelum majelis hakim memutuskan perkara itu, setidaknya terdakwa sudah menyampaikan permohonan maaf.

Tim penasihat hukum  tidak sependapat dengan tuntutan JPU yang menuntut hukuman mati terdakwa dilihat dari fakta persidangan mulai dari alat bukti, saksi-saksi, surat-surat dan keterangan terdakwa.

"Menurut kami tuntutan JPU di luar dari fakta persidangan," kata Narita.

Tim penasihat hukum Randy Badjideh  menegaskan, Randy yang membuat Astri Manafe meninggal dunia, sedangkan Lael oleh Astri Manafe.

Baca juga: Tiga Saksi Meringankan Dihadirkan di Sidang Pembunuhan Ibu dan Anak di PN Kupang

Sementara pembacaan pledoi yang dilanjutkan oleh Beny Taopan mempertanyakan, apakah berdasarkan alat bukti yang ada terdakwa sepatutnya dijatuhi hukuman mati? Beny juga mengatakan, untuk menjatuhkan hukuman mati ada syarat-syaratnya.

"Berdasarkan fakta-fakta persidangan, alat bukti, visum et repertum tidak ada satu alat bukti yang memperkuat adanya unsur pembunuhan berencana yang dilakukan terdakwa. Sedangkan, saat pembacaan pledoi dilanjutkan oleh Yance Thobias Mesah, sempat membuat pengunjung sidang bereaksi, karena Yance menyebutkan pasal 338 KUHP.  Hakim sempat menskor sidang beberapa saat.

Hakim Ketua, Wari Juniati, S.H,M.H meminta pengunjung sidang agar tidak dalam mengikuti persidangan.
"Tenang-tenang, nanti yang ribut kita suruh keluar ya," kata Wari.

Namun, saat itu hakim mendengar ada suara pengunjung, sehingga Wari meminta berdiri dan keluar.

Baca juga: Sidang Pembunuhan Ibu dan Anak di PN Kupang; Ahli Forensik Beberkan Cekikan Astri Manafe dan Lael

"Sekali lagi, ada yang komentar, saya suruh keluar. Saya ingatkan lagi ya, kalau ada yang komentar saya suruh keluar, karena dianggap mengganggu persidangan ya," katanya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved