Mantan Uskup Ruteng Meninggal Dunia

Narasi Heri Nabit di Hadapan Jenazah Mgr. Hubertus Leteng "Kritik Bagi Kami yang Hidup"

Bupati Kabupaten Manggarai Herybertus G.L. Nabit, mengikuti misa pemakaman Jenazah Uskup Emeritus Mgr Hubertus Leteng, pr, mantan Uskup Ruteng di Gere

TRIBUNFLORES.COM/HO-HALAMAN FACEBOOK HERYBERTUS G. L. Nabit
SAMBUTAN. Bupati Manggarai Herybertus G. L. Nabit saat sambutan di Gereja Katedral, Ruteng, Rabu 3 Agustus 2022. 

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Bupati Kabupaten Manggarai Herybertus G.L. Nabit, mengikuti misa pemakaman Jenazah Uskup Emeritus Mgr Hubertus Leteng, pr, mantan Uskup Ruteng di Gereja Katedral Keuskupan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Rabu 3 Agustus 2022.

Heri Nabit di akhir misa berkesempatan mengutarakan sepatah dua kata untuk kepergian Mgr. Hubertus Leteng. Kata Heri Mgr. Hubertus Leteng pergi dalam kesederhaan dan diam.

Heri menyebut, Sederhana dan Diam, adalah jalan pemanusiaan menuju Surga. "Kepergian Mgr. Hubertus Leteng yang mendadak adalah kritik bagi kami bahwa hidup ini sesungguhnya harus dijalani dengan sederhana dan diam," tuturnya.

Baca juga: Sebelum Meninggal Dunia Mantan Uskup Ruteng Bilang ke Romo Dwi Sepertinya Saya Segera Selesai

 

Kritik Pertama, Diam

Diam - diam, ia pergi dalam sunyi, di hari minggu pagi, ketika kita-kita yang lain bersiap-siap ke gereja untuk memuliakan nama Tuhan. Memang ia sedikit gelisah pada jam 4 pagi, begitu yang saya dengar dari testimoni para frater Keuskupan Bandung, yang menjaganya malam itu. Tapi dua jam kemudian, kegelisahannya terhenti dan diganti dengan ketentraman Mori Keraeng Ema Pu’un Kuasa.

Betapa Tuhan memilihkan saat terbaik untuk memanggil kekasih-Nya, Mgr Hubertus Leteng. Saya tidak heran karena memang demikianlah Tuhan bertindak bagi hamba-Nya, yang Diam.

Dia Diam, karena tidak pernah terdengar nada protes dan mengeluh sedikitpun dari mulutnya. Dari cerita teman-teman dan adik kelasnya di Kisol sampai Seminari Tinggi Ritapiret, mungkin bisa diperbanyak dengan kesaksian romo-romo di Pastoran Katolik Garut atau di Keuskupan Bandung, Mgr Huber ini seorang devosi kuat Bunda Maria.

Sembayang kontas Rosario tiap hari paling kurang lima peristiwa, dari dulu sejak thn 1974, dan saya yakin hingga kematiannya hari Minggu lalu. Akhirnya saya paham! Diam-nya Mgr Huber adalah diam-nya Bunda Maria. Menyimpan segala sesuatu di dalam hati, tanpa banyak bertanya-tanya dan berkata-kata, sambil membingkai segala peristiwa hidupnya dalam kehendak Allah, Voluntas Dei dan mengolah semua itu menjadi energi jiwa.

Bagi saya, diam-nya Mgr. Hubert bukan karena dia tidak mau omong tetapi sebuah sikap dasar yang sengaja dipilih. Dan itulah yang terjadi dalam perjumpaan saya secara pribadi meski singkat dengannya. Diam-nya adalah mendengarkan dan menyimak.

Baca juga: Beragam Fakta Tentang Mendiang Mgr Hubertus Leteng, Mantan Uskup Ruteng, Jebolan Seminari Kisol

 

Bicaranya terukur dan perlu-perlu saja. Maka diam-nya ini membuat saya dan siapapun yang berkontak dengannya, selalu merasa at home dan akhrab. Dengan Diam-nya ini, akhirnya sedikit membantu saya memahami bagaimana dia mengelola beberapa kenyataan yang menurut kacamata saya sebagai orang awam, kontroversial.

Kehadirannya di Keuskupan Ruteng sebagai gembala agung dimulai dengan sorak-sorai gegap gempita sukacita, lagu dan tari. Langit-angit congkasae ikut bermadah dari Wae Mokel sampai Selat Sape.

Tak lama sesudahnya, tepatnya lima tahun lalu, dia harus pergi dari sini, dalam sunyi, sendiri. Ke tanah asing yang hanya dia yang tahu. Gemuruh kata dan suara sumbang tanpa pernah ia tantang. Badai mengguncang tanpa pernah ia mengelak. Dia menerima dalam Diam.

Akhirnya memang karena Diam-lah, semua itu diolahnya menjadi energi jiwa. Maka, semua kadar derita dan sakit yang dialami-nya dan takaran jenis kesengsaraan yang menimpanya, khalayak ramai tidak perlu mengetahui atau turut menghayatinya. Mgr Hubert bahagia di dalam anugerah kemuliaan yang diterimanya dalam rahasia.

Kritik Kedua, Sederhana

Baca juga: BREAKING NEWS : Mantan Uskup Ruteng Hubertus Leteng Meninggal Dunia

Ini yang paling gambang dan kasat mata. Sederhana. Bukan hanya apa yang ia kenakan yang rapi tapi seluruh gesture, bahasa tubuhnya adalah kesederhanaan. Tidak wah! Tidak megah! Jauh dari kesan mewah.

Bahasa yang teratur, sopan santun, senyumnya, gaya bicara yang membuat partner bicara serasa duduk sama rendah berdiri sama tinggi, yang memperlakukan lawan bicara sebagai saudara dan seluruh bahasa tubuhnya, semua itu adalah kesederhanaan. Mengapa ia begitu sederhana? Dia seorang doktor teologi, hampir seluruh hidupnya dihabiskan di lembaga pendidikan, yang berarti dia berwatak ilmiah. Tapi mengapa ia sederhana? Akhirnya saya paham dari motto tahbisan uskupnya. (Herybertus G.L Nabit)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved