Berita NTT

Sumba dan Flores Dominasi Kasus Perlindungan Anak, Kabapas Waikabubak: Kasusnya Mencapai 500 Perkara

Di mana selama ini, bapas selalu memberikan kajian dari berbagai aspek baik dari pelaku dan korban yang masih dibawah umur.

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM/ARIS NINU
KABAPAS WAIKABUBAK, PRIANGGORO AGUNG WIBOWO 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Aris Ninu

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Perkara yang melibatkan anak, baik sebagai pelaku dan korban yang menjadi wilayah pengawasan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Waikabubak mulai dari Pulau Sumba, Flores dan lembata masih didominasi kasus yang melanggar UU Perlindungan Anak (PA).

Yang mana kasus-kasus yang melibatkan anak selalu mendapat pengawasan dan pendampingan dari Bapas Waikabubak sejak tindak pidana itu ditangani aparat kepolisian.

Kehadiran Bapas sebagai pendamping bertujuan memberikan masukkan serta kajian bagi penyidik dalam rangka penanganan kasus tersebut.

Di mana selama ini, bapas selalu memberikan kajian dari berbagai aspek baik dari pelaku dan korban yang masih dibawah umur.

Baca juga: Kebakaran Rumah di Mbay Nagekeo, Saksi Ungkap Sumber Api hingga Teriak Hindari Kobaran Api

 

Kepala Balai Pengawasan (Kabapas) Kelas II Waikabubak, Pranggoro Agung Wibowo dalam wawancara bersama TribunFlores.Com di Rutan Kelas II B Maumere, Rabu 10 Agustus 2022 pagi menjelaskan, wilayah kerja bapas ini meliputi Pulau Sumba, Flores dan Lembata.

Semua lembaga pemasyarakan dan rumah tahanan selalu ada petugas dari bapas. Jika belum ada petugas bapas maka akan diganti dengan pejabat koordinator yang ditunjuk.

“Perlu saya sampaikan sejak tahun 2020 memang kasusnya mencapai 500 perkara. Lalu kami berupaya menekan pada tahun 2021 sehingga di 2022 mulai mengalami penurunan. Bapas Waikabubak dalam setiap perkara anak selalu mendapat pemberitahuan dari pihak polisi. Selanjutnnya, bapas melakukkan koordinasi dan pendampingan sejak anak itu dinyatakan sebagai terduga pelaku,” papar Agung.

Ia menuturkan, bapas dalam menangani dugaan tindak pidana yang melibatkan anak selalu melakukan kajian seperti latar belakang anak, keluarga, kondisi orangtua, lingkungan dan sekolahnya.

Baca juga: Sebuah Mobil Terbalik di Kampung Golo Manggarai Timur, Sopir dan Kondektur Selamat

“Pada umumnya kajian kami selalu disampaikan agar anak itu bisa dikembali ke rumah dan diawasi oleh kami. Tetapi jika anak itu melakukan tindak pidana lagi dan ada proses hukum maka ia akan diawasi negara dan menjalani kurungan di Bapas Kupang,” ujar Agung.

Ia menegaskan, banyak perkara yang melibatkan anak didominasi kasus dugaan pelanggaran UU PA, pencurian, penganiayaan, penggeroyokan dan peristiwa laka lantas.

“Harapan kami ke depan mari kita mengawasi anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa,” ungkap Agung.(ris)

Berita NTT lainnya

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved