Berita Lembata

Tanaman Malapari di Lembata Potensial jadi Sumber Bioenergi

Sejumlah wilayah di Kabupaten Lembata terindikasi menjadi habitat tumbuhan Malapari (Pongamia Pinnata) yang dapat menjadi sumber bioenergi.

Editor: Egy Moa
TRIBUN FLORES.COM/RICKO WAWO
PT SANTI dan para peneliti BRIN usai presentasi kepada Penjabat Bupati Lembata, Marsianus Jawa di ruang rapat Kantor Bupati Lembata,Kamis,18 Agustus 2022. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, RICKO WAWO

TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA-Sejumlah wilayah di Kabupaten Lembata terindikasi menjadi habitat tumbuhan Malapari (Pongamia Pinnata). Jenis tumbuhan ini bisa dijumpai  di Pantai SGB Bungsu, tak jauh dari Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata menjadi sumber  bioenergi kelak menggantikan bahan bakar fosil.

Potensi tersebut mendorong PT Sahabat Nusantara Teknologi Inovasi (PT SANTI) menggandeng peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan eksplorasi Malapari ini dalam program 'Lembata Iconic for Malapari'

Para peneliti dibantu tim dari Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) Lembata, saat ini sedang melakukan inventarisasi tegakan pohon yang tersebar di area pesisir Lembata. 

“Kami telah mengirimkan surat kepada UPT KPH Lembata tanggal 5 Juli 2022 lalu untuk melakukan riset tumbuhan Malapari. Riset pertama ini merupakan pilot project kami di NTT,” ujar Bibin Busono, Komisaris PT SANTI.

Baca juga: Imigrasi Maumere Monitoring Kapal Asing di Pelabuhan Lewoleba Lembata

Hadir pula Dr. Aam Aminah, periset BRIN yang telah 15 tahun mendalami tumbuhan ini di beberapa wilayah seperti Pantai Carita Banten, Alas Purwo Jawa Timur dan Batu Karas serta telah melakukan percobaan di Parung Panjang Bogor. 

"Hasil riset Malapari di Lembata merupakan eksplorasi genetika untuk keperluan riset-riset selanjutnya guna mendapatkan bibit unggul," ujarnya. 

Salah satu alternatif mengembangkan energi baru terbarukan adalah dari bahan nabati. Malapari merupakan salah satu jenis tumbuhan pantai yang berpotensi sebagai alternatif sumber bioenergi dan berbagai manfaat lainnya. 

Peneliti lain dari BRIN, Dr Desmiwati, mengatakan riset ini tidak hanya fokus pada aspek genetika, tetapi juga mencakup aspek sosial-budaya sebagai salah satu proses asesmen apabila nantinya akan dilakukan propagasi budidaya secara masal.

Baca juga: Pemda Lembata Dukung Penelitian Tanaman Malapari, PT SANTI Datangkan Investor Dari Belanda

Dalam riset sosial-budaya, salah satu acuan yang digunakan adalah Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 9 Tahun 2021 tentang Perhutanan Sosial (PS). Penanaman Malapari juga sebagai upaya melakukan reforestrasi, konservasi mangrove dan pemanfaatan lahan-lahan kritis agar bisa bermanfaat bagi perekonomian masyarakat dan salah satu upaya dalam program Global Net Zero Emission.   
 
Pengembangan energi baru terbarukan menjadi perhatian Indonesia yang merupakan bagian dari kelompok negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Kebutuhan energi Indonesia terus meningkat setiap tahun dengan pertumbuhan kebutuhan energi rata-rata sebesar 7 persen per tahun, namun pemenuhan kebutuhan energi sebanyak 94 persen masih bergantung kepada energi fosil. 

Berbeda dengan biomasa yang melakukan penanaman dan penebangan pohon, Malapari dimanfaatkan buahnya untuk diproses menjadi bahan baku bioenergi sehingga bersifat lestari. 

Kemampuan malapari menyerap gas rumah kaca sangat baik dan berpotensi menjadi unggulan. Wilayah yang dilakukan penanaman malapari dapat pula dimanfaatkan masyarakat untuk menanam tumpang sari seperti jagung, kopi dan ubi karena sifat Malapari yang tidak saling berebut hara dan bersifat sebagai tumbuhan perintis. 

Baca juga: Gairah Tertunda Dua Tahun, Masyarakat Lodotodokowa Lembata Rayakan HUT Kemerdekaan

Bibin Busono, Komisaris PT SANTI, mengatakan hasil riset yang akan dilakukan peneliti BRIN akan menjadi jurnal ilmiah dan diharapkan dapat memberikan masukan bagi Pemerintah Kabupaten Lembata mengembangkan tanaman Malapari di pulau ikonik ini, didukung peraturan daerah dan berbagai regulasi di tingkat nasional. 

PT SANTI juga bekerjasama dengan BPSI KLHK Bogor, Institut Teknologi Bandung (ITB) serta saat ini mendapat kunjungan studi banding dari Investancia Group BV, perusahaan pengembang Malapari asal Belanda yang sedang mengembangkan 1,2 juta hektar Malapari di Paraguay, Amerika Selatan. 

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved