Berita Lembata

Tanaman Malapari di Lembata Potensial jadi Sumber Bioenergi

Sejumlah wilayah di Kabupaten Lembata terindikasi menjadi habitat tumbuhan Malapari (Pongamia Pinnata) yang dapat menjadi sumber bioenergi.

Editor: Egy Moa
TRIBUN FLORES.COM/RICKO WAWO
PT SANTI dan para peneliti BRIN usai presentasi kepada Penjabat Bupati Lembata, Marsianus Jawa di ruang rapat Kantor Bupati Lembata,Kamis,18 Agustus 2022. 

Marcel van Heessewijk sebagai CEO dan Founder dari Investancia turut serta dalam rombongan ke Lembata kali ini. 

Pilot project budidaya Malapari yang dimulai dari Lembata diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menjawab tantangan energi di masa depan.

Baca juga: Korban Bencana Seroja di Waimatan Lembata Bangkit di Hari Kemerdekaan

“Lembata sebagai ikon malapari hendaknya dapat menjadi semangat bersama untuk menjawab tantangan energi yang tengah dihadapi dunia, termasuk Indonesia,” tambah Bibin Busono.

Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) Lembata menyambut baik rencana kerjasama survei penelitian yang diajukan PT SANTI, apalagi dibantu peneliti dari BRIN. Karena itu, UPT KPH Lembata mendukung inisiatif PT SANTI dengan menjawab surat permohonan yang diterima pada 28 Juli 2022, guna melakukan riset malapari di Lembata. Niat tersebut disambut baik mengingat potensi malapari di daerah ini sangat besar.

"Dari survei awal rekan-rekan petugas kehutanan KPH Lembata, paling sedikit kami temukan 20 tumbuhan Malapari di sepanjang pantai SGB Bungsu. Ketinggian Malapari mencapai hampir 25 meter dengan diameter batang lebih dari 75 cm,” kata Kepala UPT KPH Lembata, Linus Lawe. 

Menurut Linus sudah ada sekitar 280 hektar lahan Malapari di dalam Kawasan Kehutanan di Lembata dikelola masyarakat melalui gabungan kelompok tani (Gapoktan) sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 9 tahun 2021 tentang Perhutanan Sosial (PS).

Baca juga: Korban Bencana Seroja di Waimatan Lembata Bangkit di Hari Kemerdekaan

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Penjabat Bupati Lembata Pak Marsianus Djawa menerima kami melakukan riset perdana ini. Tak lupa kami sampaikan terima kasih kepada UPT KPH Lembata melalui komunikasi konstruktif sehingga peneliti BRIN bisa hadir di Lembata dengan dukugan maksimal,” kata Bibin. 

Seluruh rangkaian acara di Lembata merupakan kerjasama dengan Yayasan Anton Enga Tifaona, Alex Bala Tifaona mengatakan, yayasan berinisiatif mengajak berbagai pihak dari luar NTT hadir di Lembata membantu mengembangkan Lembata sekaligus mengangkat berbagai potensi sumber daya alam yang dimiliki untuk dikembangkan sehingga memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. 

"Almarhum papa selalu mengingatkan agar kami, anak-anaknya ikut memberi perhatian besar bagi kemajuan daerah melalui inisiatif-inisiatif kecil, namun bermanfaat bagi ribu ratu, rakyat. Kami memulai mewujudkan ide kecil ini dengan mengajak PT SANTI bersama peneliti BRIN melakukan riset Malapari di Lembata. Kami berdoa dan berharap semoga ada dukungan pemerintah, masyarakat, dan stakeholder di Lembata sehingga kegiatan ini berjalan lancar dan sukses,” ujar Alex, putra mendiang tokoh otonomi Lembata Brigjen Pol (Purn) Drs Anton Enga Tifaona.

Berita Lembata lainnya


 
 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved