Berita Sikka

Cerita Karolus, Naik Delapan Pohon Lontar Satu Hari untuk Iris Moke di Sikka

Selain bertani ladang, Karolus juga merupakan seorang penjual moke. Setiap hari, Karolus harus naik pohon lontar untuk mengiris moke.

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM/ALBERT AQUINALDO
PANJAT POHON TUAK - Karolus tampak sedang naik pohon lontar untuk mengiris moke di Dusun Sari, Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, pada Selasa, 23 Agustus 2022. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Karolus merupakan satu diantara dari sejumlah warga Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, yang berprofesi sebagai petani ladang.

Selain bertani ladang, Karolus juga merupakan seorang penjual moke. Setiap hari, Karolus harus naik pohon lontar untuk mengiris moke.

Karolus setiap hari harus naik turun delapan pohon lontar dan aktivitas itu biasanya dilakukan pagi dan sore hari.

Ditemui TribunFlores.Com di Desa Langir, Kecamatan Kangae, Selasa 23 Agustus 2022 pagi, Karolus tampak mempersiapkan diri untuk naik ke atas pohon lontar.

Baca juga: Pedagang Pasar Alok Senang Harga Bawang di Kota Maumere Turun

 

Ada beberapa buah jerigen berukuran lima liter yang terlihat digantung di motor miliknya yang biasa dia gunakan untuk pergi mengiris moke.

Dipinggang sebelah kanan Karolus, ada sebuah pisau yang masih berada dalam sarungnya yang digunakan untuk mengiris moke atau dalam bahasa daerah setempat disebut 'Kare Tua'.

Sebelum naik ke atas pohon lontar yang tingginya kurang lebih 10 meter, Karolus tampak memanjatkan doa.

Dengan perlahan, dia mulai menaiki pohon lontar. Ada sebuah bambu aur yang diikat di pohon lontar yang digunakan sebagai tangga untuk naik.

Baca juga: Mendagri Muhammad Tito Karnavian Minta Kepala Daerah Optimalisasi APBD untuk Kendalikan Inflasi

Tak butuh waktu lama, Karolus sudah berada di atas pohon lontar dan mulai melakukan aktivitas mengiris moke.

Kurang lebih 20-30 menit kemudian, Karolus sudah menyelesaikan pekerjaannya yakni mengiris moke untuk pohon pertama pada hari itu.

Kepada TribunFlores.Com, Karolus mengaku mengiris moke delapan pohon lontar dalam sehari.

Setelah pagi mengiris moke pada pagi hari, Karolus biasanya menggunakan waktu itu untuk mencari kayu yang akan digunakan untuk memasak moke.

Jika tidak, maka dia akan beristirahat sambil menunggu waktu sore untuk kembali mengiris moke.

"Aktivitas mengiris moke ini biasa saya lakukan pada pagi dan sore hari juga, setiap hari itu delapan pohon pagi dan sore," tutur Karolus.

Karolus biasanya membutuhkan waktu dua sampai tiga hari untuk mengumpulkan air nira sebelum dimasak menjadi moke.

"Paling kurang itu 5 liter, kalau lebih itu sampai 10 liter," tutur pria yang juga sering diundang untuk menari hegong pada acara Ro'a Mu'u atau acara pernikahan ini.

Setelah dikumpulkan, Karolus kemudian memasak air nira yang sudah dikumpulkan tadi untuk dimasak.

Proses memasak moke ini oleh masyarakat setempat di sebut 'Api Tua'. Sedangkan pondok tempat untuk memasak moke disebut 'Kuwu Wetak'.

Baca juga: Cerita Saida Warga Kampung Buton Maumere Belasan Tahun Jual Kue Demi Biayai Sekolah Anak-anak

Karolus menggunakan periuk tanah untuk memasak moke karena bisa menghasilkan moke dengan kualitas terbaik.

"Sekali masak itu biasanya sebanyak 35 liter dan menghasilkan lima liter moke atau delapan botol moke, sehari itu kadang sampai tiga kali masak jadi sehari bisa dapat 15 liter moke," tutur Karolus.

Moke yang dihasilkan dijual di rumah dengan kisaran harga Rp 25.000/botol. Sedangkan untuk 5 liter moke dijual dengan harga Rp 200.000/liter.

Hasil dari berjualan moke digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Karolus adalah satu dari sekian banyak petani moke yang ada di wilayah Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.

Berita Sikka lainnya

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved