Berita Nasional

Jokowi Sebut Inflasi Menjadi Momok yang Terbesar Saat Ini, Presiden Ajak Kerja Bersama

Caranya, kita yang kita takuti sekarang ini adalah inflasi dari pangan, bahan makanan, ini juga menjadi kontributor terbesar inflasi hingga Agustus.

Penulis: Gordy Donovan | Editor: Gordy Donovan
Humas Setkab/Rahmat
ARAHAN - Presiden Jokowi dalam pengarahan kepada seluruh menteri, kepala lembaga, kepala daerah, pimpinan BUMN, pangdam, kapolda, dan kajati, di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (29/09/2022). Presiden Jokowi Minta Kepala Daerah Ajak Warga Wisata di Dalam Negeri dan ajak ke Labuan Bajo, Manggarai Barat. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Presiden Jokowi menegaskan momom yang paling besar saat ini yang dihadapi oleh sejumlah negara di dunia adalah inflasi.

"Yang pertama ingin saya sampaikan, momok terbesar semua negara sekarang ini adalah inflasi, kenaikan barang dan jasa. Momok semua negara saat ini. Inflasi di semua negara yang biasanya dulu hanya satu, sekarang sudah lebih dari delapan, lebih dari sepuluh, bahkan ada yang sudah di atas 80 persen. Ada lima negara yang sudah di atas 80 persen,"ujar Jokowi saat memberikan arahan di Jakarta Kamis 29 September 2022.

Oleh sebab itu, Jokowi mengajak kita harus kompak, harus bersatu dari pusat, provinsi, kabupaten, kota sampai ke bawah, dan semua kementerian/lembaga seperti saat kita kemarin menangani COVID-19. Kalau COVID-19 kita bisa bersama-sama, urusan inflasi ini kita juga harus bersama-sama.

Baca juga: Korban Penikaman di NTT Meninggal Dunia, Terduga Pelaku Masuk DPO Polisi

 

"Kalau di negara lain, urusan inflasi itu adalah urusannya bank sentral, caranya menaikkan interest rate-nya. Sekian basis point dinaikkan, sehingga kredit menjadi ter-rem, menjadi direm. Uang yang lari ke masyarakat juga ke-rem, inflasinya menjadi turun, tapi teori-teori itu sekarang juga tidak menjamin bahwa itu akan turun,"ujarnya.

Ia mengatakan oleh sebab itu, di Indonesia antara fiskal dan moneter ini harus berjalan beriringan.

Ia mengaku senang bank sentral kita, BI dan Kementerian Keuangan, Kemenko semua berjalan beriringan dan rukun, tanpa kita mengintervensi independensi dari Bank Indonesia. Tapi yang lebih pemting adalah bukan ngerem uang beredarnya tetapi kita menyelesaikan di ujungnya, yaitu kenaikan barang dan jasa, yang itu menjadi tanggung jawab kita semuanya.

Caranya, kita yang kita takuti sekarang ini adalah inflasi dari pangan, bahan makanan, ini juga menjadi kontributor terbesar inflasi hingga Agustus ini.

"Urusan cabai merah, urusan bawang merah, urusan telur ayam, hati-hati, urusan tomat, urusan tahu, urusan mi instan, urusan tempe, dan beras. Hati-hati, barang-barang ini tolong dilihat betul. Cek harian, karena saya setiap hari itu dapatnya angka-angka seperti ini. Setiap pagi, enggak pernah sarapan, enggak pernah makan pagi, tapi diberi sarapannya angka-angka,"ujarnya.

Baca juga: Momen Iriana Jokowi Lihat Komodo, Tanam Kesambi di Pulau Rinca Kawasan Taman Nasonal Komodo

Ia mengatakan, Cabai merah, kenapa dia harganya tinggi? Karena produksinya kurang, suplainya menjadi kurang, pasokannya menjadi kurang. Tugas Saudara-saudara bagaimana mengajak petani untuk menanam ini, kalau di daerah Bapak-Ibu dan Saudara-saudara sekalian harganya tinggi. Pasokan cabai kan memang beda-beda.

"Saya baru dua hari yang lalu datang di sebuah provinsi harga cabai merahnya Rp45 ribu. Saya pindah ke provinsi lain Rp85-90 ribu, coba dua kali lipat. Sepele, hati-hati karena produksinya kurang, karena suplainya berkurang,"ujarnya.

"Sehingga tadi sudah disampaikan oleh Pak Menko Marinves, ya gunakan Dana Transfer Umum, gunakan belanja tidak terduga itu untuk berproduksi barang itu, supaya pasokannya cukup. Ini sebetulnya hal yang tidak sulit, hanya kita ini mau kerja detail atau ndak, atau hanya di kantor tanda tangan,"ujarnya lagi.

Ia mengatakan yang kedua, urus yang namanya ongkos transportasi dari produksi ke pasarnya. Misalnya, urusan harga telur naik. Produksinya dimana sih telur ini? Di Bogor, di Blitar, di Purwodadi dan lain-lainnya. Kalau misalnya di Palembang harga telur naik, di Provinsi Sumatra Selatan harga telur naik misalnya, sudah ambil saja telur dari Bogor. Biarkan pedagang atau distributor itu beli di Bogor, tapi ongkos angkutnya ditutup oleh APBD, oleh provinsi, kabupaten maupun kota. Misalnya, ini misalnya.

"Berapa sih ongkos truk dari Bogor ke Palembang, saya cek, kurang lebih Rp10 juta mungkin ini setelah penyesuaian BBM menjadi Rp12 juta, Rp10-12 juta. Tidak tiap hari juga harus diangkut telur itu, mungkin seminggu hanya dua kali atau sekali cukup. Masa setiap hari kita harus urusan telur saja, kan ndak kan,"ujarnya.

Baca juga: Presiden Jokowi Ajak Kerja Bersama Percepat Penghapusan Kemiskinan Ekstrem di Indonesia

Ia menyebutkan misalnya, bawang merah. Mana tempat produksi bawang merah? Yang gede Brebes, Misalnya Lampung, harga bawang merah kok tinggi. Ya sudah ongkos angkut dari Brebes ke Lampung itu ditutup oleh APBD provinsi, APBD Kota maupun APBD Kabupaten.

"Duitnya juga enggak banyak juga, Brebes ke Lampung itu kira-kira Rp8 juta atau sampai Rp8,5 juta dan tidak mungkin setiap hari itu kita harus beli brambang, bawang merah ini kan ndak, mungkin seminggu hanya sekali atau dua kali. Ini uang kecil, tapi memang harus bekerja detail. Cabai, ini yang banyak di Kediri. Kalau Jabodetabek beli, ya tutup saja ongkos transport dari Kediri ke Jabodetabek Rp11 juta kira-kira,"ujarnya.


Berita Nasional lainnya

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved