Berita Ende

Breaking News : Korupsi Dana Komite Rp 1,7 Miliar, Kepsek dan Bendahara Ditahan Polisi

Polres Ende akhirnya menahan mantan kepala sekolah SMK Negeri 1 Ende berinisial HGR dan mantan bendahara di sekolah itu

Editor: Hilarius Ninu
TRIBUNFLORES.COM/TOMMY MBENU NULANGI
Kapolres Ende, AKBP. Andre Librian didampingi Kasat Reskrim Iptu Yance Kadiaman menunjukan barang bukti kasus korupsi dana komite SMK Negeri 1 Ende kepada awak media di ruang reskrim Polres Ende, Senin 31 Oktober 2021. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tommy Mbenu Nulangi

TRIBUNFLORES.COM, ENDE-Pihak kepolisian dari Polres Ende akhirnya menahan mantan kepala sekolah SMK Negeri 1 Ende berinisial HGR dan mantan bendahara di sekolah itu berinisial WD karena diduga telah melakukan tindak pidana korupsi dana komite sekolah selama tiga tahun ajaran berturut-turut senilai Rp 1,7 miliar lebih.

Dari kedua tersangka, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu unit sepeda motor merek Yamaha Aerox 155 CC berwarna merah dengan nomor polisi EB 4678 AK, emas sebesar 13 gram 21 karat seharga Rp. 4 juta, uang tunai senilai Rp. 243 juta, satu unit laptop, dan sejumlah nota belanjaan.

Kapolres Ende, AKBP. Andre Librian didampingi Kasat Reskrim Polres Ende, Iptu Yance Kadiaman dalam konferensi pers mengatakan bahwa, dalam proses penyelidikan kasus tersebut, pihaknya telah memeriksa sebanyak 55 orang saksi yang terdiri dari guru PNS 47 orang, orang tua wali 5 orang, dan anggota komite 3 orang.

Selain itu, pihaknya juga telah memeriksa tiga saksi ahli diantaranya ahli keuangan negara, ahli dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dan akuntan publik.

 

 

Baca juga: Polres Ende Amankan 200 Siswa dan Guru STM Ende Pasca Tawuran dengan SMKN 1 Ende

Dalam penyelidikan kasus tersebut tersangka HGR mengaku bahwa dana komite yang dikumpulkan dari siswa tersebut bukan merupakan keuangan negara sehingga bisa digunakan untuk kegiatan apa saja yang penting ada kesepakatan bersama.

Tersangka HGR dalam pengakuannya berpura-pura tidak mengetahui tentang adanya aturan yang mengatur tentang komite sekolah. Sementara tersangka WD hanya mengikuti semua perintah lisan dan tertulis tersangka HGR.

"Tersangka HGR menggunakan keuangan komite untuk kepentingan pribadi dan kegiatan lain yang tidak sesuai ketentuan seperti ke tetempat hiburan atau karaoke dan main Judi kartu. Tersangka WD memakai uang komite juga untuk kepentingan pribadi dan kegiatan lain yang tidak sesuai ketentuan," ujarnya.

Andre menegaskan, kerugian negara yang ditimbulkan dari perbuatan kedua tersangka sebesar Rp. 1,7 miliar lebih. Uang sebesar itu digunakan tersangka HGR untuk bersenang-senang seperti pergi ke tempat hiburan/karaoke dan main judi kartu.

Baca juga: Ketua Permabudhi NTT; Lewat Pesparani II, NTT Membuat Sejarah Toleransi

Sebagian uang dari hasil kejahatan tersebut diberikan kepada istri dan juga anak-anaknya. Kemudian sebagiannya lagi HGR membelikan tiket pesawat untuk istri dan anak-anaknya yang diakui senilai Rp. 403,5 juta.

Sementara itu, tersangka WD menggunakan uang komite untuk membeli sebidang tanah di Marilonga, Kelurahan Kota Raja, Kecamatan Ende Utara senilai Rp. 50 juta dan membayar uang kesra kepada para guru di SMK Negeri 1 Ende senilai Rp. 196 juta.

Andre menjelaskan, dari pengakuan kedua tersangka, polisi menyimpulkan bahwa perbuatan dari para tersangka sudah memenuhi dua alat bukti yang cukup dan keduanya telah melakukan tindak pidana korupsi penyalahgunaan keuangan komite SMK Negeri 1 Ende pada tahun ajaran 2019/2020, tahun ajaran 2020/2021 dan tahun ajaran 2021/2022 sampai dengan bulan Desember 2021

Atas perbuatannya, para tersangka disangkakan dengan pasal 2 ayat 1, pasal 3 jo pasal 18 ayat 1 huruf a UU RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana yang telah dirubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 KUHP.

"Kedua tersangka diancam dengan dipidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 20 tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50 juta dan paling banyak Rp 1 miliar," tegasnya. (tom)

Berita Ende Lainnya

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved