Flores Bicara

Pemkab Sikka Komit Turunkan Angka Stunting, Ajak Stakeholder Kerja Sama Cegah Stunting

Perpres ini merupakan payung hukum bagi Strategi Nasional (Stranas) Percepatan Penurunan Stunting yang telah diluncurkan dan dilaksanakan sejak tahun

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM
DISKUSI - Program Flores Bicara di kediaman ibu Ketua PKK, Maria Cahyani Idong, di Maumere, Kamis 24 November 2022 pagi, menghadirkan Kepala Dinas DP2KBP3A, dr. Maria B S Nenu, dan Perwakilan Dinas Kesehatan, Margareta Endang dan Katua PKK, Maria Cahyani Idong dengan Host, Ria Mangkung. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Ria Mangkung

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Bentuk komitmen untuk mempercepat penurunan stunting, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Perpres ini merupakan payung hukum bagi Strategi Nasional (Stranas) Percepatan Penurunan Stunting yang telah diluncurkan dan dilaksanakan sejak tahun 2018.

Dengan adanya payung hukum tersebut saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka, optimis dengan program penurunan angka prevalensi stunting pada bayi dan balita dengan cara menggandeng semua stakeholder seperti Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Siikka, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sikka dan Kader-Kader Posyandu, bersama masyarakat.

Program Flores Biacara edisi 24 November 2022, hadir narasumber, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Sikkka, dr. Maria Bernadina Sada Nenu MPH, Ketua PKK Kabupaten Sikka, Maria Cahyani Idong dan yang mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Margareta Endang.

Baca juga: Flores Bicara : Program KB dan Stunting di Sikka

 

Program Flores Bicara dengan tema Pemerintah Kabupaten Sikka menurunkan angka prevalensi stunting ini, membahas tujuan pokok dari talk show hari ini untuk memberikan komunikasi, informasi serta edukasi terkait masalah stunting bagi masyarakat Sikka.

Adapun tujuan utama lainnya seperti ingin menginformasikan peran dari Dinas Kesehatan dalam percepatan penurunan stunting, dan peran dari Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga, serta peran dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Perwakilan Dinas Kesehatan Sikka Margareta Endang, menuturkan Secara Nasional pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting 14 persen di tahun 2024 dan target pembangunan berkelanjutan di tahun 2030 berdasarkan capaian di tahun 2024.

Untuk itu, percepatan penurunan stunting memerlukan strategi dan metode baru yang lebih kolaboratif dan berkesinambungan mulai dari hulu hingga hilir.

"Semua kita diwajibkan harus saling bekerja sama untuk menggapai target penurunan prevalensi stunting," ucap Endang.

Hasil SSGI tahun 2021, prevalensi stunting NTT sebesar 37,8 persen Kabupaten Sikka memiliki prevalensi stunting sebesar 26,6 persen.

Menurut ePPGBM bulan Agustus tahun 2022, prevalensi stunting kabupaten Sikka mengalami penurunan dari 17,2 persen (pebruari 2022) menjadi 13,8 persen (pada bulan Agustus 2022).

Baca juga: Ratusan Warga Sikka Antre Terima Bantuan di Kantor Pos Maumere, Oswaldina: Saya Senang

"Terlepas dari GAP yang cukup besar antara prevalensi stunting menurut ePPGBM dan data SSGI 2021, pemerintah Kabupaten Sikka menargetkan bahwa kabupaten Sikka harus bebas dari stunting," kata dia.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved