Berita Sikka

Cerita Warga Pulau Babi di Sikka, Selamat saat Gempa dan Tsunami Tahun 1992

Membuka memori tahun 1992, Muhammad Salahu kala itu berprofesi sebagai seorang guru di SDN Gembira

Penulis: Nofri Fuka | Editor: Nofri Fuka
TRIBUNFLORES.COM/HASIL SCREEN
BICARA - Diundang dalam acara talkshow Simphoni Duka Ami Norang bertema budayakan siaga kurangi resiko bencana yang digelar di depan gereja Katedral Santo Yosef Maumere pada Sabtu 10 Desember 2022 Muhammad berkesempatan menceritakan pengalamannya kala itu. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Dampak gempa bumi dan tsunami di Maumere juga dirasakan oleh masyarakat di pulau-pulau sekitar laut Flores. Salah satunya adalah Pulau Babi.

Pulau kecil yang menjadi bagian dari Kabupaten Sikka ini juga dikabarkan sempat hilang tertelan laut Flores kala tsunami melanda pada 12 Desember 1992 silam.

Ratusan nyawa melayang dalam waktu yang singkat. Pulau kecil itu seketika menjadi sunyi tertelan amukan gelombang laut dan hentakan gempa bumi yang mengganas.

Namun, dibalik kisah kelam ada salah satu sosok yang menjadi saksi hidup perjuangan masyarakat Pulau Babi untuk menyelamatkan diri.

Baca juga: 30 Tahun Gempa dan Tsunami Flores, BPBD Sikka Gelar Simponi Duka Ami Norang

 

Dialah Muhammad Salahu, yang kini menjabat sebagai pengurus majelis ulama Indonesia Kabupaten Sikka. Beliau merupakan sosok yang dikatakan beruntung karena selamat saat pulau babi diterpa tsunami juga dengan keberaniannya menolong sesama warganya yang masih hidup, membawa mereka ke tempat yang aman.

Diundang dalam acara talkshow Simphoni Duka Ami Norang bertema budayakan siaga kurangi resiko bencana yang digelar di depan gereja Katedral Santo Yosef Maumere pada Sabtu 10 Desember 2022 Muhammad berkesempatan menceritakan pengalamannya kala itu.

Talkshow tersebut digelar untuk mengenang 30 tahun gempa dan tsunami melanda Pulau Flores.

Membuka memori tahun 1992, Muhammad Salahu kala itu berprofesi sebagai seorang guru di SDN Gembira yang terletak di Pulau Babi.

Sebelum kejadian naas itu, ia berada di Talibura dan melakukan perjalanan dari Talibura ke Pulo (Pulau Babi) pada Jumat jam 8. Beliau tiba di pulau Babi jam 11 malam.

"kebiasaan di Pulau Babi itu ramai ada orang menyanyi dan lain segala macam tapi pada malam itu sunyi sekali," katanya.

Ia sempat mencari seorang anak yang tinggal dengannya. Melihat suasana di Pulau Babi yang sepi ia sempat dibuat bertanya. "Saya tanya kepada anak saya itu kenapa sepi sekali pada kemana semua warga ini," ungkapnya.

Dikatakannya, ia sebelumnya sudah punya firasat kurang baik di Talibura. Seakan ada hambatan menghalang dirinya untuk tidak ke Pulau Babi tapi karena mau ngajar jadi ia ke sana.

Di Pulau Babi, pada keesokan harinya ketika bangun pagi, Muhammad melihat banyak pohon kelapa yang tertambat di pinggir pantai dan ratusan burung gagak yang berkerumun di sekitar pantai.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved