Seksualitas Menurut Gereja Katolik
Pandangan Gereja Katolik: Seksualitas Itu Rahmat
Pornoaksi ini dapat dilihat di berbagai-bagai tempat seks komersial yang terjadi seperti hotel-hotel, kos-kosan, tempat-tempat sepi

Oleh: Yohanes Mario Viany Tmaneak
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Seiring melajunya peradaban, pandangan terhadap seksualitas manusia pun mengalami peleburan makna kesuciannya. Seksualitas yang pada hakikatnya adalah untuk melanjutkan keturunan serta tetap menjaganya, kini mengalami "degradasi makna" yang sangat tajam.
Tak dapat dimungkiri bahwa penggerusan makna sakralitas pada seksualitas itu sendiri benar-benar menyata dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak faktor yang menjadi pemicu hal ini terjadi, salah satunya adalah arus modernisme yakni Sebuah keadaan modern yang secara langsung maupun tidak langsung mengubah perspektif manusia akan seksualitas yang hanya dilihat sebagai bentuk pemenuhan hasrat belaka.
Maka dari itu tidaklah mengherankan bila masalah-masalah sosial yang nampak di tengah masyarakat juga sering dikaitkan dengan seksualitas itu sendiri.
Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Selasa 28 November 2023 Hari Biasa Pekan XXXIV
Berkaitan dengan hal di atas, melihat lebih jauh penyimpangan yang dilakukan oleh manusia dalam kaitan dengan seksualitas, dapat ditemui lewat sejuta pajangan pornografi dan juga pornoaksi yang salah dipahami.
Pornografi berarti perekayasaan seks yang dipajang di berbagai media sosial dan media komunikasi. Semuanya itu terarah dan berbau porno. Sedangkan pornoaksi merupakan tindakan seks yang berbuka bukaan di hadapan publik dengan maksud tertentu tanpa adanya privatisasi terhadap tindakan seks.
Pornoaksi ini dapat dilihat di berbagai-bagai tempat seks komersial yang terjadi seperti hotel-hotel, kos-kosan, tempat-tempat sepi yang jauh dari intipan orang dan lain sebagainya. Seks pada zaman sekarang “modern” sering disandingkan dengan istilah “dimana saja boleh,” hal ini dikarenakan tempat-tempat umum pun sering menjadi persinggahan untuk melakukan pornoaksi tersebut.
Ini menjadi bukti bahwa dekadensi pandangan terhadap seksualitas sedang intens berkembang. Seksualitas yang sebenarnya dan seharusnya adalah suci, kini dijadikan sebagai sebuah sarana hanya untuk memenuhi hasrat-hasrat tertentu seperti demi memenuhi kebutuhan finansial, pelampiasan hawa nafsu.
Sudah menjadi tidak asing lagi bila media-media sosial dan media massa sering memajang fenomena pemerkosaan, pembuangan bayi-bayi tidak berdosa oleh ibunya yang sama sekali tidak memiliki rasa tanggung jawab dan rasa bersalah sedikitpun.
Pacaran yang tidak sehat-lah yang menyebabkan semuanya itu terjadi, terutama para remaja masa kini yang mengakui diri sebagai pribadi zaman modern.
Mereka yang pernah berbuat itu bukanlah yang tidak beragama, melainkan justru mereka itu adalah bagian dari warga yang menganut agama-agama yang diakui di negara kita, Indonesia, terutama kalangan Katolik.
Namun apa boleh buat, tindakan itu memang tidak bisa dimungkiri karena tidak bermoral sama sekali (Seks bebas). Itu adalah jahat di mata Tuhan! Sekali lagi ditegaskan itu jahat! Karena seolah-olah meleburkan prokreasi Tuhan, yang mana seksualitas itu hanya sebagai semacam sarana untuk memperoleh tujuan-tujuan tertentu.
Dari hal inilah memunculkan problematika seputar seksualitas yang bias makna. Lalu apa sesungguhnya seksualitas itu terutama menurut pandangan Gereja Katolik? Apakah seksualitas hanyalah sebagai sarana pemuas nafus belaka?
Gereja Katolik tentu memiliki kajian dan pandangan tersendiri mengenai seksualitas.
Seksualitas adalah Rahmat
Dalam kalangan Gereja Katolik Roma, seksualitas dilihat sebagai Rahmat yang diberi dan dicurahkan oleh Sang Pencipta. Pencurahan Rahmat itu dengan maksud dan tujuan agar manusia menjalin perkawinan antara laki-laki dan perempuan untuk melanjutkan keturunan (Beranak cucu dan berkembang biak), sebagaimana dilihat dalam Kitab Suci Kristiani Perjanjian Lama (Kejadian, 1:28).
Ini sekaligus mengandung perintah dari Tuhan bahwa seksualitas itu harusnya difungsikan seturut tujuannya yaitu mengambil bagian dalam penciptaan manusia dari Tuhan (Beranak cucu). Sehingga bagaimana mungkin pengeksploitasian seks itu jahat sekaligus dosa karena itu tidak sejalan atau berlawanan dengan maksud Tuhan sendiri.
Menurut Paus Paulus VI dalam ensiklik Humanae Vitae menuliskan bahwa “Aktivitas seksual, yang di dalamnya suami dan istri saling bersatu secara intim dan murni, yang melaluinya kehidupan manusia diteruskan, adalah ‘luhur dan berharga’ sebagaimana diingatkan oleh Konsili baru-baru ini.”
Sangatlah mungkin perkawinan (seks) itu suci dan luhur. Tetapi sangatlah mungkin perkawinan dan seks itu dosa bila pornoaksi itu dikedepankan demi pemuasan hasrat seks dan juga untuk memperoleh hasrat-hasrat lain (komersial, pameran).
Sangatlah mungkin bila dikatakan “seksualitas tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan manusia, melainkan untuk memenuhi keinginan semata.” Kebutuhan yang dimaksud adalah melanjutkan keturunan dan keinginan itu adalah pemuasan nafsu dan juga sarana pemenuhan finansia.
Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa hubungan seks memiliki suatu maksud (Kebaikan); dan melakukannya di luar pernikahan adalah bertentangan dengan maksud tersebut. sebagaimana dalam Katekismus Gereja Katolik, “Hawa nafsu adalah hasrat yang tidak teratur ataupun kenikmatan yang berlebihan atas kesenangan seksual. Kesenangan seksual itu secara moril tidak teratur ketika dicari untuk dirinya sendiri, dipisahkan dari tujuan prokreatif dan unitifnya.”
Dalam artian bahwa pernyataan ini mau mengetengahkan bahwa seksualitas manusia itu selain baik, namun juga buruk.
Buruknya dikarenakan tidak untuk mengambil bagian dalam prokreasi Tuhan (Seksualitas yang tidak sehat). Tidak sehatnya seksualitas itu seperti masturbasi, onani, komersial dan masih banyak lagi. Disini juga mau ditegaskan bahwa seksualitas itu juga berarti untuk menyatukan hati dan jiwa Perempuan dan Laki-laki sebagaimana Allah selalu bersatu dengan manusia
dan mencintai manusia.
Tubuh manusia itu merupakan representasi citra Allah sebagai Pencipta, sehingga tugas kita sebagai makhluk yang rapuh adalah menjaga citra itu sebagaimana tanda kehadiran Allah yang paling nyata. Tubuh bukan objek fantasi untuk melampiaskan penyeruakan daya seks yang tidak terkontrol.
Dari pemahaman-pemahaman seputar seksualitas ini, dapat ditarik benang merahnya bahwa Kalangan Katolik mengakui hakikat seksualitas adalah Rahmat dan Anugerah Allah yang sungguh luhur. Tetapi seksualitas itu juga jahat dikarenakan seksualitas itu dieksploitasi sehingga tidak searah maksud Allah yaitu bukan untuk beranak cucu, melainkan semata untuk pelampiasan
hasrat seks.
Yang mana, tindakan seks itu seharusnya diarahkan pada tujuan otentiknya yaitu untuk melanjutkan keturunan (Prokreasi), juga untuk menyatukan hati dan jiwa seorang perempuan dan laki-laki, tetapi malahan dibalikarahkan menjadi semacam sebuah permainan atau rekreasi saja. Apalah arti sucinya seksualitas itu bila perlakuan terhadap seksualitas itu semata-mata untuk memenuhi tuntutan hasrat.
Sekali lagi, seksualitas itu Rahmat Allah dan Suci!
Maka, hendaklah dan baiklah kita sebagai warga manusia yang beriman terutama sebagai remaja di era modern kembali melihat hakikat makna seksualitas yang dasarnya adalah suci. Terutama kita sebagai remaja katolik yang sedang berlabuh di dunia modern, harusnya kita mengangkat kembali kesungguhan makna dan tujuan seksualitas itu.
Apa yang diajarkan adalah baik kita lestarikan, dan apa yang tidak baik kita tinggalkan karena dunia modern ini memuat banyak sekali tawaran bombastis yang jauh dari kata baik, termasuk membawa perubahan pandangan terhadap seksualitas.
Mari kita bersama-sama berbenah untuk kembali memandang seks adalah Rahmat Allah yang Suci, sehingga tindakan seks yang tidak bermoral dapat diatasi karena itu adalah dosa. (Oleh: Yohanes Mario Viany Tmaneak, Mahasiswa Semester III Universitas Katolik Widya Mandira-Kupang).
Sumber: Daftar Pustaka
Kancak, ,. (2014). Perkawinan yang tak terceraikan menurut hukum kanonik. Lex et Societatis,
2(3). Diakses pada November 22, 2013, dari https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexetsocietatis/article/download/4660/4188
Makasau, R. (2013). Orang Muda Katolik: Antara Moralitas Seksual dan Trend Pergaulan bebas.
Jurnal Masalah Pastoral, 2(1), 39-47.
Prasetya, Y. (2018). Masturbasi Dalam Pandangan Gereja Katolik. Diakses pada November 21, 2023, dari https://osf.io/vs9k3/download
Setiawan, K. (2022). SEKSUALITAS SEBAGAI CIRI MARTABAT MANUSIA. Diakses pada November 23, 2023, dari https://jurnal.imavi.org/index.php/luxetsal/article/download/63/41
Tiba, ,. (2023). Seks Bebas Di Kalangan Remaja dan Dampaknya Terhadap Martabat ManusiaMenurut Pandangan Moral Kristiani. (Doctoral dissertation, IFTK Ledalero). Retrieved
from http://repository.iftkledalero.ac.id/1483/7/BAB persen20V-DAFTAR PUSTAKA.pdfWardhana,
E. (2023, April 7). Paus Fransiskus: Seks adalah Hal indah yang Diberikan Tuhanpada Manusia. Sindonews.com. Diakses pada November 23, 2023, dari https://international.sindonews.com/read/1066491/41/paus-fransiskus-seks-adalah-halindah-yang-diberikan-tuhan-pada-manusia 1680800652#:~:text=Paus Fransiskus: Seks adalah Hal indah persen 2
0yang Diberikan Tuhan pada Manusia,-Esnoe Faqih
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News