Kamis, 28 Mei 2026

Pekeja Asal Sikka Meninggal

Kelaparan, Pekerja Ilegal Sikka Meninggal di Balikpapan

Puluhan pekerja ilegal asal Sikka yang direkut oleh calo tenaga kerja menerima perlakuan yang mnyedihkan ketika berada di Kalimantan Timur.

Tayang:
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Egy Moa
zoom-inlihat foto Kelaparan, Pekerja Ilegal Sikka Meninggal di Balikpapan
TRIBUNFLORES.COM/HO-IST
JENAZAH - Jenazah Jodimus Moan Kaka didampingi anaknya Fransiskus Minggu saat berada di salah satu rumah sakit di Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM,MAUMERE-Pekerja ilegal asal Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Jodimus Moan Kaka meninggal di Balikpapan, Kalimantan Timur bukan hanya terserang penyakit, namun juga mengalami kelaparan selama beberapa hari. Para pekerja jarangan makan tiiga sekali sehari, sarapan diantar hingga pukul 23.00 Wita

"Sampai di pertengahan jalan, Kakak Jodi meninggal. Meninggal ini bukan karena penyakit tetapi karena lapar, kami tidak dikasih makan," ungkap Ari, seorang dari 72 pekerja ilegal, kepada  TribunFlores, Kamis 4 April 2024.

Ari membeberkan pengalaman sejak berangkat dari Pelabuhan Lorens Say, Maumere 12 Maret hingga tiba di Balikpapan. Mereka direkrut oleh YS alias Joker, calo tenaga kerja di Sikka.

Calon pekerja ilegal asal Kampung Galit, Desa Hale, Kecamatan Mapitara, setibanya di Pelabuhan Balikpapan,, mereka turun dan melanjutkan perjalanan menggunakan taksi menuju terminal bus.  Dari terminal bus, lanjut Ari, perjalanan menuju Simpang Kalteng menggunakan bus. Di Simpang Kalteng itulah mereka semua turun dan dipisahkan menjadi dua kelompok.

Baca juga: BREAKING NEWS : Sakit dan Diduga Ditelantarkan di Kalimantan Timur, Pekerja Sikka Meninggal Dunia

 

"Sisanya kami yang satu bus berangkat dari Simpang Kalteng ke tempat yang mereka sebut Kamp Baru. Kami turun di situ. Joker melalui orang suruhannya yang bernama Yanto membawa kami. Yanto sampaikan ke kami, kalau sampai di Kamp Baru. Kalau ada orang tanya bilang saja kami ini nyasar," Ari menirukan penjelasan Yanto. 

Setibanya di Kamp Baru, mereka tidur di sebuah bangunan tanpa dinding. Bangunan itu kata Ari diketahui sebagai Tempat Penitipan Anak (TPA). Kemudian mereka dipindahkan lagi ke sebuah klinik.

"Untuk makan minum kami mesti tunggu dari orang suruhan Joker mengantar makanan. Makan pagi kadang tunggu sampai malam baru diantar. Kami sampai dikasih nasi basi.  Terpaksa kami tidak makan, barulah mereka mengambil nasi untuk kami makan," ungkap Ari. 

Setelah makan, mereka dibabikan alat kerja berupa parang dan peralatan dapur untuk persiapan masuk kerja. Mereka dibawa menuju sebuah pondok yang sama sekali tidak dilengkapi dengan peralatan dapur, peralatan tidur dan lampu.

Baca juga: Calo Bayar Oknum Aparat Rp 5 Juta di Pelabuhan Lorens Say Loloskan 72 Tenaga Kerja Ilegal 

"Kami terpaksa bertahan di pondok itu. Untuk makan, kami diminta tunggu saja karena nanti diantar nasi. Kami tungu sampai jam 11 malam tidak ada nasi yang diantar. Kami kemudian pulang kamp. Sampai di lamp yang ada kantor, kami tanya ke mereka, kenapa tidak ada makanan untuk kami. Bagaimana kami bisa kerja kalau tidak ada makanan yang masuk. Paginya saya dipanggil menghadap kemudian ditanya mau kerja atau tidak? Saya sampaikan, kami butuh makanan baru bisa kerja. Bos itu bilang nanti kami informasikan ke Pa Yuvinus. Kami tunggu berhari-hari tidak ada informasi," tutur Ari. 

Menunggu beberapa hari tak ada informasi dari YS, untuk bertahan hidup mereka  akhirnyaa membantu pekerjaan memotong kayu untuk dijual. Saat itulah Jodimus Moan Kaka calon pekerja asal Desa Hoder, Kecamatan Waigete menderita sakit.

"Saya kemudian telfon Pa Yuvinus sampaikan bahwa Kakak Jodi sakit parah. Sebaiknya pulangkan saja dengan anaknya. Pa Yuvinus janji akan carikan tiket. Namun sampai Kakak Jodi meninggal, tiket kapal tidak ada. Dia juga suruh rujuk ke rumah sakit. Suruh kami semua ikut, tetapi kami uang satu sen pun tidak ada. Jadi kami tidak ada biaya sama sekali untuk kesana," beber Ari lagi.

Pada Kamis, 28 Maret 2024, lanjut Ari, Jodimus Moan Kaka bersama anaknya Fransiskus Minggu turun ke Balikpapan karena mendapat uang kiriman dari istrinya. Uang itu rencananya untuk berobat juga untuk beli tiket pulang kembali ke Maumere.  Namun sampai di pertengahan jalan, Jodi meninggal. *

Berita TRIBUNFLORES.COM lainnya di Google News

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved