Sabtu, 25 April 2026

Hari Bumi 2024

Rayakan Hari Bumi, Agroliterasi-Ekoliterasi Paroki Detukeli Siap Diresmikan

Agroliterasi-ekoliterasi dengan tema Mencari Gereja pada Basis itu menjadi gebrakan baru di wilayah Keuskupan Agung Ende.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Rayakan Hari Bumi, Agroliterasi-Ekoliterasi Paroki Detukeli Siap Diresmikan
TRIBUNFLORES.COM / HO-PATER SELO
KEBUN LITERASI - Kebun literasi Paroki Roh Kudus Detukeli, Keuskupan Agung Ende, Kabupaten Ende, Flores. NTT.Paroki Roh Kudus Detukeli Keuskupan Agung Ende di Desa Detukeli, Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) akan meresmikan kawasan agroliterasi-ekoliterasi Minggu 21 April 2024 mendatang. 

TRIBUNFLORES.COM, DETUKELI - Paroki Roh Kudus Detukeli Keuskupan Agung Ende di Desa Detukeli, Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) akan meresmikan kawasan agroliterasi-ekoliterasi Minggu 21 April 2024 mendatang.

Agroliterasi-ekoliterasi dengan tema Mencari Gereja pada Basis itu menjadi gebrakan baru di wilayah Keuskupan Agung Ende.

Pastor Paroki Roh Kudus Detukeli, Charles Beraf, SVD menjelaskan merayakan hari Bumi pihaknya mengadakan sejumlah kegiatan tematik.

"Hari Bumi yang jatuh pada Senin 22 April 2024, akan dirayakan secara meriah di Paroki Detukeli pada 21 April 2024 dengan acara antara lain, Ekaristi bersama, peresmian lokasi agroliterasi ekoliterasi Detukeli, talk show, makan bersama dengan aroma lokal, dan tentu saja dengan gawi bersama,"ujar Pater Charles kepada TRIBUNFLORES.COM Jumat 19 April 2024.

Baca juga: Perarakan Minggu Palma Lewat Kebun, Pater Charles: Berkebun Adalah Ibadah Umat Paroki Detukeli

 

Pater yang merupakan Dosen aktif IFTK Ledalero ii membeberkan alasan mengapa hari bumi dirayakan di gereja.

"Mengapa hari bumi dirayakan gereja? Gereja, kata om Gesti (Ketua P4S NTT), sedang kehilangan roh pertanian. Gereja jaman sekarang adalah gereja gedung, gereja mimbar, gereja iuran, gereja mobil, gereja android, dan gereja motor keren, gereja tiga kali makan. Makin sulit kita temukan sekarang gereja yang berani ‘turun dan membasuh kaki para murid’, yang pahami betul bagaimana mirisnya fakta gagal tanam/panen akibat kekacauan iklim yang dialami para petani,"jelasnya.

Menurut Pater Carles saat ini sulit sekali menemukan gereja yang berbasis pada darah dan keringat para petani.

Padahal para petani banyak berpikir tentang biaya anak sekolah, makan minum, urusan adat, pesta, bahkan berapa iuran harus dilunasi (kalau tidak tidak dilayani sakramen).

Baca juga: BMKG Sebut Wilayah Manggarai dan Manggarai Timur Berpotensi Hujan Hari Ini

"Kami merayakan perayaan ini tak lain untuk mengingatkan kami dan mungkin juga yang lain bahwa tugas kami sesungguhnya adalah membawa hidup kami (imam dan umat) ke dalam dan melalui sakramen. Seperti Yesus yang membawa hidup semua orang ke dalam dan melalui peristiwa salib, kami hendak mengikuti jalan unik ini memuncakkan seluruh perjuangan kami sebagai petani di dalam sakramen. Kami tidak menunggu persembahan saja saat ekaristi, tetapi bersama-sama mempersembahkan seluruh korban kami, menyatukannya dengan korban Yesus,"ujarnya.

Ia menerangkan selain ekaristi, perayaan ini akan disemaraki dengan Talk Show, berbicara tentang ekoliterasi, agroliterasi.

"Mengapa literasi? praksis bermula dari pemahaman. Itu sebabnya perayaan ini terutama melibatkan anak anak sekolah dan remaja untuk berpikir dan berpraksis sejak dini tentang pertanian. Pada kesempatan yang sama kami juga akan meresmikan lokasi agroliterasi ekoliterasi paroki, tempat orang belajar mencintai alam dan pertanian,"ujarnya.

Ia menerangkan pada hari yang sama akan meresmikan sekolah Pendidikan Usia Dini (Paud) Kajuoto. Paud berbasis pertanian, berbasis alam yang merupakan milik paroki dan ditangani langsung oleh Paroki.

"Niat kami murni berjuang untuk melawan gereja gedung, gereja iuran, gereja android, gereja mobil keren dengan berbasis pada hidup dan perjuangan umat,"ujarnya.

"Moto paroki kami mungkin kedengaran aneh, Dari Pertanian menuju Allah. Kami berani berkotor tangan, belepotan dengan tahi babi dan dedaunan, karena kami menyadari bahwa Yerusalem kami yang sesungguhnya bukan mimbar, tapi kebun,"ujarnya. (GG).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved