Erupsi Lewotobi Laki laki
Siaga Darurat Bencana Gunung Lewotobi Diperpanjang Selama 3 Bulan
Pemerintah Kabupaten Flores Timur, NTT, resmi memperpanjang status tanggap darurat bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki dari 25 Juni 2024 hingga 2
Penulis: Paul Kabelen | Editor: Ricko Wawo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/palulo.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kabelen
TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA- Pemerintah Kabupaten Flores Timur, NTT, resmi memperpanjang status siaga darurat bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki dari 25 Juni 2024 hingga 25 September 2024.
Sebelumnya Pemerintah di daerah itu telah menetapkan status siaga darurat bencana tanggal 10 Juni hingga 24 Juni 2024 atau selama dua pekan.
Perpanjangan status selama tiga bulan ini berdasarkan hasil rapat dipimpin Sekretaris Daerah Flores Timur, Petrus Pedo Maran, Senin, 24 Juni 2024.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Avelina Manggota Hallan, mengatakan pihaknya segera membuka posko lapangan untuk memudahkan koordinasi dan komunikasi bencana di Kantor Camat Wulanggitang.
"Pos lapangan secara fisik rencananya besok (Rabu, 26 Juni 2024). Besok kita ke bawah," katanya kepada wartawan, Selasa, 25 Juni 2024.
Baca juga: TRC BPBD Sikka Siaga Abu Vulkanik Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki
Pos lapangan dimaksud untuk mempermudah komunikasi dengan Pos Komando di Kantor BPBD Flores Timur terkait situasi bencana erupsi gunung yang kini bertatus Level III (Siaga).
Sementara lokasi pengungsian jika sewaktu-waktu aktivitas gunung semakin meningkat, Pemkab Flores Timur menyiapkan dua lokasi yaitu di Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang dan Desa Bokang Wolomatang, Kecamatan Titehena.
Pantauan TRIBUNFLORES.COM, hampir satu bulan ini terdapat 12 desa terdampak belerang gunung. Ada delapan desa di Kecamatan Wulanggitang dan satu desa di Kecamatan Ile Bura terdampak abu tebal.
Desa-desa terdampak parah yaitu Desa Boru, Desa Persiapan Padang Pasir, Desa Hokeng Jaya, Desa Klatanlo, Desa Dulipali, Nawokote, Desa Persiapan Nawokote B, Desa Pululera, dan Desa Boru Kedang.
Warga desa di Lereng Gunung Lewotobi setiap hari menghirup aroma belerang. Banyak warga mulai terserang penyakit. Mereka terus diteror erupsi gunung disertai gemuruh kuat hingga merasakan getaran.
Para petani tak bisa bekerja selama bencana erupsi. Mereka sulit mengangsur pinjaman, termasuk biaya anak sekolah serta memenuhi kebutuhan makan minum setiap harinya.
Sayuran dan buah-buahan kini tercemar abu vulkanik. Atap rumah pun mulai rusak dan berkarat karena abu tebal selama erupsi.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News