Berita Flores Timur
Bangkai Babi Dibuang Sembarang, Ternak Mati di Flores Timur 1.919 Ekor
Meski ancaman virus African Swine Faver (ASF) atau demam babi afrika semakin serius mewabah di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, namun peri
Penulis: Paul Kabelen | Editor: Ricko Wawo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/bANGKAI-BABI.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kabelen
TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA-Meski ancaman virus African Swine Faver (ASF) atau demam babi afrika semakin serius mewabah di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, namun perilaku membuang bangkai babi masih terus berlangsung.
Lingkungan terbuka seperti pantai dan pinggir hutan dijadikan tempat pembuangan babi mati diduga terpapar ASF. Seperti di wisata Kelapa Enam, Kelurahan Weri, Kecamatan Larantuka tanggal 10 Maret 2025.
Kemudian pembuangan seekor bangkai babi di Desa Lewohedo, Kecamatan Solor Timur, Pulau Solor yang viral pada Senin, 5 Mei 2025. Selain itu, satu ekor bangkai babi berukuran besar pun dibuang di pinggir jalan wilayah pantai selatan Kecamatan Wulanggitang.
Baca juga: Novi Mengaku Tak Cuci Tangan saat Bersalaman dengan Wapres Gibran di Kolisia Sikka NTT
Pemilik ternak di beberapa tempat terpantau bebas menyembelih babi sakit untuk diedarkan ke sesama warga. Padahal, penularan ASF kian meluas jika peredaran daging dibiarkan bebas tanpa pemeriksaan ketat.
"Kematian ternak babi semakin banyak. Virus ASF bisa diantisipasi jika semua orang sadar tentang bahaya penularannya," imbuh Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) di Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunter) Flores Timur, Vian Kiti Tokan, Selasa, 6 Mei 2025.
Tokan menyebutkan, saat ini 1.919 babi sudah mati dan 1 di antaranya positif ASF. Data ini tercatat pada 28 Februari hingga 30 April 2025. Kematian terbanyak disumbang Kecamatan Larantuka yaitu 1.521 ekor.
"Kecamatan Ile Mandiri 223 ekor, Lewolema 68 ekor, Tanjung Bunga 31 ekor, Solor Barat 5 ekor, Adonara Barat 1 ekor, Wulanggitang 12 ekor, Ile Bura 2 ekor, Titehena 11 ekor, Demon Pagong 34, dan Adonara Timur 11 ekor," paparnya.
Baca juga: Warga Kolisi B Sikka, Margaretha Iko Minta Alat Tenun ke Wapres Gibran Rakabuming
Menurutnya, dari jumlah itu, kelurahan yang paling banyak terpapar adalah Sarotari Tengah dengan jumlah 275 ekor, disusul Kelurahan Sarotari Timur 246 ekor.
Upaya mengatasi kematian ternak babi ini masih dengan pola biosecurity. Menurut dia, bagian kesehatan hewan akan mengusulkan vaksin darurat dari Vietnam.
Meski mahal, sambungnya, Disbunter Flores Timur akan mengusulkan hal itu karena vaksin darurat dari Vietnam diijinkan keluar ke negara Indonesia tanggal pada 25 April 2025.
"Nanti kita akan usulkan dulu. Memang harganya masih lumayan mahal. Sebenarnya babi mati harus dikubur, itu tindakan biosecurity jalan," paparnya.
Dia berharap masyarakat dapat menguburkan babi yang mati serta tidak mengedarkan daging dari babi sakit.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
Virus Babi Afrika
Bahaya Virus ASF di Flores Timur
Bahaya Virus ASF
Kasus Virus ASF
TribunFlores.com
| Novi Mengaku Tak Cuci Tangan saat Bersalaman dengan Wapres Gibran di Kolisia Sikka NTT |
|
|---|
| Persebata Lembata Wakili NTT di Babak 16 Besar Liga 4 Seri Nasional |
|
|---|
| Langit Maumere Mendung saat Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka Tiba di Bandara Frans Seda |
|
|---|
| Warga Kolisi B Sikka, Margaretha Iko Minta Alat Tenun ke Wapres Gibran Rakabuming |
|
|---|