Jumat, 1 Mei 2026

Renungan Katolik Hari Ini

Renungan Katolik Senin 9 Juni 2025, Maria Datang kepada Yesus 

Mari simak renungan Katolik Senin 9 Juni 2025. Tema renungan Katolik Maria datang kepada Yesus.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Renungan Katolik Senin 9 Juni 2025, Maria Datang kepada Yesus 
TRIBUNFLORES.COM / GG
PATER JOHN LEWAR SVD - Sosok Pater John Lewar, SVD.Mari simak renungan Katolik Senin 9 Juni 2025. Tema renungan Katolik Maria datang kepada Yesus. 

Oleh: Pastor John Lewar SVD

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan Katolik Senin 9 Juni 2025.

Tema renungan Katolik Maria datang kepada Yesus.

Renungan katolik ada di bagian akhir artikel ini.

Hari ini Senin 9 Juni 2025 merupakan Hari Senin biasa, Peringatan Wajib SP Maria Bunda Gereja, Santo Primus dan Felicianus, Martir, Santo Efrem, Pujangga Gereja, Beata Diana, Sesilia dan Amata, Perawan, Beata Anna Maria Taigi, Pengaku Iman, dengan warna liturgi putih.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 9 Juni 2025, Ibu, Inilah Anakmu

 

Adapun Bacaan Liturgi Katolik Hari Senin 9 Juni 2025 adalah sebagai berikut:

Bacaan Pertama Kej 3:9-15.20

Aku akan mengadakan permusuhan antara keturunanmu dan keturunan wanita itu.

Pada suatu hari, di Taman Eden, setelah Adam makan buah pohon terlarang, Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya, “Di manakah engkau?” Ia menjawab,

“Ketika aku mendengar bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Lalu Tuhan berfirman, “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? 

Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Manusia itu menjawab, “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

Kemudian berfirmanlah Tuhan Allah kepada perempuan itu, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu, “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” Lalu berfirmanlah Tuhan Allah kepada ular itu, “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan!  

Dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu! Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya.

Keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Manusia itu memberi nama Hawa kepada istrinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

ATAU BACAAN LAIN: Kis 1:12-14

Dengan sehati mereka semua bertekun dalam doa bersama.

Setelah Yesus diangkat ke surga, dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, kembalilah para rasul dari sana ke Yerusalem yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya. Setelah tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas tempat mereka menumpang. 

Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Dengan sehati mereka semua bertekun dalam doa bersama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 87:1-2.3.5.6.7

Pujilah Tuhan, hai segala bangsa!

Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya; Tuhan lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.

Tetapi tentang Sion dikatakan: “Tiap-tiap orang dilahirkan di dalamnya,” dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya.

Pada waktu mencatat bangsa-bangsa Tuhan menghitung: “Ini dilahirkan di sana.” Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai, “Semua mendapatkan rumah di dalammu.”

Bait Pengantar Injil: Alleluya
Ref. Alleluya, alleluya.

Berbahagialah engkau, Perawan yang mengandung Tuhan; engkaulah Bunda Gereja yang bersukacita yang mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan Yesus Kristus, Putramu.

Bacaan Injil Yoh 19:25-34

Inilah ibumu.

Waktu Yesus bergantung di salib, dekat salib itu berdiri ibu Yesus, dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya,

berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” 

Dan sejak sat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya. Sesudah itu, karena tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Yesus, supaya genapah yang ada tertulis dalam Kitab Suci “Aku haus!”

Di situ ada suatu wadah penuh anggur asam. Maka mereka mencelupkan bunga karang dalam anggur asam itu, mencucukkannya pada sebatang hisop, lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. 

Sesudah meminum anggur asam itu, berkatalah Yesus, “Sudah selesai!” Lalu Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya. Karena hari itu hari persiapan, dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib — sebab Sabat itu adalah hari yang besar — maka datanglah para pemuka Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan, dan jenazah-jenazahnya diturunkan. 

Lalu datanglah prajurit-prajurit dan mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus. Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Katolik

Surga ada di telapak kaki ibu”. Suatu ungkapan yang familiar bagi kita. 
Ungkapan ini memiliki pesan yang luar biasa yakni betapa mulianya peran 
seorang ibu dalam kehidupan setiap manusia. Setiap orang memiliki ibu 
yang terlibat dalam sejarah hidup anaknya. Sedari kandungan, ibu telah 
memainkan peran dalam mengandung dan melahirkan anaknya. Segala 
sesuatu yang baik diusahakan oleh ibu. Dalam Injil kita melihat seorang 
ibu yang luar biasa berperan dalam kehidupan anaknya. Ibu itu adalah 
Bunda Maria. 

Tidak banyak yang setia menemani Yesus pada saat-saat akhir hidup
Nya. Satu dari sedikit orang itu adalah Maria. Dengan hati pedih, Maria 
mendampingi Anaknya menyongsong maut di kayu salib. Ia adalah ibu 
yang berduka karena harus menyaksikan buah hatinya sendiri dibunuh 
dengan kejam. Namun, Maria adalah juga ibu yang setia, tabah dan 
sungguh mengasihi Sang Putra.  

Kasihnya yang besar ditanggapi dengan kasih yang besar pula oleh Yesus. 
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Ia memberikan wasiat. 
Menunjuk murid-Nya yang terkasih, Yesus berkata kepada Maria, “Ibu, 
inilah anakmu.” Hal yang sama dikatakan kepada murid-Nya itu bahwa 
Maria adalah ibunya.Wasiat ini dipahami Gereja sebagai pernyataan 
bahwa umat beriman dipercayakan kepada Maria, dan bahwa kita sebagai 
umat beriman hendaknya menyambut Maria secara istimewa sebagai ibu 
kita.  

Dalam Injil, Tuhan Yesus memberikan Bunda Maria kepada muridnya, dan 
mereka saling menerima satu dengan yang lain. Tindakan ini mengakhiri 
kesedihan Bunda Maria. Hal ini berarti di ujung penderitaan setiap orang 
Tuhan pasti telah menyediakan hadiah kekal untuk mereka yang bertahan 
dari segala kesukaran hidup dengan tetap berpegang teguh dalam 
imannya akan Allah. Seperti Bunda Maria, walaupun sering berjumpa 
dengan kesedihan dalam hidup, ketaatannya terhadap kehendak Allah 
tetap tak tergoyahkan.  

Hari ini kita memperingati Santa Perawan Maria Bunda Gereja. Ada tiga 
hal yang menjadi dasar refleksi kita pada hari ini. Pertama, Maria menjadi 
teladan iman yang dekat dengan Misteri Salib. Injil di atas memberi 
gambaran jelas bahwa Bunda Maria telah memberi teladan iman yang 
konsisten-setia. Iman yang dihayati Maria, teristimewa dalam drama 
penyaliban Yesus adalah Iman yang bergerak dalam tatapan hening 
kepada Yesus. Dalam kesedihan mendalam, Maria “melihat” peristiwa 
Salib dalam kepasrahan total pada rencana Tuhan. Tak tangguh-tangguh, 
Yesus yang melihat Ibunya yang konsisten-setia mencurahkan anugerah 
istimewa bagi kita melalui murid yang dikasihi-Nya untuk menerima Maria 
sebagai Ibu kita. 

Kedua, Bersama Maria kita mempersembahkan perjalanan hidup iman 
kita dalam dan melalui Ekaristi. Dari sinilah kita paham, bahwa 
peringatan ini jatuh pada hari sesudah Pentekosta karena Roh Kuduslah 
yang menyertai ziarah kita bersama Bunda Maria menuju persatuan 
dengan Yesus melalui: Misteri Salib, Ekaristi dan Gereja.  

Ketiga, Maria memberi dirinya sebagai ibu Yesus Sang Penebus dan Ibu 
bagi anak-anak yang ditebus. Satu hal yang dapat kita renungkan dalam 
pengalaman hidup iman kita: kalau ada penderitaan atau kesulitan dalam 
hidup harian kita, lihatlah Salib Yesus, serahkan hati kita kepada Yesus 
melalui Ekaristi dalam keheningan batin dan kepasrahan total pada Yesus. 
Ia akan membalas tatapan iman kita yang hening dengan suara kasih
Nya: Ibu, inilah anakmu, dan inilah Ibumu”. 

Perjalanan Gereja penuh tantangan, begitu pula perjalanan hidup kita. 
Jangan takut, Surga ada di telapak kaki ibu”. Sebab kita tidak sendirian. 
Maria setia mendampingi kita, bahkan dalam saat-saat yang paling berat. 
Bersama Maria, kita dapat menjalani hidup dengan tenang, sebab 
berjalan bersamanya, kita akan diantar sampai kepada sang Putra. 
Kesatuan antara Kristus, Bunda Maria, dan Gereja sungguh tak 
terpisahkan. Hati Bunda Maria selalu terbuka menerima keluh-kesah kita 
untuk disampaikan kepada Kristus Putranya dan senantiasa menyertai 
kita dengan doa-doanya. 

Doa:  

Ya Bunda Maria, bunda yang penuh kasih, doakanlah kami agar tetap 
setia menjadi pengikut Putramu Yesus Kristus. Amin 
Sahabatku yang terkasih, Selamat memperingati Santa Perawan Maria 
Bunda Gereja. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana 
saja berada: Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin (Sumber iman katolik.com/kgg).

Berita TRIBUNFLORE.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved