Senin, 4 Mei 2026

Injil Katolik

Injil Katolik Senin 23 Juni 2025 Lengkap Mazmur Tanggapan

Mari simak Injil Katolik Senin 23 Juni 2025. Injil katolik lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Injil Katolik Senin 23 Juni 2025 Lengkap Mazmur Tanggapan
TRIBUNFLORES.COM/MARIA MANGKUNG
PETUGAS LITURGI: Mari simak Injil Katolik Senin 23 Juni 2025. Injil katolik lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak Injil Katolik Senin 23 Juni 2025.

Injil katolik lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.

Hari Senin 23 Juni 2025 merupakan hari Senin biasa, Santo Santo Yosef Kafasso, Pengaku Iman, Santa Etheldreda, pengaku Iman, dengan warna liturgi hijau.

Adapun bacaan liturgi Katolik Hari Senin 23 Juni 2025 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Bacaan Injil Katolik Senin 23 Juni 2025 Lengkap Renungan Harian Katolik

 

Bacaan Pertama Kej 12:1-9

Abraham berangkat sesuai dengan sabda Tuhan.

Di negeri Haran Tuhan bersabda kepada Abram, “Tinggalkanlah negerimu, sanak saudaramu dan rumah bapamu ini, dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 

Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan segala kaum di muka bumi akan mendapat berkat karena engkau.”

Maka Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan bersabda,”Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.”Maka Abram mendirikan di situ sebuah mezbah bagi Tuhan, yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. 

Di sana ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat, dan Ai di sebelah timur. Lalu ia mendirikan sebuah mezbah di situ bagi Tuhan, dan memanggil nama-Nya. Sesudah itu Abram berangkat lagi, dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 33:12-13.18-19.20.22

Ref: Berbahagialah bangsa yang dipilih Tuhan menjadi milik pusaka-Nya.

Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya! Tuhan memandang dari surga, dan melihat semua anak manusia;

Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya; Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan. Dialah penolong dan perisai kita. Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

Bait Pengantar Injil Ibr 4:12

Firman Tuhan itu hidup dan kuat, menusuk ke dalam jiwa dan roh.

Bacaan Injil Mat 7:1-5

Keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri.

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata: “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi. 

Dan ukuran yang kalian pakai untuk mengukur, akan ditetapkan pada kalian sendiri. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? 

Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu, ‘Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal di dalam matamu sendiri ada balok?’ Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Katolik

Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus.

Dalam Bacaan Injil Matius 7:1-5 hari ini mengisahkan tentang Keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri.

Janji Allah dan karakter Abram
Respons Abram terhadap janji Allah menunjukkan karakternya. 

Ia taat pada perintah dan ia berpegang pada janji Tuhan untuk berkat yang lebih besar kelak (ayat 5). 

Tuhan menjanjikan Abram terkenal dan menurunkan bangsa yang besar (ayat 1-2).

Namun ia harus melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Ini berarti meninggalkan rumahnya, teman-temannya, untuk kemudian menjelajah tanah yang baru.

Ada rancangan Allah yang baik di balik pemanggilan Abram. Kota Ur, adalah kota yang tidak mengenal Tuhan dan penuh dengan penyembahan berhala. Sebaliknya, Kanaan adalah sebuah daerah subur yang akan menjadi persemaian sebuah bangsa yang berpusat kepada Tuhan.

Meski tidak terlalu luas, tanah Kanaan menjadi titik penting bagi sejarah kehidupan Israel dan kebangkitan Kekristenan. Tanah yang tidak terlalu luas itu diberikan kepada seseorang yang memiliki karakter tegas dalam mengasihi dan menaati Tuhan (ayat 7).

Karena karakternya itu, Abram merasakan kebaikan Tuhan sekaligus memberi dampak kebaikan yang tidak kecil bagi sejarah dunia ini. Ada karakter Abram yang lain. Abram mendirikan mezbah bagi Tuhan (ayat 7).

Mezbah memang banyak digunakan oleh penganut agama-agama lain pada zaman itu. Namun bagi Abram, mezbah lebih dari sekadar tempat untuk mempersembahkan kurban. Mezbah dari batu yang kokoh itu menjadi simbol persekutuan Abram dengan Allah untuk mengingat kembali perjumpaan bermakna dengan Dia.

Tuhan mungkin sedang membimbing Anda ke tempat di mana Anda dapat melayani Dia dan berguna bagi Dia. Jangan biarkan keamanan dan kenyamanan yang Anda rasakan saat ini, membuat Anda enggan terlibat dalam penggenapan rencana baik Tuhan tersebut.

Spiritualitas Abram mungkin tidak akan bertahan tanpa pembaruan cinta dan setianya kepada Tuhan. Mezbah yang dibangun Abram menolong dia untuk mengingat bahwa Allah adalah pusat hidupnya. Bagaimana dengan Saudara? Apakah Allah juga menjadi pusat hidup Saudara saat ini?

Mazmur, Hasrat untuk memuji.
Sukacita, keriangan, hasrat, dan antusiasme untuk memuji Tuhan yang disertai dengan pemahaman yang benar, mungkin secara perlahan mulai tergeser dari kehidupan ibadah kita.

Perayaan dan sukacita dalam ibadah adakalanya menjadi sesuatu yang dipandang tabu ataupun sebaliknya diubah menjadi sarana hiburan semata. Tidaklah demikian dengan Mazmur 33 yang digunakan dalam ritual puji-pujian kepada Allah Israel ini.

Mazmur ini merupakan suatu ajakan bagi kita untuk memuji Tuhan dengan pemahaman yang benar dan penuh semangat.

Secara khusus Mazmur ini bertujuan memproklamasikan, mengajarkan serta menguatkan keyakinan orang-orang benar untuk mempercayai Tuhan. Melalui Mazmur ini kita dibimbing untuk mengungkapkan kesetiaan, keadilan, hukum, dan kasih setia Tuhan dalam pujian yang penuh sorak-sorai dengan iringan musik yang dipetik baik-baik.

Alasan dari ajakannya terdapat dalam lirik-liriknya yang berbicara tentang kekuasaan Tuhan atas seluruh alam semesta, bangsa-bangsa (ayat 10-12), dan umat manusia (ayat 13-17).

Ia memenuhi bumi dengan kasih setia-Nya; Ia memandang dari sorga, melihat semua anak manusia, menilik seluruh penduduk bumi dari tempat kediaman-Nya, dan mengarahkan pandangan mata-Nya secara khusus “kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan” (ayat 13, 14, 18).

Tiada kekuasaan, kekuatan, dan ketangkasan lain yang jadi tumpuan (ayat 16-17). Karena hanya Dialah, yang layak menerima pujian “sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya”, Ia layak menjadi tumpuan doa kita: “Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu” (ayat 21- 22).

Pemazmur menaikkan pujian bukan hanya sebagai pelengkap dan bagian dari ritual ibadah yang dilakukannya. Pujian yang dinyanyikannya dengan penuh semangat merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari pemahaman-Nya tentang Tuhan.

Sudahkah kita memuji Tuhan dengan hasrat, pemahaman, dan penjiwaan akan karakter serta karya Allah yang dikerjakan bagi kita? Marilah kita menaikkan pujian kepada Tuhan dengan penuh antusias dan semangat dengan pemahaman yang benar tentang karakter-Nya.

Injil Hari ini, Jadilah saudara, bukan hakim sesamamu!
Tuhan Yesus tidak saja mengajar para pengikut-Nya tentang relasi dengan Allah dan sikap terhadap harta. Ia ingin para murid-Nya memiliki relasi yang benar dengan sesamanya.

Tuhan Yesus melarang kita menghakimi (ayat 1). Maksud Tuhan bukan berarti kita tidak usah memedulikan kesalahan orang lain dan membiarkan ia hidup dalam kesalahan. Ia juga tidak bermaksud bahwa Allah melarang adanya lembaga peradilan.

Maksud Tuhan, kita tidak boleh menghakimi dengan menggunakan ukuran yang keras dan tidak bertujuan untuk memulihkan. Ia juga melarang kita menghakimi dengan standar ganda: ukuran yang lunak dan rendah untuk diri sendiri, ukuran yang keras dan terlalu tinggi untuk orang lain (ayat 3-4). Ayat 5 jelas menunjukkan bahwa kita perlu menggunakan kapasitas penilaian kita dengan baik, asal tidak munafik.

Tuhan Yesus juga realistis tentang keinginan baik kita dalam membangun relasi dengan sesama. Bila tadi Ia menentang orang yang terlalu membesarkan masalah orang akibat mengenakan standar terlalu berat, kini Ia menentang orang yang terlalu menganggap enteng masalah sebab menggunakan ukuran yang terlalu rendah.

Tuhan keras sekali menyebut bahwa ada orang yang bagaikan anjing atau babi (ayat 6) keduanya menekankan kondisi najis dan bebal yang tidak responsif kepada-Nya.

Penggunaan standar ganda sering kita jumpai masa kini, baik dalam masyarakat luas maupun dalam kalangan gereja. Entah kita cenderung meringankan kesalahan diri sendiri dan memberatkan kesalahan orang lain, atau kita menilai orang dengan memandang kedudukannya.

Keduanya tidak Tuhan perkenan atau izinkan. Tuhan Yesus ingin agar kita bertindak sebagai saudara terhadap sesama kita, bukan menjadi hakim apalagi algojo.

Doa Penutup
Tuhan Yesus, dengan ini aku menaruh pada kaki-kaki-Mu nama semua orang yang telah menyakiti hatiku.

Engkau mengenal mereka masing-masing dan mengetahui juga setiap peristiwa yang menyangkut kami.

Basuhlah aku dalam kasih-Mu sehingga aku pun dapat mengampuni mereka. Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved