Berita Sikka
Teater Setali Cahaya di Maumere: Hantu Kapitalisme dan Ancaman Pantai yang Direnggut Pariwisata
Selama dua malam, Sabtu-Minggu, 12-13 Juli 2025, Komunitas KAHE Maumere dan Aghumi Bali mempersembah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Dimas-Radjalewa.jpg)
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE-Tapi sekarang, di pantai biasanya muncul hantu-hantu yang lebih menyeramkan, di pagi, siang atau malam hari. Itu hantu-hantu yang merampas pantai-pantai kami, yang membuat kami harus membayar uang lebih, kalau kami ingin melihat pemandangan laut. Saya ingin hantu sungguhan mengusir jenis hantu semacam ini.
Selama dua malam, Sabtu-Minggu, 12-13 Juli 2025, Komunitas KAHE Maumere dan Aghumi Bali mempersembahkan teater “Setali Cahaya: Pantai dan Perihal yang Tak Sempat Kita Bicarakan” di Aula Rumah Jabatan Bupati Sikka.
Setali Cahaya menelusuri jejak tak terlihat sistem kapitalisme dari percakapan personal para aktor. Teknik ini cukup mujarab membius penonton, mengingat cerita-cerita personal itu begitu dekat dengan kehidupan warga, membuat orang-orang ingat; ketidakadilan macam ini perlu disadari. Terdengar klise memang, tetapi kapitalisme sudah menembus inti terdalam dari eksistensi manusia yakni kebebasan. Maka dari itu, pertanyaan, “apakah kita sungguh-sungguh punya pilihan?” menjadi sulit dijawab dalam satu tarikan napas.
Kapitalisme neoliberal dengan dalih pariwisata perlahan merenggut kebahagiaan warga dalam aktivitas piknik atau pesiar. Sejumlah kewajiban ditetapkan, seperti karcis masuk di lokasi pantai, sewa lopo, sewa ban dalam, dan rupa-rupa penyewaan fasilitas wisata lainnya. Ini menggambarkan semakin sulit dan mahalnya akses untuk melihat pemandangan laut.
Dalam pertunjukan ini, akademisi Dimas Radjalewa memaparkan hasil risetnya tentang historiografi kata ‘piknik’ dan ‘pesiar’. Pada masa kolonial, dua kata ini merujuk pada aktivitas yang hampir serupa, tetapi dilakukan oleh dua kelompok kelas yang berbeda.
Kata ‘Piknik’ (serapan dari bahasa Belanda) lebih merujuk pada aktivitas elit kolonial dan kaum pribumi terpelajar mengisi waktu luang di akhir pekan atau hari libur. Sedangkan, ‘pesiar’ (bahasa Melayu) merujuk pada aktivitas serupa tetapi lebih akrab dilakukan kaum pribumi.
Dia menelaah penggunaan dua kata ini dari arsip koran dan karya sastra pada masa Hindia Belanda. Kata ‘pariwisata’ sendiri baru muncul pada era orde baru. Dengan metode kolokasi dalam ilmu linguistik, leksikon ‘pariwisata’ selalu berkombinasi dengan kata-kata seperti; industri, modal, pariwisata, sarana, pengembangan.
Pemaparan Dimas memperlihatkan konsep-konsep pariwisata selama ini selalu berorientasi pada modal, kapital, dan bukan pada manusia dan kebudayaannya.
“Maka tidak heran, terjadi komodifikasi budaya di mana-mana hanya untuk menyenangkan mata para pelancong,” kata Kerin Degerald, guru SMK di Maumere setelah menonton Setali Cahaya.
Di Maumere, piknik memang masih bisa dilakukan oleh siapa saja selama masih ada pantai yang bisa diakses. Meskipun, ada garis pantai yang sudah diprivatisasi dan butuh duit untuk akses masuk, piknik belum merupakan aktivitas yang ekslusif di Maumere. Namun, Dimas memperingatkan, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, bisa jadi piknik di Maumere kembali jadi piknik ala masa kolonial, hiburan kelompok elit yang bisa mengokupasi pantai dengan dalih pariwisata berkelanjutan.
Sutradara Setali Cahaya, Wulan Dewi Saraswati yang tampil mempresentasikan risetnya tentang Pura Pecak Petali, bercerita tentang pariwisata yang ‘membunuh’ Pulau Bali hari ini. Wulan mengakui pariwisata neoliberal membuat orang-orang Bali frustrasi, depresi, dan merasa tidak nyaman.
“Orang datang ke Bali untuk mencari kedamaian, tetapi orang Bali sendiri kehilangan kedamaian itu sendiri,” ucapnya.
Pertunjukan berdurasi dua setengah jam itu memadukan bentuk-bentuk teater kontemporer yang sering diusung Komunitas KAHE Maumere. Selain berpijak pada imaji-imaji tubuh para aktor, Setali Cahaya menyita perhatian dengan presentasi riset dan arsip yang mendalam.
Pertunjukan ini merupakan karya ‘sedang tumbuh’ (work in progress) yang dikembangkan dari pertunjukan dalam acara Indonesia Bertutur di Ubud, Bali pada Agustus 2024. Karya yang ditampilkan di sana masih berbentuk pertunjukan-presentasi hasil riset aktor Rio Nuwa (KAHE) tentang Pater Verhoeven, SVD yang melakukan penggalian fosil Homo Floresiensis di Liang Bua dan riset Wulan (Aghumi) tentang Pura Petak Pecali di Bali.
Karya yang ditampilkan di Maumere kali ini merupakan karya kolektif yang melibatkan sutradara, aktor, peneliti, dan penulis dari kedua komunitas tersebut. Spektrumnya diperluas, lalu digarap dengan metode penciptaan bersama. Naskahnya juga berpijak dari cerita personal para aktor yang digali dalam workshop selama tiga pekan.
Komunitas Kahe Maumere
Komunitas KAHE
Komunitas AGHUMI Bali
Setali Cahaya
Wulan Dewi Saraswati
TribunFlores.com
Dimas Radjalewa
| Usai Negosiasi Presiden RI - AS, Siapa yang Diuntungkan di NTT? |
|
|---|
| Kasus Rabies di TTU, Dinkes Catat hingga Juli 2025 Ada 1710 Kasus, 4 Orang Meninggal |
|
|---|
| SMA Negeri 3 Kota Kupang Tanggapi Surat Edaran IPP, Ishak Balbesi: Kami Sudah Tindaklanjuti |
|
|---|
| D'Lawa Burjo Sajikan Bubur Kacang Ijo Nikmat dan Murah di Labuan Bajo |
|
|---|