Minggu, 3 Mei 2026

Injil Katolik

Injil Katolik Hari Kamis 21 Agustus 2025 Lengkap Mazmur Tanggapan

Mari simak Injil katolik Kamis 21 Agustus 2025. Injil katolik lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Injil Katolik Hari Kamis 21 Agustus 2025 Lengkap Mazmur Tanggapan
TRIBUNFLORES.COM/GG
UMAT IKUT MISA - Mari simak Injil katolik Kamis 21 Agustus 2025. Injil katolik lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak Injil katolik Kamis 21 Agustus 2025.

Injil katolik lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.

Kamis 21 Agustus 2025 merupakan hari Kamis Biasa XX, peringatan wajib Santo Paus Pius X, Paus dan pengaku Iman,  dengan warna liturgi putih.

Adapun bacaan liturgi katolik hari Kamis 21 Agustus 2025 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Bacaan Injil Katolik Kamis 21 Agustus 2025 Lengkap Renungan Harian Katolik

 

Bacaan Pertama: Hak 11:29-39a

Yang pertama-tama keluar dari rumahku, akan kupersembahkan sebagai kurban.

Pada suatu hari Yefta, panglima Israel, tiba-tiba dihinggapi Roh Tuhan. ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah orang-orang Amon. 

Lalu bernazarlah Yefta kepada Tuhan, katanya, “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan orang Amon ke dalam tanganku, maka yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku pulang dengan selamat dari orang Amon, akan menjadi milik Tuhan. Aku akan mempersembahkannya sebagai kurban bakaran.”

Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan orang Amon, dan Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangannya. Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroër sampai dekat Minit, dua puluh kota banyaknya, dan sampai ke Abel-Keramim. 

Dengan demikian orang Amon ditundukkan di depan orang Israel. Ketika Yefta pulang ke Mizpa, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana dan menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal. Selain dia Yefta tidak mempunyai anak laki-laki atau perempuan.

Demi melihat anaknya, Yefta mengoyak-ngoyakkan bajunya, sambil berkata, “Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan mencelakakan daku. Aku telah membuka mulut bernazar kepada Tuhan, dan tidak dapat mundur lagi.”

 Tetapi anak itu menjawab, “Bapa, jika engkau telah membuka mulut dan bernazar kepada Tuhan, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, sebab Tuhan telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni orang Amon.” 

Lalu anak itu menyambung, “Hanya saja, izinkanlah aku melakukan satu hal ini: berilah aku waktu dua bulan, supaya aku pergi mengembara di pegunungan, dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku.” Jawab Yefta, “Pergilah!” Dan ia membiarkan anaknya pergi dua bulan lamanya.

Maka pergilah gadis itu bersama dengan teman-temannya untuk menangisi kegadisannya di pegunungan. Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan apa yang telah dinazarkannya kepada Tuhan.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 40:5.7-10

Ref: Ya Tuhan, aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.

Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan, yang tidak berpihak kepada orang-orang yang angkuh, atau berpaling kepada orang-orang yang menganut kebohongan!

Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakar dan kurban silih tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata, “Lihatlah Tuhan, aku datang!”

Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku: Aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada di dalam dadaku.”

Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaah yang besar, bibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu itu, ya Tuhan.

Bait Pengantar Injil: Mzm 95:8ab

Hari ini janganlah bertegar hati, tetapi dengarkanlah sabda Tuhan.

Bacaan Injil: Mat 22:1-14

Undanglah setiap orang yang kalian jumpai ke pesta nikah ini.

Pada suatu ketika Yesus berbicara kepada para imam kepala dan pemuka rakyat dengan memakai perumpamaan. Ia bersabda, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya. 

Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan nikah itu tetapi mereka tidak mau datang. Raja itu menyuruh pula hamba-hamba lain dengan pesan, ‘Katakanlah kepada para undangan: 

Hidanganku sudah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih. Semuanya telah tersedia. Datanglah ke perjamuan nikah ini.’ Tetapi para undangan itu tidak mengindahkannya. Ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap para hamba itu, menyiksa dan membunuhnya.

Maka murkalah raja itu. Ia lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Kemudian ia berkata kepada para hamba, ‘Perjamuan nikah telah tersedia, tetapi yang diundang tidak layak untuk itu. 

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kalian jumpai di sana ke perjamuan nikah itu. Maka pergilah para hamba dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan nikah itu dengan tamu.

Ketika raja masuk hendak menemui para tamu, ia melihat seorang tamu yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya, ‘Hai saudara, bagaimana Saudara masuk tanpa berpakaian pesta?’ 

Tetapi orang itu diam saja. Maka raja lalu berkata kepada para hamba, ‘Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap; di sana akan ada ratap dan kertak gigi.’ Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik 

Diundang ke Perjamuan, Apakah Kita Siap?

Injil hari ini menampilkan perumpamaan Yesus tentang seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Semua sudah disiapkan: hidangan terbaik, undangan telah dikirim, bahkan kesempatan kedua diberikan bagi mereka yang menolak. Namun banyak yang menolak, sibuk dengan urusan sendiri, bahkan ada yang berlaku kasar kepada para utusan. Akhirnya, undangan itu diberikan kepada siapa saja yang ada di persimpangan jalan — baik orang baik maupun jahat.

Pesan Yesus sangat jelas: Kerajaan Surga terbuka bagi semua, tetapi tidak semua akan masuk, karena kesiapan hati menjadi syarat penting.

1. Undangan yang Disepelekan

Yesus memakai gambaran perjamuan kawin untuk menggambarkan sukacita dan kelimpahan hidup bersama Allah. Perjamuan ini bukan sembarang makan bersama, melainkan perayaan kasih yang abadi.

Sayangnya, banyak yang menolak undangan itu. Mereka lebih sibuk dengan pekerjaan, bisnis, atau urusan pribadi. Dalam konteks rohani, ini menggambarkan orang yang menunda atau menolak panggilan Allah karena hati mereka terikat pada hal duniawi.

Kita pun bisa saja termasuk di dalamnya saat kita:

Lebih memilih sibuk tanpa menyisakan waktu untuk doa.
Mengabaikan kesempatan untuk mendalami iman.
Menganggap remeh misa atau sakramen.

2. Panggilan untuk Semua Orang

Ketika tamu undangan pertama menolak, sang raja memerintahkan pelayannya mengundang siapa saja yang ditemui — tanpa memandang latar belakang atau reputasi. Ini melambangkan rahmat keselamatan yang terbuka untuk semua orang.


Kerajaan Allah tidak eksklusif untuk “orang baik” saja. Tuhan memanggil yang berdosa, yang tersisih, dan yang merasa tidak layak. Namun, meski undangan itu gratis, tetap ada syarat: mengenakan pakaian pesta.

3. Pakaian Pesta: Simbol Kesiapan Hati

Tamu yang diundang tetapi tidak memakai pakaian pesta akhirnya dikeluarkan. Ini menunjukkan bahwa tidak cukup hanya datang, tetapi kita harus datang dengan hati yang siap dan hidup yang selaras dengan panggilan Allah.

Pakaian pesta di sini melambangkan:

Hidup dalam pertobatan.

Memelihara kasih terhadap sesama.

Menerima sakramen dengan layak.

4. Panggilan untuk Kita Hari Ini

Hari ini, kita diingatkan bahwa setiap hari adalah undangan baru dari Tuhan untuk datang ke hadapan-Nya. Kita diundang ke dalam doa, pelayanan, persekutuan, dan akhirnya ke Perjamuan Kudus dalam Ekaristi.

Pertanyaannya: Apakah kita siap mengenakan pakaian pesta rohani itu? Atau kita masih menundanya karena terikat pada hal-hal duniawi?

Doa

Tuhan Yesus, Engkau selalu mengundangku untuk duduk di meja-Mu dan menikmati sukacita dalam-Mu. Ampunilah saat aku menolak atau menunda undangan-Mu. Tolong aku untuk selalu siap hati, agar ketika Engkau memanggil, aku boleh masuk dan tinggal bersama-Mu dalam kemuliaan. Amin.

 Poin Renungan

Undangan Tuhan berlaku untuk semua, tetapi butuh kesiapan hati.

Kesibukan dunia bisa membuat kita melewatkan perjamuan rohani.

Pertobatan adalah pakaian pesta yang harus kita kenakan.   (Sumber the katolik.com/kgg).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved