Kamis, 7 Mei 2026

Renungan Katolik Hari Ini

Renungan Katolik Hari Ini Rabu 27 Agustus 2025, Ketulusan Iman, Bukan Sekadar Penampilan 

Mari simak renungan Katolik hari ini Rabu 27 Agustus 2025. Tema renungan Katolik hari ini ketulusan iman, bukan sekadar penampilan.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Renungan Katolik Hari Ini Rabu 27 Agustus 2025, Ketulusan Iman, Bukan Sekadar Penampilan 
TRIBUNFLORES.COM / GG
PATER JOHN LEWAR SVD - Sosok Pater John Lewar, SVD.Mari simak renungan Katolik hari ini Rabu 27 Agustus 2025. Tema renungan Katolik hari ini ketulusan iman, bukan sekadar penampilan. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan Katolik hari ini Rabu 27 Agustus 2025.

Tema renungan Katolik hari ini ketulusan iman, bukan sekadar penampilan.

Renungan Katolik hari ini disiapkan untuk hari Rabu Biasa XXI, Peringatan Wajib Santa Monika, Janda, dengan warna liturgi putih.

Renungan Katolik hari ini ada dibagian akhir artikel ini.

Baca juga: Renungan Katolik Rabu 27 Agustus 2025, Jauhkan dari Mentalitas Kemunafikan

 

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Rabu 27 Agustus 2025 adalah sebagai berikut:

Bacaan Pertama : 1Tes 2:9-13

Sambil bekerja siang malam, kami memberitakan Injil Allah kepada kalian.

Saudara-saudara, kalian tentu masih ingat akan usaha dan jerih payah kami. Sebab kami bekerja siang malam, agar jangan menjadi beban bagi siapa pun di antaramu. Di samping itu kami pun memberitakan Injil Allah kepada kalian. 

Kalianlah saksinya, demikian pula Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kalian yang telah menjadi percaya. Kalian tahu, betapa kami telah menasihati kalian dan menguatkan hatimu masing-masing, seperti seorang bapa terhadap anak-anaknya; dan betapa kami telah meminta dengan sangat, agar kalian hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kalian ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya. 

Karena itulah kami tak putus-putusnya mengucap syukur kepada Allah, sebab kalian telah menerima sabda Allah yang kami beritakan itu. Pemberitaan kami itu telah kalian terima bukan sebagai kata-kata manusia, melainkan sebagai sabda Allah, sebab memang demikian. Dan sabda Allah itu bekerja giat di dalam diri kalian yang percaya.

Demikianlah Sabda tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan: Mzm 139:7-8.9-10.11-12ab

Ref: Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku.

Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, Engkau ada di situ.

Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, di sana pun tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

Jika aku berkata, “Biarlah kegelapan melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,” maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu.

Bait Pengantar Injil: 1Yoh 2:5

Sempurnakanlah cinta Allah dalam hati orang yang mendengarkan sabda Kristus.

Bacaan Injil: Mat 23:27-32

Kalian ini keturunan pembunuh nabi-nabi.

Pada waktu itu Yesus bersabda, “Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kalian orang-orang munafik, sebab kalian itu seperti kuburan yang dilabur putih. Sebelah luarnya memang tampak bersih, tetapi sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. 

Demikian pula kalian, dari sebelah luar nampaknya benar, tetapi sebelah dalam penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kalian orang-orang munafik, kalian membangun makam bagi nabi-nabi dan memperindah tugu peringatan bagi orang-orang saleh, dan sementara itu kalian berkata, 

Seandainya kami hidup pada zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut membunuh para nabi.’Tetapi dengan demikian kalian bersaksi melawan dirimu sendiri, bahwa kalian keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah takaran para leluhurmu!”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik 

Sesuatu yang tampaknya bersih belum tentu bersih. Sesuatu yang tampak atau 
kelihatan bersih belum tentu benar-benar bersih. Contoh, kaca jendela yang 
kelihatan bersih, ketika tertembus oleh sinar matahari pada pagi hari akan tampak 
jelas bahwa kaca jendela tersebut banyak debunya, alias tidak benar-benar bersih. 
Contoh lain, seorang bapak mengenakan baju putih dan celana panjang berwarna 
hitam.

Itu adalah pakaian seragam kor lingkungan. Setelah dipakai dua-tiga kali baju 
tersebut masih tampak bersih. Namun, jika sang pemakai memperhatikan lebih 
detail, kerah bagian belakang sudah kotor dan bau keringat. Memang, ketika dipakai 
tampak bersih tetapi sejatinya tidak. Begitulah penglihatan sering menipu. Sebab 
mata hanya bisa melihat apa yang tampak dari luar. Mata manusia memiliki daya 
penglihatan yang terbatas. 

Dalam Injil Matius (23: 27-32) hari ini Yesus mengecam para ahli Taurat dan orang
orang Farisi yang Yesus sebut sebagai orang-orang munafik. “Celakalah kalian, hai 
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kalian orang-orang munafik,” kata Yesus 
sambil menunjuk ke arah mereka, “sebab kalian itu seperti kuburan yang dilabur 
putih. Sebelah luarnya memang tampak bersih, tetapi sebelah dalamnya penuh 
tulang-belulang dan berbagai jenis kotoran” (Mat 23:27).  

Paulus mengungkapkan tegurannya kepada umat di Tesalonika atas hal
hal yang dipandangnya kurang sesuai dengan kebenaran Injil. Akan 
tetapi, dengan jelas Paulus mengungkapkan hal itu atas dasar kasih, 
bagai kasih seorang bapak kepada anaknya. Paulus mengajarkan dan 
meneladan kan suatu cara menegur atau menasihati orang atas dasar 
kasih, bukan atas dasar sikap cemburu dan maksud buruk 
lainnya(1Tesalonika 2:9-13).

Demikian pula Yesus terang-terangan mengecam perilaku para ahli Taurat dan kaum Farisi yang hanya mementingkan hal-hal luaran. Mereka mengira bahwa jika hal-hal luaran 
sudah baik maka hidup mereka sudah selamat. Yesus menyebut 
kemunafikan mereka sebagai hal-hal yang mencelakakan. 
Perikop hari ini menantang kita untuk bertanya: apakah iman Katolik kita 
hanya sekadar tampilan luar? Ataukah benar-benar tumbuh dari hati yang 
tulus? 

Pertama, Bahaya Penampilan Luar. Kehidupan iman kadang bisa tergoda 
menjadi formalitas belaka. Kita hadir dalam Perayaan Ekaristi, 
Misa, berdoa Rosario, bahkan melayani di Gereja, tetapi hati masih 
menyimpan kebencian, iri hati, atau tidak mau mengampuni. Yesus 
menegur bukan agar kita malu, tetapi supaya kita jujur menata kembali 
batin kita. 

Kedua, Hati yang Tulus Lebih Berharga. Dalam Kitab Suci, Allah selalu 
melihat hati. Daud dipilih bukan karena tampan atau gagah, tetapi karena 
hatinya tulus kepada Tuhan (1 Sam 16:7). Demikian pula, hidup kita akan 
berarti di hadapan Allah bila kita membangun relasi yang otentik, bukan 
sekadar rutinitas rohani. 

Ketiga, Menghidupi Iman Sehari-hari. Ketulusan iman tampak dalam hal
hal sederhana, seperti: Mengampuni dengan hati, bukan hanya di bibir,   
Menolong sesama dengan tulus, bukan demi dipuji, Menyembah Allah 
dalam doa pribadi, bukan sekadar supaya terlihat saleh. 

Keempat, Panggilan untuk Membuka Hati. Yesus mengundang kita untuk 
berhenti berfokus pada kesan luar. Mari kita berani menghadirkan iman 
yang murni, yang menyentuh hati orang lain lewat ketulusan. Gereja 
Katolik mengajarkan bahwa iman tanpa kasih adalah kosong. Kasih hanya 
lahir dari hati yang bersih dan terbuka pada Tuhan. 

Doa Penutup:  

Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk hidup dengan tulus, tidak hanya menjaga 
tampilan luar, tetapi sungguh membuka hati bagi-Mu dan sesama. 
Jadikanlah aku saksi kasih-Mu dengan kesederhanaan dan kejujuran. 
Amin.  

Sahabatku yang terkasih. Selamat Hari Rabu Pekan Biasa XXI. Salam doa 
dan berkatku untukmu  dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan 
Putera dan Roh Kudus...Amin. (sumber iman katolik.com/kgg).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved