Surat Gembala Uskup Agung Ende
Surat Gembala Prapaskah 2025 Uskup Agung Ende, Mgr Paul Budi Kleden Serukan Pertobatan Ekologis
Uskup Agung Ende Mgr.Paulus Budi Kleden, SVD, mengeluarkan surat gembala Prapaskah 2025.Surat Gembala ini bertemakan ‘Pertobatan Ekologis’.
Penulis: Charles Abar | Editor: Gordy Donovan
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM,Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA - Uskup Agung Ende Mgr.Paulus Budi Kleden, SVD, mengeluarkan surat gembala Prapaskah 2025.
Surat Gembala ini bertemakan ‘Pertobatan Ekologis’.
Umat diajak agar di tahun Yubileum ini menjadi saat berahmat yang kita tanggapi dengan mengusahakan keadilan sosial, kasih persaudaraan, solidaritas dan pelestarian lingkungan.
Baca juga: Uskup Agung Ende Mgr Paul Budi Kleden Tegaskan Tolak Proyek Geothermal, Sebut Mataloko dan Sokoria
SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2025
Para imam, biarawan-biarawati dan segenap umat Allah yang terkasih,
Salam kasih persaudaraan,
Pada Rabu, 5 Maret 2025, kita memasuki masa Prapaskah. Masa Prapaskah merupakan masa retret agung, saat di mana kita kembali menyadari dan mensyukuri kasih Allah yang teramat Besar kepada kita. inilah saat berahmat bagi kita untuk kembali ke kesejatian diri sebagai umat Allah yang kudus, yang "harus sujud di hadapan Tuhan, Allah kita" (UI. 26:10). Kita diundang untuk meninggalkan jalan hidup yang tidak berkenan kepada Allah dan kembali ke cara hidup yang dikehendaki-Nya, baik secara pribadi maupun bersama-sama. Bersatu dengan seluruh komunitas Gereja Katolik Indonesia, pada masa Prapaskah ini kita merenungkan tema "Pertobatan Ekologis." Tema ini mengingatkan kita bahwa dosa tidak hanya berakibat buruk bagi manusia dan merusak relasinya dengan Allah, melainkan juga berdampak buruk pada alam ciptaan Allah. Dengan mengupayakan pertobatan ekologis, kita membarui kembali komitmen untuk merawat alam lingkungan hidup kita.
Masa Prapaskah tahun ini juga menjadi istimewa karena kita sedang berada dalam Tahun Yubileum 2025. Peregrinantes in Spem atau peziarah pengharapan adalah tema yang membingkai seluruh Tahun Yubileum, termasuk upaya pertobatan di masa Prapaskah ini. Kita diajak untuk menyadari bahwa kita adalah peziarah di bumi ini. Kita bukanlah penguasa bumi yang dengan sesuka hati boleh berbuat apa saja atasnya. Kita perlu mengupayakan tindakan nyata dalam merawat rumah bersama ini, dan dengan demikian membawa harapan bagi lingkungan hidup, juga bagi saudara dan saudari kita yang lemah, kecil, miskin dan tersingkir. Tahun Yubileum ini menjadi saat berahmat yang kita tanggapi dengan mengusahakan keadilan sosial, kasih persaudaraan, solidaritas dan pelestarian lingkungan.
Saudara - saudari terkasih,
Akhir-akhir ini kita sering mengalami dan merasakan bahwa alam seolah-olah semakin tidak ramah pada manusia dan kehidupan. Di mana-mana bencana alam makin sering terjadi. Ada bencana yang terjadi karena gejala alam semata, seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Namun ada juga bencana yang terjadi karena campur tangan manusia atas alam, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan hilangnya sumber air. Tanah, air dan udara sebagai unsur-unsur penunjang kehidupan di planet kita, sedang berada dalam kondisi kritis dan memprihatinkan.
Kita, umat di Keuskupan Agung Ende, juga sedang mengalami hal yang sama. Penebangan dan pembakaran hutan masih marak terjadi. Penanganan dan pengolahan sampah menjadi persoalan yang belum terselesaikan, terutama di wilayah perkotaan. Sampah rumah tangga pun sering dibuang begitu saja, sehingga menyumbat drainase dan mengakibatkan terjadinya luapan air di musim penghujan. Masih ada banyak petani kita yang mengolah Iahannya dengan praktek pertanian yang tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan. Eksploitasi sumber daya alam yang juga hadir di wilayah kita, tidak saja membawa dampak positif, tetapi juga mengakibatkan kerusakan lingkungan dan konflik sosial di tengah masyarakat.
Situasi ini sudah semestinya menyadarkan kita semua akan mendesaknya pertobatan ekologis. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa di balik krisis ekologis yang sedang berlangsung ada krisis spiritual yang mendalam sebagai akibat keserakahan dan egoisme manusia (bdk. Laudato Si, 2). Keserakahan mendorong manusia untuk mencari, mengejar dan mendapatkan segala yang diinginkannya tanpa batas. Manusia berusaha terus-menerus untuk mengeruk kekayaan dan sumber daya alam demi memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Egoisme membuat manusia lupa pada sesama makhluk hidup dan alam lingkungan, serta tega mengorbankannya. Pada gilirannya dosa keserakahan dan egoisme merusak keutuhan ciptaan dan mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Karena itu upaya pertobatan ekologis menjadi suatu ziarah bersama menuju hidup yang sederhana dan solider. Paus Fransiskus berbicara tentang ekologi integral yang merangkum tiga keprihatinan Gereja: keutuhan lingkungan, perkembangan integral manusia, dan keberpihakan kepada kaum miskin. Paus selalu menekankan penting dan mendesaknya mendengar suara alam dan memberi perhatian kepada jeritan kaum miskin. Sebab, yang paling rentan terhadap bencana alam karena kecerobohan manusia adalah orang-orang miskin, mereka yang tidak memiliki sumber daya dan dana untuk menyelamatkan diri.
Untuk memaknai masa Prapaskah dalam Tahun Yubileum ini, saya terdorong untuk menyampaikan beberapa hal berikut ini:
Pertama, keberpihakan terhadap lingkungan harus diwujudkan dalam langkah-langkah konkret. Dalam Surat Gembala Yubileum, saya telah menegaskan bahwa pertobatan ekologis menuntut tindakan nyata untuk mencegah alam dari kehancuran dan melindungi orang miskin yang paling rentan. Keluarga dan KUB dapat melakukan aksi bersama untuk mengurangi sampah plastik, memisahkan sampah dan membuangnya pada tempatnya. Penghijauan dan perawatan tanaman dapat menjadi inisiatif dari lembaga-lembaga pendidikan. Para petani didorong untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia. Salah satu hal yang membutuhkan perhatian khusus adalah eksplorasi-eksploitasi panas bumi (geothermal). Kita tidak bisa berdiam diri di hadapan kenyataan ini. Penolakan terhadap geotherma/lahir dari keprihatinan akan konteks Keuskupan ini. Wilayah kita terdiri dari gunung dan bukit, serta menyisakan lahan yang terbatas untuk pemukiman dan pertanian warga. Untuk pertanian, bagian terbesarnya bergantung pada curah hujan, sebab sumber air tanah pun tidaklah banyak. Sementara itu, sebagian besar penduduk di wilayah ini adalah petani dan pertanian adalah mata pencaharian utama, serentak pembentuk utama kebudayaan dan tradisi. Dalam konteks ini, kita diajak untuk mencari sumber energi terbarukan lain yang lebih sesuai dengan kondisi kita. Inilah salah satu bentuk pertobatan ekologis dan tanda solidaritas Gereja Keuskupan Agung Ende dengan semua yang menjadi korban.
Surat Gembala Prapaskah 2025
Uskup Agung Ende di Bajawa
Profil Uskup Agung Ende
Tribun Flores.com
Mgr Paul Budi Kleden
Surat Gembala Uskup Agung Ende
| Uskup Agung Ende Mgr Paul Budi Kleden Tegaskan Tolak Proyek Geothermal, Sebut Mataloko dan Sokoria |
|
|---|
| Uskup Paulus Budi Kleden Ungkap Pentingnya Kesadaran Berantas TPPO |
|
|---|
| Kesederhanaan Paus Fransiskus, Pater Leo Kleden: Dia Hayati Kemiskinan dan Gembala yang Seungguhnya |
|
|---|
| Kohtbah Uskup Agung Ende, Mgr Paul Budi Kleden saat Misa Pontifikal di Gereja Katedral Ende |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Mgr-Paul-Budi-Kleden-SVD-mengeluarkan-surat-gembala-Prapaskah-2025.jpg)