Senin, 4 Mei 2026

Kasus DBD di Ende

Awal Tahun 2026 Dinkes Ende Catat 5 Kasus DBD, Berpotensi Bertambah

Pada tahun 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Ende mencatat 51 kasus DBD dengan nol kasus kematian.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Gordy Donovan

Ringkasan Berita:
  • Lima kasus DBD tercatat di Kabupaten Ende pada awal Januari 2026, tersebar di empat kecamatan, tanpa kasus kematian dan seluruh pasien sudah sembuh.
  • Musim hujan dan faktor lingkungan seperti genangan air, sampah, botol bekas, dan ban bekas menjadi penyebab utama meningkatnya risiko DBD.
  • Dinkes Ende meningkatkan kewaspadaan melalui sosialisasi, fogging, abatisasi, serta mengimbau masyarakat menerapkan 3M Plus untuk mencegah penyebaran DBD.

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo 

TRIBUNFLORES.COM, ENDE – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ende mencatat sebanyak lima kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi di wilayah Kabupaten Ende pada periode Januari awal tahun 2026 dengan nol kasus kematian.

Pada tahun 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Ende mencatat 51 kasus DBD dengan nol kasus kematian.

Jumlah tersebut berpotensi bertambah seiring masih berlangsungnya musim hujan.

Berdasarkan data Dinkes Ende, lima kasus DBD tersebut tersebar di empat kecamatan, yakni Kecamatan Nangapanda satu kasus, Kecamatan Ende Timur dua kasus, Kecamatan Ende Tengah satu kasus, dan Kecamatan Wolowaru satu kasus.

Baca juga: Dinkes NTT Klaim DBD di NTT Tahun 2025 Alami Penurunan Dibanding 2024

Sudah Sembuh

Dari total kasus itu, dua penderita berasal dari Kelurahan Mautapaga, Kecamatan Ende Timur.

Seluruh penderita DBD sempat menjalani perawatan di RSUD Ende dan saat ini telah dinyatakan sembuh. 

Adapun rentang usia penderita DBD pada awal tahun ini berada di kisaran 1 hingga 44 tahun.

Hasil penyelidikan epidemiologi yang dilakukan oleh tim Dinas Kesehatan Kabupaten Ende menunjukkan bahwa faktor lingkungan menjadi penyebab utama munculnya kasus DBD. 

Musim hujan yang masih berlangsung menyebabkan banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

Selain itu, keberadaan bekas botol air mineral, ban bekas, serta berbagai jenis sampah juga dinilai berpotensi menjadi sarang nyamuk penyebab DBD.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Maria Agustina Tondong, mengatakan, jumlah kasus DBD di Kabupaten Ende masih berpeluang meningkat.

“Kasus DBD di Ende masih berpotensi bertambah karena selama musim hujan masih terjadi. Biasanya siklusnya dari Januari sampai Mei, baru sedikit reda saat musim panas. Namun di bulan Oktober biasanya muncul lagi karena nyamuk berkembang biak,” jelas Maria, Kamis (29/1/2026) di ruang kerjanya.

Untuk menekan potensi peningkatan kasus DBD, Dinas Kesehatan Kabupaten Ende terus melakukan berbagai upaya pencegahan. 

Di antaranya dengan sosialisasi kepada masyarakat, mengeluarkan surat edaran ke seluruh puskesmas agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), serta melakukan fogging, abatisasi, dan langkah-langkah pencegahan lainnya.

Dinkes Ende juga mengimbau masyarakat agar berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan dengan menerapkan 3M Plus, guna memutus rantai penyebaran nyamuk penyebab DBD. (Bet)

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved