Demo di Ende
Bupati Ende Debat Panas Dengan Mahasiswa Soal Aksi Penggusuran
Awalnya, sejumlah aktivis mahasiswa dari GMNI dan LMND Ende melakukan aksi demonstrasi di Kantor
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Nofri Fuka
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Bupati-Ende-Yosef-Benediktus-Badeoda-terlibat-debat-panas.jpg)
Ringkasan Berita:
- Mahasiswa GMNI dan LMND Ende demo menuntut ganti rugi korban penggusuran dan pelaksanaan program TORA.
- Aksi sempat diadang aparat sebelum empat perwakilan diterima bertemu Bupati Ende, Yosef Badeoda.
- Dialog berujung debat panas soal tuntutan hingga bupati meninggalkan rapat karena alasan dinas luar daerah.
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, ENDE - Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda terlibat debat panas dengan empat aktivis mahasiswa dari GMNI dan LMND Ende terkait dengan beberapa aksi penggusuran di Kota Ende di lantai 2 Kantor Bupati Ende, Jumat (8/5/2026) siang.
Awalnya, sejumlah aktivis mahasiswa dari GMNI dan LMND Ende melakukan aksi demonstrasi di Kantor Bupati Ende dan menuntut Pemerintah Kabupaten Ende mengganti rugi bangunan sejumlah warga yang telah digusur baik di Ndao maupun di Jalan Irian Jaya.
Sebelum masuk bertemu orang nomor satu di Kabupaten Ende yang sedang mengikuti acara pengambilan sumpah dan janji jabatan sejumlah kepala dinas di lingkup Pemkab Ende, puluhan aktivis melakukan orasi di Jalan El Tari tepat di depan pintu masuk kantor bupati.
Mereka memaksa masuk dan bertemu serta berdialog dengan Bupati Yosef Badeoda dan menyampaikan tuntutannya.
Baca juga: Penyelundupan 112 Ribu Batang Rokok Ilegal asal Lombok Tujuan Ende Digagalkan di Labuan Bajo
Namun, aksi itu dihadang puluhan aparat kepolisian dan Sat Pol PP Kabupaten Ende yang berjaga di depan pintu masuk.
Aksi Demo Hampir Ricuh
Pintu masuk menuju Kantor Bupati Ende pun ditutup saat puluhan aktivis mahasiswa itu tiba.
Sejumlah aktivis sempat memaksa masuk dan mengancam akan naik lewat pagar apabila aparat tidak membukakan pintu gerbang namun aksi itu berhasil dicegah.
Setelah bernegosiasi, akhirnya empat perwakilan aktivis mahasiswa diijinkan masuk bertemu Bupati Yosef Badeoda masing-masing dua orang dari GMNI dan dua orang dari LMND.
Keempat aktivis mahasiswa tersebut akhirnya diterima Bupati Ende di ruang rapat bupati di lantai 2 Kantor Bupati Ende.
Mereka diberikan kesempatan menyampaikan tuntutannya.
Sebelumnya, Bupati Yosef Badeoda telah meminta agar para aktivis mahasiswa segera menyampaikan/membacakan tuntutannya karena dirinya harus segera berangkat tugas ke luar daerah.
Namun para mahasiswa meminta bukti surat perjalanan dinas bupati.
"Kalian tidak usah atur yang pemerintah punya urusan, kalian sekarang silahkan sampaikan tuntutan, saya punya waktu hanya sebentar karena mau jalan, itu nanti kalian berurusan dengan administrasi, kalian bisa langsung cek" tegasnya diawal dialog.
Ketua termandat GMNI cabang Ende, Fernando Delu membacakan tuntutan mereka dihadapan Bupati Ende.
Dalam kesimpulannya, Fernando menegaskan, Pemerintah Kabupaten Ende tidak dapat melakukan pengosongan lahan secara sepihak dan paksa tanpa putusan pengadilan.
Pengosongan lahan wajib melalui mekanisme hukum yang sah sesuai HIR dan KUHPerdata.
Tindakan represif tanpa prosedur dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum.
Negara wajib menjamin perlindungan hak warga negara serta mengedepankan prinsip kemanusiaan dan keadilan sosial.
Dialog, mediasi, dan solusi yang manusiawi harus menjadi langkah utama sebelum tindakan hukum dilakukan.
Dengan fakta kelalaian dan unsur kesengajaan oleh pemerentah hari ini yang telah melakukan tindakan penggusuran paksa tampa memperhatikan kepentingan masyarakat maka mereka menuntut :
1. Mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Ende untuk segerah meridistibusikan dan atau relokasi serta tanah sertah mengganti rugi dengan membangunkan rumah yang layak bagi korban penggusuran.
2. Mendesak pemerentah segerah melaksanakan Program TORA (TANAH OBYEK REFORMA AGRARIA) Sesuai amanat UUPA NO.5 TAHUN 1960.
Usai dibacakan, Bupati Yosef Badeoda berdiri dan meminta berkas tuntunan para mahasiswa sebelum memberikan tanggapan.
Namun hal itu tidak diindahkan dan meminta Bupati Yosef langsung memberikan tanggapan.
Terjadilah debat panas antara Bupati Yosef dan keempat perwakilan mahasiswa tersebut.
"Baik, saya terima, kasih saya dulu tuntutanya," kata Bupati Yosef sambil mengulurkan tangan meminta berkas tersebut.
Tak lama kemudian, salah satu perwakilan mahasiswa dari GMNI Ende angkat bicara.
"Sebenarnya saya tidak mau bicara disini tapi kami butuh respon tentang kajian dan analis yang kami bacakan," katanya.
Namun, Bupati Ende Yosef Badeoda juga tetap kekeh agar perwakilan mahasiswa itu terlebih dahulu menyerahkan berkas tuntutannya sebelum ditanggapi.
Debat panas pu terjadi hingga akhirnya Bupati Ende keluar dari ruang rapat dengan alasan terburu-buru karena hendak melakukan perjalanan dinas ke luar daerah. (Bet)
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
| Penyelundupan 112 Ribu Batang Rokok Ilegal asal Lombok Tujuan Ende Digagalkan di Labuan Bajo |
|
|---|
| Lantik 5 Pejabat Pratama, Bupati Ende Tegaskan Tak Ada Titipan |
|
|---|
| Dua Pelajar Smansa Ende Ikut Seleksi Paskibra Tingkat Provinsi NTT dan Nasional |
|
|---|
| Seleksi Eselon II Tuntas, Bupati Ende Segera Lantik Pejabat Baru |
|
|---|
| Akses Terbuka, Alat Berat TMMD Terus Garap Jalan Aelipo–Fata'atu Timur Ende |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.