Selasa, 28 April 2026

Injil Katolik Hari Ini

Injil Katolik Hari Ini Sabtu 7 Maret 2026 dan Mazmur Tanggapan

Mari simak injil Katolik hari ini Sabtu 7 Maret 2026. Injil katolik hari ini lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
Ringkasan Berita:
  • Injil katolik hari ini lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.
  • Renungan harian Katolik ada dibagian akhir artikel ini.
  • Sabtu 7 Maret 2026 merupakan hari Sabtu pekan II Prapaskah hari Sabtu Imam, Perayaan fakultatif, Santa Perpetua dan Filisitas, Martir, dengan warna liturgi ungu.

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak injil Katolik hari ini Sabtu 7 Maret 2026.

Injil katolik hari ini lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.

Renungan harian Katolik ada dibagian akhir artikel ini.

Sabtu 7 Maret 2026 merupakan hari Sabtu pekan II Prapaskah hari Sabtu Imam, Perayaan fakultatif, Santa Perpetua dan Filisitas, Martir, dengan warna liturgi ungu.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Sabtu 7 Maret 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Teks Misa Hari Minggu 8 Maret 2026 Pekan III Prapaskah Tahun A

Bacaan Pertama Mikha 7:14-15.18-20

"Semoga Tuhan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut."

Nabi berkata, “Ya Tuhan, dengan tongkat-Mu gembalakanlah umat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri. Mereka terpencil, mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka merumput di Basyan dan Gilead seperti pada zaman dahulu kala.

Perlihatkanlah kepada kami tindakan-tindakan ajaib seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir. Adakah Allah lain seperti Engkau, yang mengampuni dosa-dosa dan memaafkan pelanggaran yang dilakukan oleh sisa-sisa milik-Nya sendiri, yang tidak murka untuk selama-lamanya, melainkan berkenan pada kasih setia?

Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham sebagaimana telah Kaujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm. 103:1-2.3-4.9-10.11-12
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.

Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!

Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!

Tidak terus-menerus Ia murka, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak pernah Ia memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita.

Setinggi langit dari bumi, demikianlah besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takwa kepada-Nya! Sejauh timur dari barat, demikianlah pelanggaran-pelanggaran kita dibuang-Nya.

Bait Pengantar Injil Lukas 15:18
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya, "Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa".

Bacaan Injil Lukas 15:1-3.11-32

"Saudaramu telah mati dan kini hidup kembali."

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

Maka Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka. “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya, ‘Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.’

Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu, lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

Setelah dihabiskan harta miliknya, timbullah bencana kelaparan di negeri itu, dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babi.

Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: ‘Betapa banyak orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa; aku tidak layak lagi disebut anak Bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan Bapa.’

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayah itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebut anak Bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, dan pakaikanlah kepadanya; kenakanlah cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya.

Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.’

Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung sedang berada di ladang. Ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruing dan nyanyian tari-tarian.

Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semua itu. Jawab hamba itu, ‘Adikmu telah kembali, dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatkan kembali anak itu dengan selamat’.

Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya,

‘Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa, dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing pun untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

Tetapi baru saja datang anak Bapa yang telah memboroskan harta kekayaan Bapa bersama dengan pelacur-pelacur, maka Bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.’

Kata ayahnya kepadanya, ‘Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali’.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

"Kasih Bapa yang Tak Pernah Lelah"

Renungan Katolik hari ini mengajak kita masuk ke salah satu kisah paling menyentuh dalam Injil: perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:1-3.11-32). Ini bukan sekadar kisah tentang seorang anak yang tersesat, tetapi tentang hati seorang Bapa yang tetap terbuka, bahkan ketika anak-Nya pergi jauh.

Inilah renungan harian Katolik yang selalu relevan bagi siapa pun yang pernah merasa jauh dari Tuhan, merasa gagal, atau merasa tidak layak kembali.

Perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus ketika para pemungut cukai dan orang berdosa datang mendekat kepada-Nya. Sementara itu, orang-orang Farisi bersungut-sungut karena Ia menerima orang berdosa. Maka Yesus menyampaikan kisah ini.

Dan kisah itu sesungguhnya adalah kisah tentang kita.

Renungan Injil Lukas 15 – Pergi, Jatuh, dan Kembali
Dalam renungan Injil Lukas 15, kita melihat tiga tokoh utama:

Anak bungsu
Anak sulung
Sang Bapa

Anak Bungsu – Gambaran Hati yang Tersesat

Anak bungsu meminta warisan sebelum waktunya. Dalam budaya Yahudi, tindakan itu sama seperti berkata: “Aku ingin hidup tanpa engkau.”

Betapa sering kita juga melakukan hal yang sama kepada Tuhan.

Kita ingin berkat-Nya, tetapi tanpa kehendak-Nya.

Kita ingin kebebasan, tetapi tanpa tanggung jawab rohani.

Anak itu pergi ke negeri yang jauh. Ia menghamburkan harta. Ia jatuh miskin. Bahkan ia sampai ingin makan makanan babi  simbol kehinaan bagi orang Yahudi.

Namun titik balik terjadi saat ia “menyadari keadaannya.”

Pertobatan selalu dimulai dari kesadaran.

Dalam refleksi Sabda Tuhan hari ini, kita diajak bertanya:

Apakah aku sedang berada “di negeri yang jauh”?

Apakah aku merasa jauh dari doa, dari Ekaristi, dari hidup rohani?

Kabar baiknya: kisah ini tidak berhenti pada kegagalan.

Sang Bapa – Kasih yang Berlari

Bagian paling menggetarkan dari kisah ini bukanlah pertobatan si anak, melainkan reaksi sang Bapa.

Ketika anak itu masih jauh, Bapa melihatnya.

Ia tergerak oleh belas kasihan.

Ia berlari.

Dalam budaya Timur Tengah kuno, seorang bapa terhormat tidak pernah berlari. Namun dalam kisah ini, sang Bapa melakukannya.

Ia memeluk.
Ia mencium.
Ia tidak memberi kuliah panjang.
Ia tidak mengungkit masa lalu.
Inilah wajah Allah.

Dalam renungan Katolik hari ini, kita belajar bahwa Allah bukan hakim yang menunggu kita sempurna. Ia adalah Bapa yang menunggu kita kembali.

Pertobatan kita mungkin kecil.

Langkah kita mungkin gemetar.

Namun kasih-Nya selalu lebih besar.

Anak Sulung – Bahaya Hati yang Merasa Benar
Sering kali kita mengira tokoh utama adalah anak bungsu. Padahal Yesus menceritakan kisah ini juga untuk orang Farisi — yang diwakili oleh anak sulung.

Anak sulung marah.
Ia merasa tidak dihargai.
Ia merasa lebih layak.
Ia setia, tetapi hatinya pahit.
Dalam renungan harian Katolik ini, kita diingatkan bahwa dosa bukan hanya tentang pergi jauh. Dosa juga bisa berupa hati yang keras, iri, dan merasa lebih suci daripada orang lain.

Berapa kali kita sulit menerima orang yang “kembali”?

Berapa kali kita menghakimi mereka yang gagal?

Kasih Allah bukan kompetisi.

Belas kasih-Nya tidak terbatas.

Refleksi Sabda Tuhan – Apakah Aku Siap Pulang?
Perumpamaan ini tidak memiliki akhir yang jelas untuk anak sulung. Mengapa? Karena Yesus menyerahkan akhir cerita itu kepada kita.

Akankah kita masuk ke pesta?

Atau tetap berdiri di luar dengan hati yang tertutup?

Dalam renungan Injil Lukas hari ini, kita belajar tiga hal besar:

1. Tidak Ada Dosa yang Terlalu Besar untuk Diampuni

Kasih Allah selalu lebih dahulu dari kesalahan kita.

2. Pertobatan Dimulai dari Kesadaran

Ketika kita jujur melihat diri sendiri, rahmat mulai bekerja.

3. Sukacita Surga Nyata

Setiap jiwa yang kembali adalah pesta bagi surga.

Renungan Katolik Hari Ini – Kembali Bukan Tentang Layak, Tapi Tentang Dicintai
Sering kali kita menunda kembali kepada Tuhan karena merasa tidak layak.

Namun kisah ini membongkar logika itu.

Anak bungsu tidak kembali sebagai pahlawan.

Ia kembali sebagai orang yang hancur.

Tetapi ia diterima sebagai anak.

Dalam hidup rohani, kita tidak pernah berhenti menjadi anak Allah. Bahkan ketika kita jatuh, identitas itu tidak dicabut.

Inilah inti renungan harian Katolik hari ini:

Allah tidak lelah mengampuni.

Yang sering lelah adalah kita untuk kembali.

Mungkin ada luka.
Mungkin ada dosa lama.
Mungkin ada rasa malu.
Namun Bapa tetap menunggu.

Dan mungkin, hari ini adalah saatnya pulang. (Sumber the katolik.com/kgg).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved