Jumat, 8 Mei 2026

Renungan Katolik Hari Ini

Renungan Katolik Hari Ini Sabtu 14 Maret 2026, Merendahkan Diri

Mari simak renungan  Katolik hari ini Sabtu 14 Maret 2026. Tema renungan Katolik  hari ini  "Merendahkan Diri".

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Renungan Katolik Hari Ini Sabtu 14 Maret 2026, Merendahkan Diri
TRIBUNFLORES.COM / GG
RENUNGAN HARIAN KATOLIK PATER JOHN LEWAR -Mari simak renungan  Katolik hari ini Sabtu 14 Maret 2026. Tema renungan Katolik  hari ini  "Merendahkan Diri". Renungan Katolik hari ini ada dibagian akhir artikel ini. 
Ringkasan Berita:
  • Tema renungan Katolik  hari ini  "Merendahkan Diri".
  • Renungan Katolik hari ini ada dibagian akhir artikel ini.
  • Renungan Katolik hari ini untuk hari Sabtu Pekan III PRAPASKAH, Santa Matilda, pengaku iman, dengan warna liturgi ungu.

Oleh: Pastor John Lewar SVD

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan  Katolik hari ini Sabtu 14 Maret 2026.

Tema renungan Katolik  hari ini  "Merendahkan Diri".

Renungan Katolik hari ini ada dibagian akhir artikel ini.

Renungan Katolik hari ini untuk hari Sabtu Pekan III PRAPASKAH, Santa Matilda, pengaku iman, dengan warna liturgi ungu.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Sabtu 14 Maret 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Renungan Katolik Sabtu 14 Maret 2026, Mengganggap Dirinya Benar

Bacaan Pertama Hosea 6:1-6

"Aku menyukai kasih setia, dan bukan kurban sembelihan."
Umat Allah berkata, “Mari, kita akan berbalik kepada Tuhan, sebab Dialah yang telah menerkam tetapi lalu menyembuhkan kita, yang telah memukul dan membalut kita.

Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya.

Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Ia pasti muncul seperti fajar. Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.”

Dan Tuhan berfirman, “Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi, dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar.

Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi. Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulut-Ku, dan hukum-Ku keluar seperti terang. Sebab Aku menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada kurban-kurban bakaran.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm. 51:3-4.18-19.20-21b
Ref. Kasihanilah, ya Tuhan, Kaulah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!

Sebab Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan; dan kalau pun kupersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Persembahan kepada-Mu ialah jiwa yang hancur; hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Lakukanlah kerelaan hati-Mu kepada Sion, bangunlah kembali tembok-tembok Yerusalem! Maka akan dipersembahkan kurban sejati yang berkenan kepada-Mu kurban bakar dan kurban-kurban yang utuh.

Bait Pengantar Injil Mzm 95:8ab
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegar hati.

Bacaan Injil Lukas 18:9-14

"Pemungut cukai ini pulang ke rumahnya, sebagai orang yang dibenarkan Allah."
Sekali peristiwa, Yesus menyatakan perumpamaan ini kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain. Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang satu adalah orang Farisi dan yang lain pemungut cukai.

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain; aku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini.

Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

Aku berkata kepadamu: orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, sedang orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus

Renungan Harian Katolik 

 "Merendahkan Diri"

Salah satu kecenderungan buruk kita sebagai ciptaan ialah sombong. Kita mudah sekali merasa lebih istimewa dari sesama manusia; memandang mereka lebih buruk, bahkan berdosa daripada hidup kita. Kita mungkin rajin berdoa, rajin ke gereja, melakukan banyak hal baik. Tetapi di dalam hati, kadang muncul sikap membandingkan. Kita merasa lebih baik daripada orang lain. Kita merasa lebih benar. Kita merasa lebih dekat dengan Tuhan.

Kita seringkali lupa bahwa kita semua adalah ciptaan Tuhan yang memiliki kodrat yang sama di hadapan-Nya. Kita setara di hadapan Tuhan. Cara pandang seperti itu tidak timbul begitu saja dalam hidup dan merupakan puncak dari hidup dalam dosa. Ketika kita terbiasa dan nyaman hidup dalam dosa, mata hati menjadi tumpul. Kita melihat diri bukan lagi sebagaimana adanya tetapi melihat secara keliru; kita menjadi angkuh di hadapan Tuhan. Kita tidak lagi menyadari kerapuhan dan dosa.

Sejatinya, semakin kita dekat dengan Tuhan, justru kita akan semakin rendah hati menyadari segala dosa.

Yesus hari ini mengingatkan kita akan bahaya kesombongan seperti ini dalam hidup beriman. Yesus tidak memberikan ruang bagi orang seperti ini. Ia bersabda, “Barangsiapa meninggikan diri ia akan direndahkan. Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 18:14).

Kita suka meninggikan diri, tetapi Tuhan sejatinya tidak menghendaki. Sebaliknya, Ia ingin supaya kita bersikap rendah hati. Semakin kita merendahkan diri, semakin Ia meninggikan kita di hadapan-Nya dan sesama.

Patut kita sadari bahwa sikap kesombongan ini tidak mengenal batas status, ruang dan tempat. Dalam Injil Lukas (18:9–14) hari ini, sikap sombong terjadi dalam diri kaum Farisi di dalam Bait Allah ketika sedang berdoa.

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:
“Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (Luk. 18:11–12).

Doa yang kita tahu sebagai aktivitas yang suci di hadapan Tuhan, ternyata bisa menjadi ternoda. Inilah daya kuat dosa yang menjerumuskan umat beriman.

Apa yang membuat doa ini menjadi tidak berkenan kepada Tuhan? Apakah seorang pendoa tidak boleh mengungkapkan hal baik yang dia terima dalam hidupnya, disyukuri kepada Tuhan dalam doa? Boleh. Kita mengenal doa syukur; mengucapkan syukur atas segala kebaikan dari Tuhan.

Kesalahan doa kaum Farisi ini ialah membanding-bandingkan dirinya; kebaikan, kesalehan, ketaatan beribadah dengan hidup pemungut cukai. Dengan demikian, bukan lagi hubungan dia yang intensif dengan Tuhan, tetapi telah berubah menjadi pamer bagi Tuhan.

Berbeda dengan dia, pemungut cukai berdoa dengan cara berdiri jauh-jauh dan memohon belas kasih Tuhan.

“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Luk. 18:13).

Doa bukan pamer. Doa sejati adalah luapan hati, syukur dan permohonan dari hati yang penuh percaya kepada-Nya. Langkah awal dalam doa adalah sikap rendah hati. Pendoa yang baik adalah dia yang selalu membuka hati pada Tuhan; membiarkan hatinya dibimbing oleh Roh Kudus.

Kita bersyukur dalam perayaan Ekaristi, pada awal kita diajak untuk hening sejenak menyiapkan hati dengan menyesali segala dosa dan kekurangan di hadapan Tuhan dan sesama.

Hal itu kita lakukan karena kita tahu bahwa kita mudah tergelincir dalam dosa, tetapi kita juga mengimani bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan pertobatan orang beriman yang mau kembali kepada-Nya dengan penuh penyesalan, sebab Ia sangat berkenan dengan belas kasih.

Mari, kita selalu merendahkan diri terutama dalam hidup doa. Memang godaan untuk terlihat saleh di hadapan sesama jauh lebih kuat mempengaruhi kehidupan Anda dan saya. Tetapi ingatlah satu hal ini, bahwa Tuhan tidak dapat ditipu.

Kalau kita selalu melihat diri paling benar, maka kita selalu melihat sesama serba salah. Kalau kita selalu merasa diri layak di hadapan Allah, maka ajakan Tuhan agar kita bertobat dari keangkuhan tidak akan pernah kita indahkan.

Bersama pemungut cukai, kita memohon:
“Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Doa

Allah Bapa yang Maha Pengasih, ampunilah kami jika sering kali kesombongan menutup mata hati kami sehingga kami merasa lebih baik dari sesama kami.

Kami menyadari bahwa segala kebaikan yang kami lakukan adalah berkat pertolongan rahmat-Mu semata, bukan karena kekuatan kami sendiri.

Ajarlah kami untuk memiliki hati yang remuk redam dan jujur di hadapan-Mu, sebagaimana pemungut cukai yang memohon belas kasih-Mu.

Jauhkanlah kami dari sikap menghakimi dan bantulah kami untuk selalu mengandalkan kerahiman-Mu dalam setiap langkah hidup kami.

Semoga kami pulang dari hadirat-Mu dengan hati yang telah dibenarkan dan dipenuhi oleh damai sejahtera-Mu yang sejati.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

Sahabatku yang terkasih, selamat Hari Sabtu, hari ke-22 Masa Prapaskah. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved