Minggu, 10 Mei 2026

Renungan Katolik Hari Ini

Renungan Katolik Kamis 19 Maret 2026, Seorang yang Tulus Hati

Mari simak renungan Katolik Kamis 19 Maret 2026. Tema renungan Katolik  “Seorang yang tulus hati”.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Renungan Katolik Kamis 19 Maret 2026, Seorang yang Tulus Hati
TRIBUNFLORES.COM / HO-BRUDER
Br. Pio Hayon, SVD. Mari simak renungan Katolik Kamis 19 Maret 2026. Tema renungan Katolik  “Seorang yang tulus hati”. 
Ringkasan Berita:
  • Tema renungan Katolik  “Seorang yang tulus hati”.
  • Renungan Katolik ada dibagian akhir artikel ini.
  • Renungan Katolik untuk hari Kamis Pekan IV Prapaskah, hari raya Santo Yusuf, Suami Maria, dengan warna liturgi putih.

Oleh: Bruder Pio Hayon SVD

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan Katolik Kamis 19 Maret 2026.

Tema renungan Katolik  “Seorang yang tulus hati”.

Renungan Katolik ada dibagian akhir artikel ini.

Renungan Katolik untuk hari Kamis Pekan IV Prapaskah, hari raya Santo Yusuf, Suami Maria, dengan warna liturgi putih.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Kamis 19 Maret 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 19 Maret 2026, Berjalan dalam Iman yang Tenang

Bacaan Pertama 2 Samuel 7:4-5a.12-14a.16

"Tuhan Allah akan memberikan Dia takhta Daud bapa-Nya."

Pada suatu malam datanglah firman Tuhan kepada Natan, “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman Tuhan: Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat istirahat bersama nenek moyangmu,

Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.

Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan ia akan menjadi anak-Ku.

Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 89:2-3.4-5.27.29
Ref. Anak cucunya akan lestari untuk selama-lamanya.

Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya, hendak menuturkan kesetiaan-Mu turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit.

Engkau berkata, "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku; Aku hendak menegakkan anak cucumu untuk selama-lamanya, dan membangun takhtamu turun-temurun."

Dia pun akan berseru kepada-Ku, "Bapakulah Engkau, Allahku dan gunung batu keselamatanku". Untuk selama-lamanya Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia, dan perjanjian-Ku dengannya akan Kupegang teguh".

Bacaan Kedua Roma 4:13.16-18.22

"Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham toh berharap dan percaya."
Saudara-saudara, bukan karena hukum Taurat Abraham dan keturunannya diberi janji bahwa mereka akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran atas dasar iman. Kebenaran yang berdasarkan iman itu merupakan kasih karunia belaka.

Maka janji kepada Abraham itu berlaku bagi semua keturunannya, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham.

Sebab di hadapan Allah Abraham adalah bapa kita semua, seperti ada tertulis, “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa.” Kepada Allah itulah Abraham percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang dengan firman-Nya menciptakan yang tidak ada menjadi ada.

Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham toh berharap dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, sebab Allah telah berfirman kepadanya, “Begitu banyaklah nanti keturunanmu.” Dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil Mzm 84:5
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Sang Raja kemuliaan kekal.

Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu, yang memuji-muji Engkau tanpa henti.

Bacaan Injil Matius 1:16.18-21.24a

"Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan."
Menurut silsilah Yesus Kristus, Yakub memperanakkan Yusuf, suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Sebelum Kristus lahir, Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf. Ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

Tetapi ketika Yusuf mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

Maria akan melahirkan anak laki-laki, dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Atau

Bacaan Injil Lukas 2:41-51a

"Yesus ditemukan orang tua-Nya di tengah para ahli kitab."
Tiap-tiap tahun, pada hari raya Paskah, orangtua Yesus pergi ke Yerusalem. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun, pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.

Seusai hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orangtua-Nya.

Karena mereka menyangka bahwa Yesus ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu baru mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan.

Karena tidak menemukan Dia, kembalilah orangtua Yesus ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari, mereka menemukan Yesus dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.

Semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan dan segala jawab yang diberikan-Nya. Ketika Maria dan Yusuf melihat Dia, tercenganglah mereka. Lalu kata ibu-Nya kepada-Nya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami?”

Lihatlah, Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu Yesus pulang bersama-sama mereka ke Nazaret.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

“Seorang yang tulus hati”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Santo Yusuf, orang yang sederhana dan rendah hati, dipanggil menempati peran yang sangat penting dalam rencana keselamatan: menjadi suami Maria dan ayah asuh Yesus. Ia bukan tokoh yang banyak berbicara di Injil, tetapi ketulusan hatinya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Pada hari ini kita merenungkan sikap Yusuf—ketaatan, kepercayaan, dan kelembutan—sebagai teladan bagi setiap orang yang dipanggil memikul tugas-tugas besar dalam keluarga dan Gereja.

Saudara-saudari terkasih. 

Dalam perikop ini (2Sam. 7:4-5a.12-14a.16), Allah menjanjikan kesinambungan kerajaan Daud—janji yang menunjuk pada kedatangan Mesias dari garis Daud. Janji ini memberi konteks tugas Yusuf dalam sejarah keselamatan. Dalam Roma (4:13.16-18.22) Paulus menampilkan iman Abraham: hidup berdasarkan janji Allah membutuhkan percaya pada hal yang tampak mustahil. Yusuf, seperti Abraham, dipanggil untuk beriman pada rencana Tuhan meski tak masuk akal secara rasional. Dan dalamm Injil (Mat. 1:16.18-21.24a) memperlihatkan kerendahan hati dan ketaatan Yusuf. Meski terguncang saat tahu Maria mengandung dari Roh Kudus, ia taat setelah malaikat menegaskan rencana Allah—ia menerima perannya sebagai pelindung dan pengasuh Yesus. Poin refleksi kita adalah “Ketulusan hati terlihat dalam ketaatan sederhana”: Yusuf tidak mencari kehormatan atau posisi: ia melakukan apa yang harus dilakukan—melindungi, menyediakan, menjadi ayah asuh—tanpa pamer. Renungkan tindakan-tindakan sederhana kita sehari-hari: apakah kita melakukannya karena kasih dan ketaatan, atau untuk pengakuan manusia? “Iman yang diamalkan ketika situasi tidak mudah”: Yusuf menghadapi situasi yang memalukan dan penuh teka-teki. Ia memilih percaya pada firman malaikat dan bertindak. Saat kita menghadapi kebingungan, pencobaan, atau keputusan sulit, apakah kita mau memilih iman yang konkret—mendengarkan Tuhan, lalu bertindak? “Pelayanan sebagai bentuk kasih yang realistis dan protektif”: Peran Yusuf sebagai pelindung keluarga kudus mengajarkan kita bahwa kasih sering kali berwujud dalam tanggung jawab yang tenang: bekerja, menyediakan, mempertahankan martabat orang-orang yang dipercayakan kepada kita. Renungkan bagaimana kita bisa menjadi pelindung kasih dalam keluarga, komunitas, dan Gereja—melindungi yang lemah, menjaga martabat, menanggung beban dengan kerendahan hati.

Saudara-saudari terkasih.

Pesan untuk kita, pertama,  santo Yusuf mengajarkan kita bahwa ketulusan hati bukanlah hal spektakuler di mata dunia, tetapi sangat berharga di mata Allah. Melalui ketulusan, ketaatan, dan iman yang sederhana, Yusuf turut mewujudkan rencana keselamatan. Kedua, marilah kita meneladani sikapnya: menjadi hamba yang setia, melakukan tugas-tugas kecil dengan kasih, dan berani percaya ketika Tuhan memanggil. Ketiga, semoga doa dan teladannya menguatkan keluarga-keluarga kita untuk hidup dalam ketulusan hati.   Tuhan memberkati kita semua. (Sumber the katolik.com/kgg).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved