Jumat, 8 Mei 2026

Unika Santu Paulus Ruteng

Kisah Prof Dr Maksimus Regus, Pernah Tidak Mau Pergi Sekolah, Mama Esi Marah

Uskup Labuan Bajo kini jadi Profesor. Lahir di Todo, 23 September 1973, menempuh pendidikan hingga doktor di Belanda

Tayang:
Penulis: Robert Ropo | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Kisah Prof Dr Maksimus Regus, Pernah Tidak Mau Pergi Sekolah, Mama Esi Marah
TRIBUNFLORES.COM/DOK ERIK RATU
ORASI ILMIAH - Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si saat membawakan orasi ilmiah pada acara pengukuhan guru besar di Unika Santo Paulus Ruteng, Manggarai, NTT, Jumat (8/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Lahir di Todo, 23 September 1973, menempuh pendidikan hingga doktor di Belanda (Tilburg University).
  • Dosen Unika Santu Paulus Ruteng, pernah menjadi Dekan FKIP dan Rektor, serta Uskup pertama Keuskupan Labuan Bajo (2024).
  • Dikukuhkan sebagai Guru Besar (2026) dan aktif menulis karya ilmiah serta analisis sosial-budaya.
 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Pada momen pengukuhan Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng yang berlangsung di Aula GUT Lantai 5 Kampus Unika Santu Paulus Ruteng, Jumat 8 Mei 2026 juga dibacakan riwayat hidup Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si

Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si lahir di Todo, 23 September 1973 dari pasangan Ibu Theresia Jaira (mama Esi) dan Ayah Viktor Regus (Bapak Viktor) dan  merupakan anak pertama dari lima bersaudara.

Pada tahun 1981-1986, Prof Maks menempuh pendidikan di SDI Woang, Ruteng. Prof Maks saat itu dikenal sebagai anak yang rajin, tekun, dan cerdas. Meskipun jarang belajar. Ia selalu mendapat predikat juara di kelasnya. 

Baca juga: Pengukuhan 2 Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng, Gubernur NTT Soroti Peran Ilmu dan Budaya

Mama Esi Marah

Suatu hari ketika berada di kelas III SD, pagi itu tiba-tiba saja tidak ingin pergi ke sekolah. Mama Esi, ibunya menjadi sangat marah lalu menyeretnya (sorok) dan memaksanya ke sekolah tetapi Mus kecil tetap tidak mau dan tangannya harus memegang rumput liar (remang legi) untuk menahan seretan.

Kemudian mama Esi memutuskan untuk menuruti keinginannya. Setelah kejadian itu ia bertumbuh dan berkembang sebagai anak mandiri, tenang, dan selalu rajin ke sekolah.

Prof Maks menyelesaikan pendidikan menengah (SMP-SMA) di Seminari Pius XII Kisol (1986—1992), kemudian melanjutkan studi Filsafat dan Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero (1993—1998), dan melanjutkan pendidikan teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero (1999-2021). 

Atas izin Tuhan, Prof Maks lalu ditahbiskan menjadi imam pada 10 Agustus 2001.

Kecintaannya pada ilmu pengetahuan menuntunya melanjutkan studi S2 dalam bidang Sosiologi di Universitas Indonesia (UI) dan melaksanakan penelitian di Institute of Social Studies, Rotterdam University, Netherlands.

Tidak berhenti di titik itu, Prof Maks kemudian melanjutkan Pendidikan ke jenjang berikutnya dan menyelesaikan studi doktoral di Graduate School of Humanities, Tilburg University, Netherlands dan kembali ke Indonesia untuk mengemban tugas sebagai pengajar dan peneliti di Unika Santu Paulus Ruteng. 

Di kalangan sejawat Prof Maks dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati, mengayomi, berintegritas, empati dan visioner. 

Baca juga: Profil Profesor Dr Sabina Ndiung, Anak Petani saat SMP Jalan Kaki 12 KM ke Sekolah

Dalam masa pengabdiannya di Unika santu Paulus Ruteng, Prof Maks pernah menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, (2019—2023), kemudian menjadi Rektor Unika Santu Paulus Ruteng (tahun 2023-2024), sebelum dipilih oleh Paus Fransiskus menjadi Uskup Pertama Keuskupan Labuan Bajo pada 21 Juni 2024. 

Meski telah terpilih sebagai Uskup Labuan Bajo, Prof Maks tetap menunjukan dan menjalankan pengabdiannya sebagai Dosen sehingga pada tanggal 1 Januari 2026 melalui SK Mentri Pendidikan tinggi, sains dan teknologi Ia secara resmi memperoleh jabatan akademik tertinggi yaitu Profesor/Guru Besar pakar sosiologi agama dan multikulturalisme. 

Selain melaksanakan darma Pendidikan beliau juga aktif menjalankan penelitian dan pengabdian dan telah menghasilkan sejumlah buku, karya akademik nasional maupun internasional. 

Dalam dua dekade terakhir sebagai intelektual publik, Prof Maks sudah menghasilkan paper seminar, ratusan analisis sosial, politik, budaya, agama pada sejumlah media massa nasional antara lain Media Indonesia, HU Kompas. Blog internasional terkemuka di bidang sosial, politik, Hak Asasi Manusia. (rob) 

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved