Rabu, 10 Juni 2026

Unika Santu Paulus Ruteng

Mahasiswa Unika Ruteng : Bahasa Asap Rokok Bagi Masa Depan Anak

bila merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga akhir 2025, prevalensi penduduk usia 18 tahun ke bawah yang merokok tembakau

Tayang:
Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Mahasiswa Unika Ruteng : Bahasa Asap Rokok Bagi Masa Depan Anak
TRIBUNFLORES.COM/HO-UNIKA SANTU PAULUS RUTENG
Robertus Engel Dino, Mahasiswa Unika Ruteng Manggarai 

Robertus Engel Dino 
Kelas : 2025 C
NPM :25106108
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 
Program ASNama: Robertus Engel Dino 
Kelas: 2025 C
Npm:25106108
Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan 
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 

TRIBUNFLORES.COM,RUTENG-Indonesia menjadi salah satu negara dengan populasi perokok muda terbesar di dunia. Melansir Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang dibuat oleh Kementrian Kesehatan RI, sepanjang tahun 2025, angka perokok anak dan remaja usia 10-18 tahun menyentuh angka 7,4 persen dari total perokok aktif di Indonesia.

Sedangkan, bila merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga akhir 2025, prevalensi penduduk usia 18 tahun ke bawah yang merokok tembakau mencapai angka 8,41 persen. Prestasi ini tentu tidak dapat dibanggakan bila melihat dampak buruk dari kebiasaan merokok. Kesampingkan dulu perihal pendapatan negara hasil pajak tembakau rokok atau proyeksi lapangan pekerjaan dari industri ini.

Hal yang lebih urgen sekaligus menjadi ironi dari persoalan merokok adalah saat generasi muda bangsa justru terlibat dalam kebiasaan buruk ini. Di jalan-jalan perkotaan dan bahkan sampai ke desa-desa, sangat mudah menjumpai pemandangan anak-anak di bawah usia delapan belas tahun yang merokok.

Parahnya lagi, fenomena ini seolah dianggap hal yang biasa oleh banyak orang, terutama oleh orang dewasa. Anak-anak tidak lagi takut untuk merokok di tempat umum karena orang dewasa pun telah memaklumi kebiasaan ini. 

Baca juga: Mahasiswa Unika Ruteng : Generasi Sekarang dan Tantangan Melestarikan Sastra di Era Digital

Padahal, dari studi klasik sekalipun telah membuktikan bahwa merokok dapat memengaruhi kesehatan tubuh seseorang.

Secara sederhana, dari ribuan zat berbahaya di dalam rokok, dua hal yang sangat memengaruhi kesehatan manusia, yakni nikotin yang bersifat adiktif  dan tar yang bersifat karsinogenik. Bagi tubuh yang masih dalam fase tumbuh kembang (remaja), zat-zat berbahaya di dalamnya bekerja jauh lebih agresif dibandingkan pada tubuh orang dewasa.

Nikotin yang masuk ke dalam sistem saraf remaja, misalnya, bukan hanya menciptakan ketergantungan fisik, tetapi juga mengubah cara otak berkembang, yakni dengan memengaruhi kemampuan konsentrasi, pengendalian emosi, dan pengambilan keputusan jangka panjang. Kerusakan ini tidak selalu tampak hari ini, tetapi tagihannya akan datang bertahun-tahun kemudian.

Selain itu, merokok dapat menyebabkan berbagai masalah pernapasan seperti bronkitis kronis, emfisema, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Tidak hanya bagi perokok aktif, orang-orang yang sering menghirup asap rokok pun tidak lepas dari ancaman kesehatan.

Sebab, paparan asap rokok secara terus-menerus akan merusak jaringan paru-paru dan mengganggu kemampuan paru-paru untuk berfungsi dengan baik. Melihat dampak buruknya bagi kesehatan manusia, lantas mengapa masih saja ada remaja yang merokok? Bukankah perilaku yang negatif, seperti merokok, akan secara otomatis dihindari oleh seseorang? 

Martin J. Jarvis, dalam penelitiannya berjudul Why People Smoke (2004), mengatakan bahwa kebiasaan merokok pada remaja tidak hanya dimulai karena keinginan sendiri, melainkan karena terpapar oleh lingkungan tempat ia berinteraksi.

Hal ini karena di lingkungan yang mayoritas individunya menganggap rokok sebagai simbol kedewasaan, keberanian, atau kebersamaan, seorang remaja akan terdorong untuk menerima nilai-nilai tersebut. Pada titik ini, makna rokok telah berubah menjadi simbol yang mewakili nilai-nilai maskulinitas yang sering didamba-dambakan oleh banyak remaja pria misalnya.

Selain itu, ketika iklan rokok – meski dikemas secara terselubung – terus menjangkau layar gawai anak muda, dan ketika orang dewasa di sekitar mereka merokok tanpa merasa perlu menyembunyikannya, maka larangan di atas kertas menjadi tidak lebih dari hiasan regulasi.

Oleh karena keadaan ini, tanggung jawab moral untuk melindungi remaja dari bahaya rokok tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada negara. Sebab, keluarga adalah garis pertahanan pertama dan yang paling menentukan. Itu artinya, orang tua yang merokok di depan anaknya, disadari atau tidak, sedang mengajarkan bahwa rokok adalah bagian normal dari kehidupan. Kebiasaan seperti inilah yang justru paling sulit dilawan oleh kebijakan mana pun.

Oleh karena itu, sudah waktunya masyarakat berhenti memandang rokok pada remaja sebagai masalah kecil yang akan selesai dengan sendirinya seiring kedewasaan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved