Cuaca Ekstrem di NTT
Waspada Cuaca Ekstrem, Pengaruh MJO dan Siklon Narelle Picu Hujan Lebat di NTT
Kombinasi faktor-faktor ini, kata dia menyebabkan peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah NTT.
Ringkasan Berita:
- Cuaca ekstrem di NTT dipicu oleh Monsun Asia, MJO, dan gelombang Equatorial Rossby yang meningkatkan pembentukan awan hujan.
- Ex-Siklon Tropis Narelle masih berpotensi berkembang kembali dan memengaruhi wilayah Samudra Hindia selatan Sumba.
- Risiko bencana meliputi hujan lebat, petir, angin kencang, banjir, dan tanah longsor; masyarakat diimbau tetap waspada.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon
TRIBUNFLORES.COM, KUPANG - Kepala Stasius Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenotek, mengungkapkan bahwa wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini tengah dipengaruhi berbagai dinamika atmosfer yang berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipicu oleh menguatnya Monsun Asia, serta aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer tipe Low, dan gelombang Equatorial Rossby.
Kombinasi faktor-faktor ini, kata dia menyebabkan peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah NTT.
Selain itu, lanjut kata dia pengaruh sistem siklon juga turut berperan. Siklon Tropis Narelle yang sebelumnya berkembang dari bibit siklon tropis 96P pada 17 Maret 2026, kini telah melemah menjadi Ex-Siklon Tropis setelah berada di daratan utara Australia.
Sistem tersebut mulai memasuki wilayah pemantauan TCWC Jakarta sejak 21 Maret 2026.
Baca juga: Cuaca Sepekan ke Depan Cendrung Kondusif, BMKG: Waspada Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Indonesia
Berkembang Kembali
"Dalam 24 jam ke depan, Ex-Siklon Tropis Narelle masih memiliki potensi sedang untuk berkembang kembali menjadi siklon tropis dan bergerak ke arah barat hingga barat daya. Sementara dalam 48 jam ke depan, potensi penguatannya menjadi tinggi di wilayah Samudra Hindia selatan Sumba," jelasnya kepada POS-KUPANG.COM, Senin 23 Maret 2026.
Lebih lanjut, menurut Sti kondisi kelembapan udara di lapisan atmosfer 850 hingga 500 mb terpantau cukup tinggi, yakni berkisar antara 50 hingga 90 persen.
Hal ini mendukung pertumbuhan awan hujan secara vertikal yang dapat memicu intensitas hujan lebih tinggi.
Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
Kondisi ini berisiko menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, serta gangguan aktivitas akibat angin kencang.
Sti mengingatkan warga, khususnya di wilayah rawan bencana, untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca terkini dan mengambil langkah antisipasi guna mengurangi risiko dampak yang ditimbulkan.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News