Tour De EnTeTe 2025
Jannes Eudes Wawa: PON Harus Jadi Momentum Dongkrak Pariwisata NTT
Akademisi dan pegiat olahraga Sepeda, Jannes Eudes Wawa, menilai penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Nusa Tenggara Timur (NTT)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Jannes-Eudes-Wawa-Akademisi-dan-pegiat-olahraga-Sepeda.jpg)
Laporan reporter POS-KUPANG. COM, Tari Rahmaniar Ismail
POS-KUPANG.COM, KUPANG – Akademisi dan pegiat olahraga Sepeda, Jannes Eudes Wawa, menilai penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Nusa Tenggara Timur (NTT) harus dipandang sebagai momentum strategis untuk mengangkat pariwisata sekaligus ekonomi masyarakat.
Menurut Akademisi dan pengamat olahraga NTT, Jannes Eudes Wawa pengalaman sejumlah provinsi yang gagal mengelola fasilitas olahraga pasca PON perlu menjadi bahan refleksi agar NTT tidak mengalami hal serupa.
“Setelah kita terima menjadi tuan rumah, pertanyaan mendasar adalah apa konsep PON untuk NTT? Hampir semua daerah gagal mengelola fasilitasnya setelah PON selesai. Hanya Palembang yang berhasil menjadikan PON sebagai titik tolak kemajuan,” ujar Jannes saat diwawancarai POS-KUPANG.COM, Kamis (4/9).
Baca juga: Diskusi Publik Pengembangan Geothermal di Flores Warnai Dies Natalis Undana
Ia juga mencontohkan Kota Palembang yang berhasil membangun infrastruktur olahraga, mendatangkan investasi hotel berbintang, hingga mengelola stadion secara berkelanjutan pasca-PON.
“Palembang bahkan mampu jadi tuan rumah SEA Games setelah sukses dengan PON. Itu membuktikan event olahraga bisa mendorong wisata dan pembangunan daerah,” ungkapnya.
Jannes Eudes Wawa, mengusulkan agar penyelenggaraan PON di NTT tidak hanya terpusat di satu kota, melainkan didistribusikan ke tiga pulau besar, yakni Flores, Timor, dan Sumba.
“Misalnya cabang tinju bisa ditempatkan di Ende atau Bajawa, basket di Maumere, sepak bola di Kupang, dan cabang lainnya di Sumba. Dengan begitu, fasilitas olahraga yang dibangun tidak akan terbengkalai karena bisa dipakai untuk kejuaraan-kejuaraan nasional atau internasional setelah PON selesai,” ujarnya.
Menurut Jannes yang juga merupakan pegiat olahraga sepeda sistem terdistribusi ini juga dapat menjadi strategi untuk mempromosikan destinasi wisata di seluruh NTT.
“Kalau event hanya di satu kota, yang berkembang hanya kota itu. Tapi kalau terdistribusi, orang akan datang ke berbagai kabupaten, dan otomatis pariwisata ikut terdongkrak,” ujarnya.
Selain itu, PON juga harus diarahkan untuk membuka peluang usaha bagi generasi muda.
“Event olahraga besar seperti ini bisa melahirkan banyak usaha baru, dari transportasi, kuliner, hingga jasa manajemen event. Ini bisa mengurangi ketergantungan anak muda pada pekerjaan PNS dan menekan angka pengiriman tenaga kerja ke luar negeri,” ujar Jannes.
Menurutnya, anak muda NTT memiliki semangat, tetapi kurang mendapat arahan untuk berwirausaha.
“Kalau ada event sebesar PON, mereka bisa didorong untuk menekuni peluang usaha. Ini kesempatan yang harus dimanfaatkan,” tegasnya.
Jannes mengatakan untuk agar PON di NTT memberi dampak jangka panjang maka perlu merumuskan konsep jelas sehingga Pemerintah perlu membuat konsep PON yang terintegrasi dengan rencana pembangunan pariwisata dan ekonomi.
"Distribusi Venue Olahraga, jadi cabang olahraga harus dibagi ke beberapa pulau agar infrastruktur merata dan pariwisata terangkat," ungkapnya.
Ia juga mengatakan pentingnya manajemen Pasca PON yang membuat fasilitas olahraga harus dikelola secara profesional setelah PON, misalnya dengan menjadikannya venue tetap untuk liga nasional.
Selain itu mendorong keterlibatan UMKM dan anakk muda yang dapat memberi ruang bagi pelaku UMKM dan wirausaha muda untuk terlibat, sehingga ekonomi rakyat ikut tumbuh.
"Promosi NTT melalui Spot Tourism yang menjadikan PON sebagai pintu masuk promosi wisata olahraga, seperti balap sepeda, maraton, hingga tinju profesional," ujarnya.
Menurutnya Tour De NTT menjadi langkah awal untuk mempersiapkan PON, serta PON ini bukan sekadar lomba olahraga, tapi momentum emas untuk mengubah wajah NTT.
"Kalau dikelola baik, dampaknya bisa panjang, tidak hanya saat event berlangsung,” ungkap Jannes. (Iar)
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
| Diskusi Publik Pengembangan Geothermal di Flores Warnai Dies Natalis Undana |
|
|---|
| Pekerja Rentan Kota Kupang Terima Kartu BPJS Ketenagakerjaan dan Buku Rekening Bank NTT |
|
|---|
| Khumaira M. Badu, Salah Satu Wasit Bulu Tangkis Perempuan Asal NTT |
|
|---|
| DPRD Ngada Dukung Pelaksana Tour de EnTeTe, Ajang Promosi Ngada ke Mata Internasional |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.