Selasa, 9 Juni 2026

Berita TTU

Eka Ho’e, Ritual Sakral Suku Uspupu di TTU NTT Menyapa Leluhur dan Alam

Beberapa diantaranya tidak mengenal alas kaki. Hal yang cukup biasa bagi masyarakat setempat. Tempat itu biasa disebut "Bale Naek Banuan”.

Tayang:
Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Eka Ho’e, Ritual Sakral Suku Uspupu di TTU NTT Menyapa Leluhur dan Alam
TRIBUNFLORES. COM/HO-WARGA
RITUAL EKA HO'E - Tetua adat dan masyarakat setempat berkumpul di sekitar lokasi pelaksanaan Ritual Eka Ho'e di Desa Banuan, Kecamatan Insana Fafinesu, Kabupaten TTU, NTT, Februari 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Ritual Sakral Suku Uspupu, Dilaksanakan setiap tahun di Bale Naek Banuan dan Batu Pamali, dipimpin tetua adat Suku Uspupu.
  • Tujuan dan Makna, Memohon restu leluhur agar tanaman terlindungi, hasil panen melimpah, dan masyarakat sejahtera.
  • Tradisi Sebelum Santap Jagung, Menjadi ritual wajib sebelum masyarakat menyantap jagung pertama kali (Tah Feu), menegaskan penghormatan pada alam dan leluhur.

TRIBUNFLORES.COM, KEFAMENANU - Rintik hujan baru saja berlalu. Puluhan warga Desa Banuan bergegas ke lokasi tempat sakral yang dipercaya masyarakat setempat sebagai lokasi pelaksanaan ritual. Para tetua adat mengenakan kain tenun khas masyarakat setempat.

Beberapa diantaranya tidak mengenakan alas kaki. Hal yang cukup biasa bagi masyarakat setempat. Tempat itu biasa disebut "Bale Naek Banuan”.

Lokasi ini masuk dalam wilayah Otonomi Desa Banuan, Kecamatan Insana Fafinesu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka membawa perlengkapan masing-masing seperti tempat siri pinang dan peralatan lainnya.

Mereka kemudian berkeliling di sebuah tempat ritual dimana di sekitar lokasi itu, tersusun sejumlah batu alam. Tempat tersebut merupakan tempat sakral dalam kepercayaan masyarakat setempat.

Baca juga: Pelajar Tewas Akibat Lakalantas di TTU Pulang Foto-foto di Bukit Bijaesunan

Doa Bahasa Dawan

Sebelum ritual di mulai, seorang tua adat dari Suku Uspupu didampingi beberapa tua adat dari suku berbeda mendaraskan mantera atau doa pembuka dalam bahasa Dawan. Setelah itu, mereka kemudian melaksanakan beberapa tahapan ritual di tempat.

Masyarakat setempat sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang kental. Mereka hidup dalam tatanan struktur adat dan kebudayaan yang masih terpelihara hingga detik ini.

Seluruh rangkaian ritual adat ini disebut, Eka Ho'e. Ritual Eka Ho'e merupakan salah satu ritual yang wajib dilaksanakan Desa Banuan.

 Ritual ini biasanya dilaksanakan sebelum ritual santap jagung perdana. Ritual ini dikenal sakral oleh masyarakat setempat. Menariknya, Ritual Eka Ho'e ini hanya bisa dilakukan oleh satu suku di Wilayah Insana Fafinesu yakni Suku Uspupu.

Masyarakat setempat, mengenal ritual ini sebagai ritual yang wajib dilaksanakan setiap tahun. Ritual ini hanya dilakukan di satu tempat yang disebut Batu Pemali (batu larangan) yang berada di sekitar wilayah Desa Banuan, Kecamatan Insana Fafinesu.

"Batu larangan atau batu pamali ini merupakan tempat ritual ada milik Suku Uspupu," ujarnya, Kepala Desa Banuan, Agustinus Manbait, SE, Selasa, 17 Februari 2026.

Ia menuturkan, Suku Uspupu yang selalu membuka pelaksanaan kegiatan ini dengan membaca mantra atau doa khusus yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur mereka mereka di setiap generasi. Tetua Adat Suku Uspupu juga yang memimpin langsung pelaksanaan ritual itu.

Mantra atau doa khusus ini dilafalkan di Batu Pamali atau tempat sakral ini. Para tetua adat, tokoh masyarakat, tokoh adat, aparat desa setempat dan masyarakat Desa Banuan berbondong-bondong ke lokasi ritual untuk melaksanakan maupun menyaksikan proses tersebut.

Ritual Eka Ho'e dilaksanakan di lokasi yang disebut “Bale Naek Banuan”. Bale Naek Banuan merupakan lokasi sakral. Pada umumnya, para tetua yang hadir dan mengikuti ritual ini adalah mereka yang berdomisili dan mengolah lahan di atas Tanah Ulayat Suku Uspupu.

"Tanah yang dijaga bukan hanya dengan pagar, tetapi dengan sumpah adat," ungkapnya.

Ritual ini dilaksanakan untuk memohon kepada leluhur agar tanaman di kebun yang baru dijauhkan dari hama, musibah, bencana alam, serta semua komoditas bisa memberikan hasil yang maksimal. Ritual ini merupakan permohonan agar masyarakat diberikan kemakmuran dan kesejahteraan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved