Berita Manggarai

Nuansa Budaya Manggarai Warnai Misa Buka Tahun Pariwisata Holistik di Paroki St. Klaus Kuwu

Alunan gong dan gendang yang dipadu dengan organ modern mengantar umat untuk khusuk bersujud syukur pada Tuhan.

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES/HO PAROKI ST KLAUS KUWU
MISA - Suasana misa di Paroki St Klaus Kuwu. Tanda membuka dimulainya tahun pariwisata holistik tingkat paroki St Klaus, Minggu 6 Februari 2022. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Pastor Paroki bersama dengan rekan pastor, Dewan Pastoral Paroki, dan Komunitas Biara serta seluruh umat paroki St Klaus Kuwu, Kevikepan Ruteng, Kabupaten Manggarai, secara resmi membuka tahun pariwisata holistik dengan perayaan Ekaristi yang kental dengan nuansa budaya Manggarai.

Kegiatan ini bertempat di Gereja Paroki St Klaus Kuwu, Minggu 6 Januari 2021.

Alunan gong dan gendang yang dipadu dengan organ modern mengantar umat untuk khusuk bersujud syukur pada Tuhan.

Misa dimulai dengan pekikan 'renggas' oleh grup ronda paroki di depan halaman gereja sesaat sebelum perarakan masuk.

Baca juga: Menikmati Alam dan Sunset di Tempat Wisata Gua Maria Golo Renda Kuwu

 

Grup ronda dengan pakaian adat Manggarai yang lengkap dan sempurna mengantar tiga imam konselebran masuk ke dalam gereja.

Ketiga imam, Romo Gabriel Harim, pastor paroki St.Klaus Kuwu, Romo Ardus Endik, pastor rekan paroki St Klaus Kuwu dan Romo Dr Inosensius Sutam tampil sangat khas Manggarai hari ini.

Romo Ino Sutam sebagai konseleberan utama memimpin perayaan Ekaristi dengan bahasa Manggarai yang khas dan kental. Penuh dengan syair-syair adat dan budaya yang memiliki makna yang mendalam dan tajam.

Berdasarkan rilis yang diterima TRIBUNFLORES.COM, Senin 7 Frebuari 2022, Saat berkotbah, Romo Ino, menguraikan secara etimologis Tahun Pastoral Pariwisata Holistik dalam bahasa Manggarai. Sehingga menjadi praktis dan mudah ditangkap serta dipahami oleh ratusan umat yang hadir saat misa itu.

"Saat berwisata, kita pergi untuk kembali. Kembali ke rumah kita sendiri",ujarnya.

Baca juga: Jimi Carvalo Bahagia, Mahasiswa Akper Lela di Maumere dapat Beasiswa Ikatan Dinas

Pada bagian lain khotbahnya, imam lulusan Prancis itu menguraikan makna 'wuat wa'i' dalam kehidupan orang Manggarai. Karena kaki yang digunakan untuk berjalan maka kita memiliki ritus 'wuat wa'i'.

Dan perjalanan itu hendaknya bernilai positif. Baik untuk diri sendiri, sesama maupun lingkungan. Bukan perjalanan yang bernilai negatif seperti mencuri dan tindakan negatif lainnya.

Saat perarakan persembahan, Maksimus Kaus, tua gendang Kuwu membawakan torok tae yang indah, apik dan menyentuh hati.

Sesaat sebelum ritus penutup, Romo Gabriel Harim memukul gong sebagai tanda dimulainya tahun pariwisata holistik tingkat paroki St Klaus.

Untuk diketahui, Paroki St Klaus Kuwu berada di Desa Poco Likang, Kecamatan Ruteng, meliputi lima desa yakni Bea Kakor, Kakor, Benteng Kuwu, Compang Namut dan Poco Likang. Umatnya tersebar di sembilan wilayah dengan 68 Komunitas Basis Gerejani. (*)

Berita Manggarai Lainnya

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved