Berita Maumere
Dr. Zainal Abidin Bagir Sebut Indeks Kebebasan Beragama di Indonesia Menurun
Keynote speaker dalam seminar itu ada beberapa orang, satu diantaranya adalah Dr. Zainal Abidin Bagir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Suasana-seminar-nasional-di-STFK-Ledalero-Kabupaten-Sikka.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Nofri Fuka
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero menggelar seminar nasional bertajuk Kebebasan beragama dan keyakinan.
Seminar nasional itu merupakan rangkaian kegiatan pertemuan sekolah tinggi yang tergabung dalam Asosiasi Filsafat dan Teologi Indonesia (AFTI).
Seminar berlangsung di Aula St. Thomas Aquinas STFK Ledalero, Jumat 4 Maret 2022.
Baca juga: STFK Ledalero Gelar Seminar Nasional, Ini yang Dibahas
Keynote speaker dalam seminar itu ada beberapa orang, satu diantaranya adalah Dr. Zainal Abidin Bagir.
Dr. Zainal menyebutkan akhir-akhir ini fenomena intoleransi, radikalisme, berkembang di Indonesia, meskipun itu bukan hal yang baru.
Dr.Zainal dalam materinya dengan tema realitas kebebasan beragama
dan berkeyakinan dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia yang multi-agama: peluang dan Tantangan, menyebutkan, kebebasan beragama di Indonesia akhir-akhir ini mengalami penurunan.
"Belakangan ini ada kekhawatiran yang kerap diungkapkan sebagai meningkatnya intolerasi, radikalisme, atau ancaman terhadap Pancasila, NKRI, dan sebagainya. Sebagian dari kenyataan ini merupakan fenomena baru, dan akan lebih baik jika dijelaskan dengan merujuk pada konteks sosial-politik terdekat beberapa tahun terakhir ini. Meskipun demikian, penting juga diingat bahwa tantangan bagi pengelolaan persoalan kemajemukan di Indonesia sama sekali bukan hal baru. Presentasi ini ingin mengidentifkasi tantangan-tantangan spesifik kita pada saat ini, dan
untuk memahaminya dengan lebih baik, akan secara cepat juga melihat kembali ke sejarah," ungkap Dr. Zainal.
Baca juga: BREAKING NEWS : IRT di Manggarai Timur Habisi Nyawanya Sendiri, Polisi Ungkap Kronologinya
Ia memaparkan dalam laporan freedom house indeks kebebasan mengalami penurunan terkait kebebasan beragama di Indonesia.
"Jika kita perhatikan satu unsur saja, kebebasan sipil, dalam laporan Freedom House yang lebih terinci, akan tampak bahwa kebebasan tertinggi adalah terkait pers, kebebasan akademik, yang sesungguhnya kini juga menunjukkan tanda-tanda sedang turun . Sedangkan, skor terburuk adalah dalam hal kebebasan beragama atau berkeyakinan khusus tahun 2014-2019 mengalami penurunan ketimbang tahun-tahun sebelumnya,"ujar dia.
Dalam upaya menjaga keutuhan kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia mengemukakan Dr. Zainal memgemukakan 3 agenda.
"Agenda pertama, pengembangan KBB tidak hanya tergantung pada negara atau pemerintah, namun menuntut masyarakat sipil untuk juga berperan lebih besar. Agenda kedua, terkait posisi KBB apakah sebagai isu yang penting, hal ini perlu menjadi agenda kedua yang perlu dikembangkan. Isu-isu seperti ini mengisyaratkan KBB sebagai “work in progress”—ketika ia dirumuskan dalam
DUHAM 75 tahun lalu, dan kemudian berkembang dalam berbagai instrumen pada tahun 1960-1980an, kesadaran akan persoalan ini belum cukup kuat. Sedangkan agenda ketiga yakni pengkajian historis yang lebih mendalam mengenai sejarah HAM, khususnya ide mengenai KBB, di Indonesia. Kajian mengenai isu ini akan terkait pula dengan ide mengenai hubungan antara agama dan negara,"ujarnya. (Cr1).