Berita Maumere

Kisah Si Pandai Besi di Ngada Sekolahkan 5 Anaknya Jadi Sarjana

Pandai besi terkhusus pembuatan parang Bajawa, merupakan ilmu turun temurun dari keluarga Gregorius.

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM/PATRIANUS MEO DJAWA
AMPLAS - Gregorius Menge (62) mengamplas parang yang dibuatnya sendiri dari rumah produksi Mora Mai, di RT Waerama, Dusun Gisi Liba, Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.(Cr3) 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Patrianus Meo Djawa

TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA - Rumah pondok sederhana berlantai tanah dan beratap bambu di Waerama, Dusun Gisi Liba, Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, nampak sepi, Kamis 10 Maret 2022 siang.

Hanya Gregorius Menge (62) yang masih sibuk mengamplas beberapa bilah parang untuk siap dipasarkan di pasar Rakyat Malanuza, Mataloko, Sabtu akhir pekan ini.

Gregorius Menge merupakan seorang pandai besi. Profesi yang sudah digeluti Gregorius sejak tahun 1992 ini telah memberikan banyak kisah dalam hidupnya, baik tentang ekonomi keluaraga maupun tentang warisan ilmu turun temurun tentang pandai besi.

Baca juga: BREAKING NEWS: Pria di Manggarai Diduga Bacok Warga, Korban Dilarikan ke Rumah Sakit

 

Pandai besi terkhusus pembuatan parang Bajawa, merupakan ilmu turun temurun dari keluarga Gregorius. Dari Kakeknya, ayahnya dan kini menjadi profesi ini juga digeluti Gregorius.

Dibantu dengan dua orang adiknya Antonius Ratu dan Yosep Wudu, mereka bekerja memproduksi parang dirumah produksi Mora Mai yang lokasinya berada di belakang rumah Gregorius.

Menjadi seorang pandai besi bukanlah pekerjaan yang mudah untuk ditekuni. Selain karena profesi ini merupakan profesi langka, bahan baku utama pembuatan parang juga sulit di dapat.

Dari dua bahan baku utama pembuatan parang Bajawa yakni bekas plat pegas pada mobil dan plat bar mesin pemotong kayu, semuanya baru akan didapat jika ada pengepul barang bekas yang mengantar untuk dijual langsung kerumah produksi Mora Mai.

Baca juga: Polisi Beberkan Kronologi Kasus Penganiayaan Berat di Manggarai

Tantangan lain yang saat ini sedang dirasakan oleh Gregorius adalah pandemi Covid-19, dimana diakuinya membuat daya beli orang terhadap parang Bajawa menurun drastis.

Meski begitu, dari pekerjaan ini, pria yang hanya sempat mengenyam bangku kelas 4 SD ini ternyata mempu menyekolahkan ke 5 orang anaknya.

Kini, 4 orang anaknya sudah menjadi sarjana dan sudah bekerja. Sementara si bungsu saat ini sedang berkuliah di salah satu kampus di Kota Kupang.

Ada ketakutan dalam diri Gregorius tentang ilmu pandai besi yang hanya akan berakhir pada dirinya. Pasalnya, tak ada satu pun anak-anak Gregorius yang mau meneruskan keahlian turun temurun ini.

Gregorius sudah terlanjur percaya bahwa dengan pendidikan yang lebih baik, anak-anaknya kelak juga akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik pula dari dirinya. (Cr3).

Berita Ngada Lainnya

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved