Kamis, 16 April 2026

Lipsus Tribun Flores

Kisah Petani di Ende, Panen Ubi Nuabosi yang Kurus dan Busuk

"Saya harus kerja yang lain, tanam yang lain. Sudah tidak mungkin lagi saat ini harap pada Ubi Nuabosi," kata Om Bone.

Tayang:
Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Kisah Petani di Ende, Panen Ubi Nuabosi yang Kurus dan Busuk
TRIBUNFLORES.COM/ORIS GOTI
PANEN - Om Bone saat panen Ubi Nuabosi di kebunya di Desa Ndetundora II Kabupaten Ende, Maret 2022. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Oris Goti

TRIBUNFLORES.COM, ENDE - Jemarinya yang berurat terbalut tanah hitam. Om Bone kecewa mendapati Ubi Nuabosi, dalam kondisi 'kurus' dan busuk.

Om Bone tak putus asa. Dia kembali bangkit berdiri mencoba mencabut dan menggali beberapa pohon lagi, namun hasilnya sama saja. Dia kembali mendapati Ubi Nuabosi Kurus dan Busuk.

"Dulu Ubi Nuabosi itu besar. Panjangnya bisa enam puluh sentimeter. Diameter, bisa sepuluh sentimeter, cabang ubi berkisar empat atau lima. Tapi sekarang, ancur. besarnya hanya sebesar jempol kaki orang dewasa," kata Om Bone saat dijumpai TRIBUNFLORES.COM, Maret 2022.

Baca juga: Pelajar di Pedalaman Ende Menantang Sungai Demi Cita-cita: Pak Jokowi Tolong Kami

 

Om Bone lalu duduk, sembari genggam Ubi Nuabosi yang kurus dan busuk. Peluh mengalir perlahan di pipi, Om Bone masih duduk tenang mengamati Ubi Nuabosi. Bonafentura Beo, itu nama lengkap Om Bone, Warga Desa Ndetundora II.

Pria paruh baya ini petani tapi bukan akademisi - ahli pertanian. Mengamati Ubi Nuabosi yang 'kurus' dan busuk, Om Bone membayangkan hidup keluarganya bakal susah.

Yah, biaya sekolah anak - anaknya selama ini sebagian besar dari hasil menjual Ubi Nuabosi. Akan tetapi di awal tahun 2022 ini, Om Bone kehilangan pendapatan dari Ubi Nuabosi.

Om Bone punya dua lahan peninggalan leluhur di Desa Ndetundora II, luasnya jika digabungkan bisa mencapai setengah hektare. Lahan itu setiap tahun ditanami Ubi Nuabosi.

Om Bone tak mau berlama - lama meratapi keadaannya.

"Saya harus kerja yang lain, tanam yang lain. Sudah tidak mungkin lagi saat ini harap pada Ubi Nuabosi," kata Om Bone.

Baca juga: Mengenal Kampung Garam, Warisan Leluhur di Flores NTT

Om Bone memang seorang pekerja keras. Dia bisa bekerja apa saja asal halal. Mulai petani, pedagang hingga jadi kuli, tidak masalah bagi Om Bone, karena dia tidak ingin melihat anak - anak dan istrinya susah.

Dia juga bergegas menyiapkan lahan lain untuk ditanami sayuran dan kacang.

Sementara itu, Aurelia Rembu alami hal yang kurang lebih sama dengan Om Bone, pada musim tanam kali ini, hasil panen ubi dari kebunnya menurun hingga 60 persen.

Padahal, pada musim panen di tahun-tahun sebelumnya, dia bisa mendapatkan Rp 24 juta dari lahan ubi kayu seluas 2 hektar.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved