Berita Manggarai Barat
411 Jiwa di Manggarai Barat Terancam Pergerakan Tanah
Pergerakan tanah mengancam 411 jiwa warga Desa Persiapan Benteng Tado di Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/KAMPUNG-MUNTING.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Gecio Viana
TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO- Fenomena pergerakan tanah mengancam sebanyak 411 jiwa dari 114 KK Desa Persiapan Benteng Tado, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi NTT.
Pergerakan tanah ini telah dideteksi di desa yang dimekarkan dari Desa Nampar Macing itu sejak 2018, 2019, 2020, 2021 dan 2022.
"Ada 2 kampung, yakni Kampung Dange 52 kk dengan jumlah 186 jiwa dan Kampung Wae Munting ada 62 kk, jumlah 225 jiwa," kata Kkepala Dusun Tado, Mikael Agung, Minggu 27 Maret 2022.
Mikael menjelaskan, terdapat satu kampung lainnya, yakni kampung Mengkaleng yang memiliki 17 kk, namun tidak ada laporan dampak fenomena pergerakan tanah.
Baca juga: Polres Manggarai Barat Limpahkan Berkas Kasus Minyak Tanah
Tokoh masyarakat Kampung Wae Munting, Viktor Bitrudis (50) mengatakan, fenomena pergerakan tanah mengakibatkan sejumlah titik jalan kampung terbelah dan rumah warga yang rusak, bahkan hingga roboh.
Selama 5 kali pergerakan tanah yang terjadi usai hujan deras atau gempa bumi, sejumlah rumah warga akan mengalami kerusakan, bahkan roboh. Terdapat 2 unit rumah warga yang roboh dan 11 rumah lainnya mengalami kerusakan bervariasi.
"Paling parah yang roboh, ada rumah yang fondasi turun, lantai pecah, bangunan bergeser hampir roboh," jelas Viktor diamini Tua Golo Wae Munting, Daniel Labu (82) serta tokoh masyarakat lainnya.
Viktor menuturkan, fenomena pergerakan tanah pada 2018 lalu mengakibatkan 2 rumah warga di Kampung Wae Montong rusak. Pada 2019, lanjut Viktor, terjadi pergerakan tanah yang mengakibatkan beberapa titik jalan terbelah, namun tidak mengakibatkan kerusakan rumah warga. Kejadian tersebut sempat dilaporkan ke pemerintah, namun terkesan tidak mendapatkan respon.
Baca juga: Warga Nisar Tagih Janji Pemda Manggarai Barat Bangun Jembatan
"Karena hal itu (tidak direspon pemerintah), pada tahun 2020 terjadi lagi dan 1 rumah rusak dan 1 rumah roboh, kami tidak laporkan, karena tidak ada penanganan," katanya.
Pergerakan tanah selanjutnya terjadi pada tahun 2021, dan mengakibatkan 1 rumah warga roboh dan 3 rumah warga lainnya rusak.
"Dalam tahun itu kami laporkan ada 4 rumah terdampak, kami laporkan ke pemerintah desa, tapi tidak ada kelanjutan. Lanjutkan ke pemda via pesan WhatsApp, tapi tidak ada respon. Yang kami laporkan tambah di tahun sebelumnya, sehingga 6 rumah terdampak yang kami laporkan," katanya.
Sementara itu, pada Februari 2022, pergerakan tanah kembali terjadi dan mengakibatkan 5 rumah warga rusak.
"Pada 23 Februari 2022 merambah ke 9 rumah, termasuk 4 rumah di tahun sebelumnya. Total 11 rumah karena 2 rumah lainnya yang rusak di Kampung Denge," jelasnya.
Baca juga: Tanah Bergerak di Nampar Macing Manggarai Barat, 1 Rumah Rusak Berat 200 Jiwa Hidup Terancam
Warga terdampak saat ini memilih untuk tinggal di rumah tetangga atau membangun gubuk di kebun sebagai tempat tinggal