Breaking News

Berita Maumere

Cerita Yhos Pengrajin Parang di Sikka Warisan yang Terus Dilestarikan

Sejak tahun 2020, ia mulai bergelut sebagai pengerajin parang di kala waktu itu Pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM/HO-WARGA
PENGRAJIN PARANG - Yos sedang membuat parang, Kamis 7 April 2022. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Profesi pengrajin Parang sudah dikenal sejak dulu.

Namun kini keberadaan pangerajin Parang terlupakan seiring dengan banyaknya perkakas pabrik.

Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur keahlian dan ketrampilan menempa besi secara tradisional ini masih ditekuni segelintir orang.
Bahkan diwariskan turun temurun ke generasinya dan bertahan hingga kini.

Salah satunya,Yhos Bajo, pria asal Desa Watugong, Kecamatan Alok Timur, ini masih aktif memproduksi parang pajangan yang dilakukan di rumahnya yang terletak di kelurahan Waioti kecamatan Alok Timur.

Baca juga: Puluhan Pedagang Pasar Inpres Larantuka Bawa Barang Jualan ke Kantor Bupati Flotim

Meski berprofesi sebagai tenaga kontrak pendamping program keluarga harapan di dinas sosial kabupaten Sikka, namun tidak mengurangi niatnya untuk mengisi waktu libur untuk melanjutkan pekerjaan yang diwariskan orang tuanya yaitu menempa besi menjadi parang.

Sejak tahun 2020, ia mulai bergelut sebagai pengerajin parang di kala waktu itu Pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

"saya menggeluti profesi ini sebenarnya untuk mengisi waktu kosong saat liburan ketika virus Covid-19 melanda kabupaten Sikka waktu itu"katanya

Namun hingga saat ini, ia terus memproduksi parang karena pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang dilakukan dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ia mencari sendiri berbagai bahan baku yang digunakan. Mulai dari besi-besi bekas kendaraan berat hingga arang kayu jati. Menurutnya, bahan itu mampu menghasilkan proses pembakaran maksimal dan hasil produk berkualitas bagus.

Untuk memproduksi parang,Ia pun bekerja sama dengan kelompok pandai besi di desa Manubura kecamatan Nelle barat.

Baca juga: Siswa SD di Sikka Belajar dalam Ruangan Kelas yang Rusak

Dalam sehari Hasil produksi nya pun tidak banyak, karena proses produksi besi menjadi parang masih tradisional.

Ia berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib kelompok pengerajin parang di Desa Manubura kecamatan Nelle Barat karena mereka masih mempertahankan warisan budaya dan memproduksi parang masih manual atau secara tradisional.

"Tolong perhatikan kelompok pengerajin parang di Desa Manubura, mereka masih mempertahankan warisan budaya dan memproduksi parang masih manual atau masih tradisional" ungkapnya.

Berita Maumere lainnya

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved