Lakalantas di Pegaf Papua Barat
Kronologi dan Penyebab Lakalantas di Papua Barat, 18 Warga NTT Tewas
Sopir hilang kendali dan truk tidak bisa berhenti, sehingga langsung menghantam tebing dan terseret sepanjang enam meter.
Sementara, tiga korban lain telah dilarikan ke RS Pratama baru meninggal.
"Proses evakuasi para korban kurang lebih setengah jam," tuturnya.
"Kami berhasil evakuasi 13 jenazah ke RSUD Manokwari, dan satu diantaranya adalah anak-anak," tambahnya.
Ketua Ikantan Keluarga Flobamora (IKF) Papua Barat Papua Barat, Clinton Tallo mengaku, korban merupakan warga NTT. "Saat ini korban meninggal telah bertambah menjadi 18 orang," sebutnya.
Ia mengaku, para korban merupakan pekerja di tambang emas ilegal di Kabupaten Pegunungan Arfak.
"Seluruh korban kecelakaan maut yang terjadi di turunan Distrik Minyambouw, Pegunungan Arfak dini hari tadi adalah warga Flobamora," ungkapnya.
"Para korban ini semua masyarakat saya, mereka menambang emas dan mau pulang ke kota dengan truk."
Setelah teridentifikasi, lanjut Clinton, pihaknya bersama perusahaan akan membantu pemulangan jenazah ke kampung halaman masing-masing.
Baca juga: Penjelasan Ketua Flobamora soal 18 Warga NTT Tewas dalam Lakalantas di Papua Barat
"Tadi kami sudah bertemu keluarga dan perusahaan tempat mereka bekerja, mereka bersedia bertanggungjawab memulangkan jenazah ke kampung halaman," ujar Clinton.
Sebut 29 Penumpang
Sebelumnya, Ketua Kerukunan Flobamora Papua Barat, Clinton Tallo menyebut, total ada 29 orang penumpang dalam truk saat kecelakaan maut di Distrik Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, Rabu (13/4/2022) dini hari.
Sebanyak 18 warga Nusa Tenggara Timur (NTT) tewas dalam kecelakaan tersebut. Peristiwa nahas terjadi pukul 03.00 WIT.
Truk mengalami rem blong, lalu menabrak gunung di Kilometer 10 Pegunungan Arfak, ketika hendak ke pusat kota.
"Semua penumpang yang meninggal dunia ada 18 orang dan semua berasal dari NTT. Selain, itu, sisa penumpang masih dalam keadaan kritis," ujar Tallo, melansir Kompas.com.
Adapun daerah asal 18 warga NTT itu, di antaranya, 16 orang berasal dari Kabupaten Belu dan Malaka, satu orang dari Amarasi Kabupaten Kupang, dan satu orang dari Kabupaten Sikka.
"Semua warga merupakan pekerja tambang pada perusahaan di Manokwari," jelasnya.