Berita Sikka
Warga Kokowahor di Sikka Andalkan Air Hujan
Ketersediaan air minum bersih memenuhi kebutuhan hidup masih menjadi masalah yang tidak pernah tuntas dihadapi oleh masyarakat Kabupaten Sikka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/BAK-PENAMPUNG-AIR-HUJAN.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paulus Kebelen.
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE-Problema air minum bersih, salah satu kebutuhan dasat masih menjadi soal klasik yang tak pernah selesai dihadapi sebagian besar warga masyarakat di Kabupaten Sikka, Pulau Flores.
Keluhan kesulitan mengakses air bersih selalu terdengar. Warga Desa Kokowahor di Kecamatan Kangae tak jauh dari Kota Maumere masih mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Mereka terpaksa memanfaatkan air hujan untuk minum, mandi, dan mencuci lantaran belum ada sumber mata air maupun jaringan perpipaan yang masuk ke desa tersebut.
Warga desa itu, Nafia Lutguarda Densi (53) pada saat turun hujan mereka menampungnya ke dalam bak air dibangun di halaman rumah mereka.
Baca juga: Berburu Pakaian Bekas di Pasar Nita, Sikka
"Hampir semua warga punya bak penampung hujan. Kami gunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari," ujar Densi saat wartawan menyambangi rumahnya, Kamis 30 Juni 2022.
Ironisnya, ketika musim kemarau, warga harus merogoh kocek sebesar ratusan ribu rupiah hanya untuk membeli air dari pengusaha mobil tangki.
Densi mengaku, kebutuhan air bersih selama sebulan ketika musim kemarau bisa mencapai satu hingga dua truk tangki. Hal itu membuatnya kewalahan lantaran beban biaya hidup semakin tinggi.
"Kami antisipasi dari mobil tangki air. Di rumah ada tiga orang, satu bulan bisa lebih dari satu tangki," katanya.
Baca juga: Cerita Mama Vina, Jual Garam di Sikka hingga Mampu Dirikan Rumah dan Beli Sebidang Tanah
Menurutnya, salah satu kebahagiaan warga adalah musim hujan. Mereka tampak bahagia karena kebutuhan air dapat terpenuhi.
"Kebetulan kemarin hujan jadi kami langsung tampung," katanya.